Tuesday, February 26, 2013

Your Life is My Scenario [part 1-5]




1
      “annyeong haseo, dengan jung yoo ra?”
      “annyeong. ya ini saya. ini dengan siapa?”
      “saya dari perwakilan home production VAV. ingin memberitahukan bahwa review naskah yang anda kirim tidak lolos.”
      “... boleh saya tau apa alasannya?”
      “Karena anda belum cukup berpengalaman menulis naskah drama.”
      “walaupun naskah saya bagus? tanpa pengalaman saya tetap tidak akan diterima ?”
      “ehmm.. iya begitulah.”
      “bagaimana saya mau punya pengalaman kalo home production anda tidak memberi saya kesempatan?”
      “ehm... maaf tapi saya hanya bertugas menyampaikan ini kepada anda. annyeong.”
      ceklek.
      “sial...” aku merutuk sambil memukul pelan dinding kamarku. kemudian menghempaskan badanku ke kasur usangku. aku menatap langit-langit kamarku, teringat sesuatu..


      “kau tidak akan bisa menjadi seorang screenwriter.”
      “akan kubuat kau menarik ucapanmu kembali suatu hari nanti!!”
      Dia tersenyum sinis. menyeringai.
      Aku menghela nafas keras-keras, kemudian bangkit, berjalan menuju dapur, lalu membuat ramyun instan.
“uang jatah bulan ini sudah mulai menipis..  AARGGGGHHH!!!!!” aku berteriak frustasi, kemudian dengan rakus aku menyuapkan ramyun panas ke mulutku
“aahhh sial!! huhh haaahh...!” aku merutuk ramyun sialan ini. kalau dia hidup mungkin sudah protes padaku.
***
Aku memandang amplop cokelat berisi kertas review naskah ceritaku. berfikir akan mengirimkannya atau tidak. wanita muda di depanku memandangku bingung,
“ehm... jadi anda akan mengirimkannya atau tidak?” tanyanya tidak sabar menungguku menyerahkan amplop itu.
“ehm...” aku masih memandang amplop itu, berpikir. bagaimana kalau tidak diterima lagi? bagaimana kalau review ini disabotase orang kemudian dibuat dramanya tanpa seijinku? aku memutar bola mataku ke atas, mengerutkan bibir, menghela nafas, kemudian menunduk lemas.
“maaf, jika anda ragu silahkan pergi dulu karena yang lainnya sudah menunggu di belakang anda. datanglah jika sudah yakin. ” wanita itu tampak sangat kesal
aku menyerahkannya. “kirim ini...” kataku pelan.
wanita petugas pengiriman itu mengambil amplopku sambil mengerutkan bibirnya.
Aku tetap akan berusaha sampai kubuktikan perkataan lelaki sialan itu salah besar!! aku tersenyum, kembali bersemangat.
***
     
      “annyeong haseo. dengan jung yoo ra?” suara wanita terdengar
      “ye. siapa ini?” tanyaku masih setengah sadar. masih bergumul dengan guling.
      “saya perwakilan dari home production King.”
      “....” aku diam.
      “review anda lolos. bisakah anda datang besok ke kantor kami? CEO kami ingin langsung bertemu anda”
      Aku bangun, tertegun, mulutku menganga.
      “annyeong, yoo ra~ssi?”
      Aku tersadar, “emm... ye!! aku akan datang besokkkk!!!!” jawabku lantang sambil tersenyum. walaupun orang disana tidak bisa melihat senyum kebahagiaanku.
      “ye, hamsamida. annyeong.”


      ceklek.
      Seharian itu aku tidak berhenti tersenyum. aku tidak peduli orang menganggapku gila. hahahahahahahahaha.... akhirnyaa... akhirnyaaa!!!

***







      Dengan gugup aku berjalan memasuki pintu raksasa gedung itu. di dinding belakang meja resepsionis terpampang tulisan “KING”  besar dan berwarna emas.
      “annyeong haseo, ada yang bisa saya bantu?”
      “ehm.. saya ingin bertemu CEO,”
      “sudah membuat janji?”
      “sudah.”
      “tunggu sebentar.” kemudian wanita resepsionis itu terlihat menelepon, “silahkan naik ke lantai 15. CEO sudah menunggu anda.” resepsionis itu tersenyum
      “hamsamida!!” aku tersenyum lebar.
      Aku segera berjalan menuju lift besar, ada beberapa orang juga sedang bersamaku dalam lift itu. aku menekan tombol 15. Langsung bertemu CEO home production besar seperti King adalah impian setiap screenwriter.. aku mengangguk-anggukkan kepala, tersenyum bangga. Sampai pintu lift terbuka di lantai 15, aku segera keluar dan mencari jalan menuju ruang CEO. aku melihat di pojok, ada sebuah meja, seorang wanita sedang sibuk berada di depan komputernya.
      “Annyeong haseo, saya Jung Yoo Ra. bisakah saya bertemu direktur?“
      Wanita sekretaris itu memandangku, “oh.. tunggu sebentar.” kemudian menelepon, “direktur, Jung Yoo Ra sudah datang.. ye. saya mengerti pak.” dia terlihat meneutup teleponnya.
“Jung Yoo Ra~ssi, saya antar anda masuk.” wanita itu bangkit dari kursinya, mengantarkan saya masuk ke sebuah ruangan. setelah membuka pintunya dan mempersilahkan aku masuk, sekretaris itu pergi menutup pintu. aku masuk ke dalam ruangan itu degan gugup. ruangan itu terlihat sangat besar. desain interiornya tidak dibuat dengan sembarangan. semua barangnya terlihat mewah, khas kerajaaan eropa abad pertengahan. 

Kemudian aku melihat sesosok laki-laki tampan di depanku. dia CEO? terlihat terlalu muda untuk menjabat sebagai CEO.
“Annyeong Yoo Ra~ssi. silahkan duduk.” lelaki tampan itu menyuruhku duduk sambil tersenyum
Dengan gugup aku segera duduk di kursi yang juga terlihat mahal itu. Aku masih menatap takjub lelaki di depanku ini.
“Aku tau apa yang kau pikirkan nona... kau tidak percaya aku CEO di sini kan?” dia menatapku menggunakan mata tajamnya.
Aku terkesiap. lelaki itu bisa membaca pikiranku. “mianhe saesengnim.. aniyoo..” aku menjawab gugup.
Dia tertawa. “tenang Yoo Ra~ssi. aku tidak akan memakanmu. hahahahahaha...”
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal itu.
Lelaki itu mengulurkan tangannya, “Lee Woo Bin.”
Aku gugup, “annyeong...” aku menyambut uluran tangannya sambil tersenyum.
“oke, kita langsung ke intinya. Aku tertarik dengan review naskahmu. Kau akan kami kontrak sebagai screenwriter, dan mulai bekerja besok pagi.”
“besok pagi?” aku memandangnya bingung
“ya. besok berikan naskah lengkapnya kepadaku. dan ngomong-ngomong aku sudah memilih cast sebagai main role di drama mu itu, sebagai park yu bin.”
Aku menatapnya, “siapa yang anda pilih?”
“Kim Bae Soo.”

“Kim bae soo?” aku memutar bola mataku, mengingat sesuatu. kemudian aku terhenyak. “Kim Bae Soo yang itu?” aku menatapnya bingung
“Iya yang itu.” direktur Woo bin tertawa mendengar pertanyaanku, “kau pasti tahu dia. dia sering bermain drama. kemarin dia memerankan figuran di drama sky fall”
Aku masih terkejut. “kenapa anda memilih dia untuk memerankan yubin?”
“Dia memiliki bakat besar, tapi belum ada sutradara yang membuatnya menjadi pemeran utama. aku ingin mencoba bekerjasama dengannya.” direktur woobin meyandarkan kepalanya di kursi kerjanya sambil menatap serius padaku.
Aku menunduk, lelaki sialan itu... kenapa aku harus bertemu lagi dengannya.. jika aku menolaknya itu bukan hal tepat untuk dilakukan sekarang, direktur woobin memilihnya secara pribadi. aku menghela nafas
“kenapa Yoora~ssi? kau tidak suka?” perkataannya menyadarkan lamunanku.
“Aniyo... baiklah. bae soo akan memerankan park yu bin.” aku memandangnya sambil tersenyum datar.
“oke, kalo begitu pertemuan pertama kita sudah selesai, datanglah besok. agar kita segera melakukan proses castingnya.”
      “ye, direktur. ehm.. boleh saya tahu, mengapa seorang CEO seperti anda ingin turun langsung sebagai sutradara sebuah drama?”

      Dia tertawa. “aku ingin merasakan langsung bagaimana membuat sebuah karya. aku bosan hanya duduk di ruangan ini dan tidak melakukan apa-apa sementara banyak hal yang bisa kupelajari di luar sana.” jawabnya sambil tersenyum.
      Aku tertegun mendengar jawabannya. kemudian aku tersenyum sambil bangkit dari kursiku, kemudian pamit, dan keluar ruangan. Bukan sebuah awal yang buruk. CEO woo bin terlihat orang yang baik, aku akan mudah bekerja sama dengannya. aku tersenyum. saatnya melakukan sesuatu dengan bae soo.aku mempercepat langkahku agar segera sampai ke rumah.
***

      Aku termenung malam itu di dalam kamarku.. memandang tumpukan naskah yang telah selesai kucetak. aku mengubah sedikit alur ceritanya. aku mengubahnya khusus untuk mantan musuh masa laluku itu.. aku ingin memberi pelajaran padanya atas apa yang di lakukan dulu padaku..

      “yoora~ssi.. club menulis kita akan ditutup ketua komite siswa!!” minkyung mneyapaku pagi itu dengan berita buruk
      Aku terkejut.. “kenapa??” aku mengguncang-guncangkan bahu minkyung
      “aku tak tau yoora~ssi....” minkyung terlihat sedih
      Aku langsung berlari ke ruang komite siswa, aku langsung menerobos masuk. dan disana terlihat ketua komite siswa sedang duduk di mejanya.
      “Apa kau tidak punya sopan santun? bisakah kau mengetuk dulu? ada pintu disana.” dia memandangku tajam
      “Sunbaenim, kenapa kau menutup club menulis kami?”  aku memanggilnya sunbaenim karena dia lebih senior dibandingkan aku.
      Dia menatapku tajam, “club itu tidak berguna... aku harus menutupnya.”
      “Tapi sunbae, bagaimana nasib anggota kami?” aku menaikkan nada suaraku
      Dia tertawa, kemudian tawanya lenyap digantikan ekspresi jahat, “kau tidak akan mau mempertahankan sebuah club jika hanya punya anggota 3 orang di dalamnya. aku yakin keputusanku ini adalah keputusan yang tepat.”
      “Bae soo sunbae..!! aku mohon...”
      “keluarlah.. aku tidak punya waktu mendengarkan omong kosongmu.” katanya tanpa melihatku

      “Kau tidak punya perasaan sama sekali...!!” nada suaraku terdengar sangat kesal
      Bae soo menatapku tajam, kemudian dia bangkit dari duduknya, menghampiri tempatku berdiri, mendekatkan kepalanya di telingaku,
      “kau tidak akan bisa menjadi seorang screenwriter.”
      “akan kubuat kau menarik ucapanmu kembali suatu hari nanti!!”
      Dia tersenyum sinis. menyeringai.
      Dan saatnya sekarang, akulah yang sedang tersenyum sinis menyeringai untukmu, kim bae soo. aku menyeringai jahat.
***




      Besok paginya aku pergi bertemu direktur woo bin lagi membawakannya setumpuk penuh naskah buatanku. Kemudian direktur terlihat membolak-balik halamannya, kemudian membacanya selama beberapa menit, aku menunggu tanggapannya.
      “yoo ra~ssi. jadi kita harus melakukan casting untuk 3 orang supporting role? dan...” dia membalikkan halaman selanjutnya, “pemeran park yu bin harus bisa memainkan saxophone?” direktur mengerutkan dahinya
      “ya.. sebagai tokoh agen rahasia yang memiliki karakter playboy, dia harus bisa memainkannya beberapa keahlian, misalnya saxophone, gitar, piano, bela diri, menembak, dan lainnya.” aku tersenyum
      “tapi aku tidak tahu apakah bae soo bisa memainkan itu semua.”

      “kita bisa membuatnya berlatih sebelum proses syutingnya dimulai... dan jika dia aktor profesional dia pasti bisa melakukannya.” jawabku, senyumku makin lebar
      “kau orang yang optimis Yoora~ssi...” direktur woo bin memandangku sambil tersenyum.
      “aku memang tipe orang seperti itu, saesengnim...” aku masih tersenyum
      Kena kau bae soo.. hahaha...!!

***

ost: 2NE1-Ugly



2
      “yoora~ssi, aku sudah mendapatkan pemeran-pemeran lainnya.besok kita akan melakukan reading bersama. besok kau harus datang.”
      “ehm.. bisakah aku datang ketika proses pengambilan gambar?”

      “tidak. besok kau harus datang juga. kau penulis skenarionya, kau bisa memberi saran jika mereka berperan tidak sesuai dengan keinginanmu.”
      “oke...”
   Aku tidak ingin bertemu dulu dengan bae soo. ini terlalu dini untuk menujukkan diriku kepadanya. aku ingin bermain-main lebih lama lagi sebelum dia mengetahui siapa orang yang sedang mempermainkannya. semoga dia tidak mengingatku.

***

      Besok paginya aku pergi ke gedung KING, merasa was-was sekaligus antusias menghadapi tim proyek drama pertama ku ini. Di dalam ruangan, aku sudah melihat banyak kru, aktor, dan aktris sedang ramai duduk di kursinya masing-masing mengelilingi meja besar berbentuk oval. di ujung sana aku melihat direktur woobin sedang melambaikan tangannya menyuruhku agar duduk di sampingnya. aku datang menghampirinya kemudian duduk di sampingnya.
“Annyeong. saya Lee Woo Bin, sutradara yang akan bertanggung jawab dalam pembuatan drama “Fly High Agent.” dan di samping saya ini screenwriter drama ini, Jung Yoo Ra. dan selamat datang kepada kru dan pemeran yang telah terpilih, semoga kita bisa bekerjasama dengan baik.”  Direktur woobin membuka pertemuan itu kemudian disambut tepuk tangan semua yang hadir dalam ruangan itu.


Tiba-tiba pintu terbuka, dan sosok lelaki tampan muncul sambil tersenyum. “Bae soo..” aku menggumam sangat pelan. Bae soo duduk di sisi samping lainnya direktur woo bin.
“oke silahkan dibuka script yang telah dibagikan tadi,  kita mulai perkenalkan pemeran utama drama ini dulu, sebagai Park Yu Bin adalah Kim Bae Soo..” kata direktur sambil menunjuk kim bae soo.

Kim bae soo menunjukkan senyumnya. “Annyeong haseo.”
Lelaki itu tahu senyumnya mematikan. tapi jika aku melihat sikap busuknya, senyumnya itu akan ikut berbau busuk.. aku mengumpat dalam hati.
“kemudian.. ada pemeran gyuri, shin min hyuk. lalu ada pemeran .....”
Setelah acara perkenalan itu, kami memulai proses reading. setelah selesai, direktur woo bin menyuruhku untuk membicarakan lebih lanjut drama kami. namun ketika kami di dalam ruangan direktur, Disana sudah ada bae soo. dia sedang duduk di sofa dengan santai, sambil memegang script.
“kau disini? eh kau belum sempat berkenalan dengan screenwriter kita kan?”
“annyeong haseo, kim bae soo.” dia berdiri kemudian mengulurkan tangan sambil tersenyum. senyum khasnya.
Aku tertegun, dia tidak ingat? dia tidak mengenaliku?? “ehm.. aku jung yoo ra.”
Dia masih tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya ke direktur. “Woo bin hyung, ada yang ingin kutanyakan.” dia kembali duduk. aku heran. kenapa dia memanggil direktur dengan hyung? apakah hubungan mereka lebih dekat dari perkiraanku?
“apa?” direktur ikut duduk di sampingnya. aku juga ikut duduk disampingnya. masih heran, apakah dia pura-pura tidak mengenaliku atau memang benar-benar lupa?
“di sini aku harus bermain saxophone, gitar, bela diri, dan menembak?” kim bae soo terlihat bingung sambil menunjuk script.
“ya, kau harus berlatih. masih ada waktu 2 bulan. persiapkan dirimu..”
“tapi hyung... apakah ini tidak terlalu berlebihan?”

Aku tersinggung mendengar ucapannya. dia masih belum berubah. “ehm, bae soo~ah, pelatihan itu akan mendukung karakter yang kau mainkan.” aku menatap bae soo sambil tersenyum, menahan amarah.
“tapi kan bisa kita buat lypsinc musiknya, atau pakai stuntman.”
“Bae soo~ah.. yoora~ssi berharap lebih terhadapmu, dia percaya kau bisa melakukannya dengan kemampuanmu sendiri. “
Bae soo terlihat tidak puas.


“lagipula, bukankah kau aktor profesional? mengapa kau takut melakukannya? kecuali kau amatiran..” akhirnya sindiran pedas keluar juga dari mulutku.
Bae soo terlihat terkejut dengan apa yang baru kuucapkan. kemudian memandangku tajam, lalu tersenyum. “aku memang aktor profesional, yoora~ssi. kita lihat saja nanti.” dia berdiri lalu berbalik meninggalkan ruangan.
Direktur woobin menatapku, “selain optimis ternyata kau punya kelebihan lain, yoora~ssi..”
Aku tersenyum mendengar ucapannya. senyuman puas.

***
Setelah beberapa hari nonstop mendiskusikan drama dengan direktur, tenagaku mulai habis. Kami bekerja lebih keras karena proses pengambilan gambar tinggal seminggu lagi. hal itu membuatku lelah dan lemas. aku menguap lebar. sambil memijat leher belakangku, aku memandang jam tanganku, pukul 2 pagi. direktur masih di ruangannya sibuk mempersiapkan debutnya sebagai sutradara. aku menunggu lift untuk turun, tiba-tiba sayup-sayup aku mendengar suara saxophone dari arah ruangan paling ujung. karena penasaran aku menghampirinya, mencari tahu siapa yang memainkannya. ketika sampai di ruangannya, aku membuka sedikit pintunya, mengendap-endap agar kedatanganku tidak diketahui. betapa terkejutnya ketika aku melihat bae soo sedang memainkan dengan lembut saxophone nya. aku terpana. 

Dalam keremangan cahaya ruangan itu, bae soo terlihat menawan.. suara yang dihasilkannya membuatku merinding.. aku menggeleng-gelengkan kepala. berusaha tetap menjaga kesadaranku. ketika aku melihatnya lagi, dadaku berdesir. seperti mengingat perasaan yang muncul sebelum ada insiden yang mengubah pikiranku tentangnya. selamanya.

“bae soo oppa memang keren... lihatlah senyumannya...”
“aku rasa aku akan mati setiap melihat senyumannya....!!!”


Aku terpana memandang sesosok laki-laki yang sedang asyik memainkan bola basket bersama sekumpulan siswa laki-laki lain. di belakangku siswa-siswa perempuan berteriak memanggil namanya, setiap kali dia memasukkan bola, teriakan mereka semakin keras. kemudian dia melambaikan tangannya ke arah kami dan tersenyum manis.

Tiba-tiba suara saxophone berhenti. aku tersadar kemudian langsung dengan cepat menutup pintu lalu berlari menuju arah tangga. menuruni tangga lantai 15 sampai ke lantai 1 adalah tindakan orang gila, aku tidak gila, jadi aku hanya akan turun ke lantai 14, aku harus segera melenyapkan diri sebelum dia menyadari keberadaanku. aku turun ke lantai 14, kemudian memencet tombol lift. lift kemudian terbuka dan aku terkejut.. bae soo berada di dalamnya, memandangku heran.
“oh.. yora~ssi? kau mau turun? masuklah.” dia tersenyum.
Dengan gugup aku segera masuk ke dalam lift. tenang.. dia tidak mengenaliku.
“ehm.. kau baru pulang? sibuk dengan hyung?” bae soo memandangku. aku terhenyak,
“i..iya begitulah..”
“ehm...” dia mengangguk-angguk.. tunggu.. sepertinya aku pernah melihatmu. apakah kita saling mengenal sebelumnya?”
Aku terkejut. bae soo memandangku curiga. “aniyoo.. aku hanya tau kau dari televisi.” aku menunduk panik. kemudian memencet tombol pintu terbuka.
“apa yang kau lakukan? ini belum lantai 1.” bae soo terlihat bingung.
“tidak apa-apa. aku sedang ada urusan lain. oke, annyeong.” aku segera keluar ketika pintu lift terbuka. Ya Tuhan.. hampir saja...

***

“yaa yoora~ssi.. apa kau yakin bae soo sunbae akan mengirimkan naskahmu ke kompetisi itu? bukankah dia membenci kita?” Tanya minkyung sambil mengunyah kimbap nya
“.....” aku hanya terdiam. kemudian berdiri dari kursi cafeteria
“hei yoora~ssi...”
Aku tidak memperdulikan panggilan minkyung. aku segera berjalan menuju ruang komite siswa. aku mengetuk pintunya, kemudian masuk ke dalam. aku melihat bae soo sunbae sedang menulis sesuatu di atas mejanya.
“ada apa kau kesini?” tanyanya tanpa menengok ke arahku
“sunbaenim. aku ingin mengikuti kompetisi menulis skenario. dan karena keikutsertaan harus melewati persetujuan ketua komite siswa dulu maka bolehkah aku minta tolong kepadamu? aku benar-benar ingin mengikuti kompetisi itu.”
“bukankah sudah kubilang kau melakukan sesuatu yang tidak berguna."
“sunbae... aku hanya ingin terus berusaha...” aku menunduk
Dia memandangku beberapa saat, “oke, letakkan itu disini.” dia menunjuk mejanya masih sambil fokus menulis tanpa melihatku.
Aku terkejut, benarkah apa yang kudengar? aku tersenyum senang kemudian berjalan menuju mejanya lalu meletakkan tumpukan naskahku disana.
“gomawo sunbae!!” aku tersenyum sambil membungkuk kemudian berbalik keluar pintu.
Diluar ruangan, aku baru tersadar belum memberikan alamat pengiriman naskah untuk kompetisi. aku berbalik kembali ke ruangan tanpa mengetuk aku langsung masuk
“sunbae... aku lupa memberitahu.........” aku terkejut ketika aku melihat dia sedang memegang naskahku dengan tangan kiri dan di tangan kanannya sedang memegang pematik api.

“Apa yang kau lakukan???!!!” aku berteriak, mataku terbelalak
Dia tersenyum, “aku tidak suka mengotori mejaku dengan hal tidak berharga seperti ini.” kemudian pematiknya menjala dan dia mendekatkan pematik itu ke kertas naskahku
“KIM BAE SOO!!!!” aku berteriak marah.
Terlambat.. api sudah melalap kertas naskahku. kurasakan kepalaku ingin meledak. aku menghampirinya
PLAKKK!!! aku menamparnya keras.
Bae soo terlihat kaget, kemudian dia memandangku lagi dengan tatapan tajam dan senyuman sinis.
“Kau pecundang... suatu saat kau akan berterima kasih padaku karena menyadarkanmu tentang hal ini. kau tidak akan bisa menjadi penulis skenario seperti impianmu itu. kau terlalu berharap tinggi.” nada suaranya tenang, dia tersenyum. kemudian senyumnya menghilang digantikan oleh tatapan mengancam.
Aku masih menatapnya marah. mataku perih menahan air mata agar tidak mengalir di pipiku.
“Kau akan menyesal telah melakukan ini padaku.” aku berbalik meninggalkannya, membanting pintu. dia mengibarkan bendera perang. dan sejak saat itu aku membencinya lebih dari aku mencintainya sebelumnya.

***







ost: 2NE1-Hate You





3
      “Yoora~ssi, selama pengambilan gambar kau duduk di sampingku. aku membutuhkan saranmu.” direktur woobin menyuruhku duduk di sampingnya di tempat kami mengambil gambar itu.
      “Baiklah saesengnim.” aku segera duduk di sampingnya.
      Saat itu kami sedang mengambil take di sebuah club malam. park yubin yang diperankan bae soo adalah seorang agen rahasia muda yang sedang menjalankan misi rahasia untuk mengungkap kejahatan seorang bos mafia wanita yang seksi dan cantik. dalam menjalankan aksinya, yubin yang memang memiki sifat playboy dan pintar menarik hati wanita mendekati musuhnya dengan cara ini. Namun ternyata Yubin pada akhirnya malah mencintai wanita itu, dan mengorbankan dirinya untuk wanita itu.
      Aku memandang bae soo yang sedang take. “Action!!” direktur woobin memulai take.
Bae soo sedang terlihat duduk di sebuah bar sambil meminum segelas whisky, sambil menatap sesosok wanita yang memerankan sebagai sang bos mafia cantik yang sedang duduk di sofa dengan beberapa penjaganya. kemudian bae soo sedang terlihat berusaha mendekatinya dan mengajaknya melantai. mereka pun melantai dan melakukan tarian seksi dan provokatif. bae soo melilitkan kedua tangannya ke pinggang wanita itu, dan wanita itu melingkarkan tangannya ke leher bae soo. kemudian mereka meliuk-liukkan badan sambil sesekali berciuman. Aku merutuk. itu memang keahliannya. menggoda wanita. Kemudian take dilanjutkan di lain tempat, bae soo terlihat tidak mengalami kesulitan sejauh ini. sial...

***

“Apa kau yakin kita tidak akan menggunakan stuntman?” direktur woobin terlihat khawatir
“Aniyo saesengnim. nanti kamera akan kesulitan mencari angle nya. Aku tau dia bisa melakukannya. lagipula itu akan semakin menunjukkan kualitas para pemainnya nanti.. penonton akan suka. percayalah..” aku memandangnya sambil tersenyum lebar
“Aku akan berdiskusi dengan bae soo dulu.” direktur woobin menghampiri bae soo yang terlihat sedang dikerubungi make-up artist.

Mereka terlihat sedang berbicara, kemudian aku melihat bae soo mengangguk kemudian tersenyum lalu menepuk pundak direktur. aku tersenyum. kemudian direktur kembali duduk di sampingku.
“Bae soo setuju melakukannya tanpa stunt man. aku juga sudah mempersiapkan petugas medis jika terjadi sesuatu nanti.”
Aku tersenyum.
30 menit kemudian, kami bersiap mengambil take akhir. adegan berbahaya dimana tokoh yubin sedang dikejar anggota mafia dan anggota agennya sendiri ketika menyelamatkan tokoh wanitanya. kemungkinan adegan ini akan bisa menghabiskan banyak waktu mengingat tingginya tingkat kesulitannya.
“Oke, ready.. action!!”
Bae soo terlihat sedang berkelahi dengan anggota mafia, Kemudian dia tertembak bagian pinggangnya. dia masuk ke mobil dan mengendarainya dengan cepat.
Kemudian kami sampai pada adegan tabrakan yaitu adegan dimana terjadi tabrakan antara mobil yubin dengan mobil lainnya yang menyebabkan mobil yubin terbalik dan meledak. Bae soo terlihat bersiap menggunakan kostum pengamannya, sebuah jaket anti api dan helm hitam besar. dia juga terlihat memakai sabuk pengaman lapis 2. aku bisa melihat ketakutan di wajahnya. aku tersenyum puas.
“Are you sure bae soo~ah? ini masih belum terlambat..” direktur woobin menghampiri bae soo yang sedang bersiap berada di dalam mobil.
“Tenang hyung.. aku bisa melakukannya. percayalah padaku.” jawabnya tersenyum. aku masih bisa merasakan ketakutannya yang berusaha dia tutupi dengan senyumannya.
Aku ikut menghampiri Bae soo. “good luck bae soo~ah...” aku tersenyum lebar
“oke thanks.” dia menunduk, aku dan direktur woobin kembali duduk di tempat kami, memperhatikan layar kamera.
“Ready? Action!!” teriak direktur, aku mengamati layar.
Bae soo terlihat menyalakan mesin mobilnya kemudian mengendarai dengan kecepatan tinggi. aku menahan nafas. kemudian mobilnya menabrak mobil yang dikendarai stuntman dan mobil bae soo terbalik terpelanting beberapa kali hingga akhirnya mendarat dengan posisi terbalik.
“Cut!!!” direktur berteriak
Aku dan direktur langsung berlari ke mobil bae soo. bae soo terlihat tidak sadarkan diri.
“Cepat keluarkan dia dari situ!!!” teriak direktur woobin panik menyuruh petugas medis.
Aku memandang bae soo yang sedang memejamkan mata diangkat oleh petugas medis di atas kasur roda. Aku berusaha berpikir tidak mengkhawatirkannya. ini resikonya sebagai aktor, pikirku sambil berusaha tenang, aku mengikutinya sampai di ambulance. melihatnya sedang dibantu diberikan bantuan pernafasan. berkali-kali petugas mengulangi menempelkan mesin pengejut jantung. 


Aku menengok ke direktur. aku terkejut, dia terlihat sangat panik dan khawatir. lalu aku memandang bae soo kembali. dia masih belum tersadar. tiba-tiba aku merasa bersalah..
“uhuk..uhuk..” tiba-tiba bae soo tersadar. petugas medis terlihat memasangkan oksigen ke mulutnya, kemudian aku menengok ke direktur, dia sudah tidak ada di situ, aku berbalik mencarinya aku melihat direktur sedang berjalan pergi sambil mengusap matanya. dia menangis? sebenarnya apa hubungan mereka berdua?
***

Akhirnya proses pengambilan gambar selesai juga. Direktur mengajak semua kru dan pemain untuk berpesta merayakannya. kami menyewa sebuah club terkenal di daerah seoul,
“kupikir kau akan mati saat itu, bae soo~ah! hahahahaha” kata seorang kru menepuk punggung bae soo yang sedang minum.
“Aku harus hidup untuk menerima penghargaan sebagai aktor terbaik. hahahahaha” dia tertawa diikuti tawa orang-orang di sekelilingnya.
“Kau memang harus hidup. untuk menikahi soo eun!” direktur woobin tiba-tiba duduk di sampingnya.
      Aku terhenyak, soo eun? aktris itu..? aku kira cuma gosip untuk menaikkan pamor mereka.. aku meminum seteguk lemon squash ku.

      Tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri meja mereka, aku memincingkan mata untuk melihat wajahnya. ehm.. dia lee soo eun.. wanita itu duduk di samping bae soo kemudian mereka berciuman. cih.. aku berharap ada paparazzi yang menangkap kelakuan mereka lalu menjadikannya berita besar.
      Mereka terlihat tertawa bersama.. kemudian aku melihat direktur menghampiri mejaku, aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.
      “hei yoora~ssi, kemarilah.. bergabung dengan kami..” direktur yang sudah sedikit mabuk itu menarik tanganku berjalan menuju ke meja bae soo dan soo eun. sial..
      “kita harus berterima kasih kepada Yoora~ssi juga.. idenya membuatku berakting tanpa stuntman adalah hal brilian.” bae soo memandangku. aku merasa perkatannya lebih terdengar sindiran dibanding pujian.
      “hahaha.. kalau tidak begitu kau tidak akan tau rasanya sekarat.” aku menjawab tak kalah pedasnya.
      Bae soo menatapku tajam. suara dentuman musik menusuk telingaku
      “hei sudahlah yang penting kau tidak mati, bae soo~ah..” direktur mendamaikan kami.
      “ya.. ternyata nyawaku ada banyak. hahahhahahaha” bae soo tertawa.

      “yeobo, aku ingin melantai..” soo eun mengajak bae soo menari di lantai dansa. Bae soo berdiri kemudian berjalan mengikuti soo eun. mereka terlihat sangat intim ketika menari. gaya menari mereka benar-benar mirip dengan adegan menari yubin dan wanita mafia itu.. aku memandang mereka dengan jijik. pasangan serasi. berotak rusak semua. aku merutuk dalam hati.
      “kau mau melantai yoora~ssi?” direktur yang sekarang lebih mabuk dari sebelumnya menarik tanganku ke lantai dansa. bagus.. sekarang kami seperti peserta kompetisi dansa, bersama pasangan bae soo-soo eun.
      Direktur menarikku dalam dekapannya. tangan kekarnya menyentuh pinggangku. aku terkejut, semua orang memandang kami, termasuk pasangan gila itu.
      “saesengnim. tolong jangan begini.. aku tidak pernah..”
      Direktur melepaskan dekapannya, “mianhe yoora~ssi....” matanya merah. tanda kadar alcohol di tubuhnya tinggi.

      “hei, temani hyungku lah yoora~ssi. dia sudah bekerja keras selama ini. dia butuh hiburan..” bae soo tertawa sambil masih berdansa dengan soo eun. 
Aku menumpahkan air yang berada di meja dekatku berdiri ke wajahnya. dia terlihat shock
      Tanpa berkata apapun aku pergi meninggalkan mereka, mengambil tasku dan pergi dari situ. aku merasa sangat marah dengan ucapan bae soo.

***







ost: Boyfriend- I Yah




4

      Hari ini drama kami mengadakan premier. mengundang semua wartawan dari berbagai stasiun televisi dan majalah. poster drama kami memperlihatkan bae soo yang mendominasi. aku membenci poster itu. tapi aku lebih memilih diam. tugasku sudah selesai. biarkan sisanya mereka yang mengurusnya, pikirku.


      Bae soo terlihat mengenakan baju hitam dan abu-abu. dia tidak berhenti tersenyum melambaikan tangannya ke arah wartawan. sialnya dia terlihat sangat tampan. aku menghela nafas panjang. memiliki musuh tampan seperti dia memang tidak akan mudah. lengah sedikit bisa membuat tergelincir.
      “Apa kau merasa gugup Yoora~ssi?” direktur memandangku tersenyum
      “yah.. sedikit..” aku masih kesal dengan insiden beberapa hari yang lalu itu. tapi sepertinya direktur tidak ingat kejadiannya.
      “ehm.. mianhee tentang kejadian di club itu. aku tidak bermaksud seperti itu..”
      Aku memandang direktur kaget, dia ingat..
      “ah kenchana saesengnim.. aku sudah lupa.” jawabku sambil tersenyum
      “jangan panggil aku direktur lagi.kita kan partner bekerja. panggil aku oppa. hahahaha” direktur tertawa.
      Aku memandang heran.. “aku rasa akan aneh saesengnim...”
      “kalau kau masih memanggilku begitu aku tidak akan menengok.” dia menatapku dengan mata seksinya
      Aku tersenyum, lelaki ini tahu kekuatannya terletak di matanya. dia memiliki mata seksi yang tajam dan bisa membuat orang bertekuk lutut hanya dengan memandangnya.
      “Oke... woobin oppa! hahahahahaha..” aku tertawa mendengar ucapanku sendiri. lelaki ini memang masih berumur sekitar 30-an awal. prestasinya sebagai CEO di usia muda telah membuat banyak orang menjadi iri. apalagi dengan ketampanannya cukup membuat wanita rela mengantri untuk berkencan dengannya.
      Dia tertawa, kemudian mengajakku menaiki stage premier dan duduk di kursi yang telah disediakan. dan kami mulai membicarakan drama kami dan mempromosikannya ke wartawan yang berada disitu.

***

      “yaa.. Minkyung..! kau mengambil strawberry ku!” aku menggetok kepala minkyung dengan sendok eskrim
      dia mengunyah strawberry curiannya sambil tersenyum. “jadi kau belum bisa membalas dendam ke bae soo sunbae?”
      “jangan panggil dia sunbae. terlalu bagus.” jawabku cuek sambil menyuapkan waffle dan eskrim ke mulutku


      “kalau begitu haruskah aku memanggilnya.. bae soo oppa...!” minkyung memanggilnya oppa dengan nada suara yang dibuat-buat se-aegyo mungkin.
      Aku menggetok kepalanya lagi, “sekali lagi kau memanggilnya begitu aku akan mengunyahmu bulat-bulat.”
      Minkyung tertawa terbahak-bahak. “aku sudah mengikuti setiap minggu dramanya.. dan aku menyadari bahwa aku tidak bisa mendukungmu untuk membencinya..”
      Aku melotot. “apa maksudmu?”
      “Dia terlalu tampan untuk dibenci yoora~ssi...”
      “Kalau kau membela dia, kita bukan teman lagi.” jawabku cuek memakan es krim cokelatku.
      “yaaaa!!” minkyung memasang muka protes. “jadi kalau kau dapat gaji, kaya dan terkenal kau tidak akan memberikanku uang?”
      “aniyo..” jawabku mengunyah waffle terakhir
      tokk! Minkyung menngetok kepalaku dengan sendoknya. aku melotot padanya, dia tertawa terbahak-bahak.
      “tapi yoora~ssi, naskah drama yang kau buat memang bagus. ditambah sutradara tampan itu yang mengatur segalanya, ditambah pemain utamanya yang menawan. aku yakin.. drama kalian akan mendapat pernghargaan..”
      “semoga. Aku dapat the best screenwriter..”
      “terlalu dini untukmu..”
      “heh??” aku melotot lagi. “kalau begitu kau bayar sendiri makananmu..!”
      “yaaa yoora~ssi.. aku tidak bawa uang sekarang...” dia mengerutkan bibirnya
      “aku tak peduli..” tiba-tiba sakuku bergetar. woobin oppa meneleponku.
      “annyeong oppa.. ada apa?”
      Kulihat minkyung tersenyum jahil mendengarku memanggil direktur dengan panggilan “oppa”. aku mendelik padanya menyuruhnya berhenti melakukan itu.
      “annyeong yoora~ssi.. drama kita menang cheoshang award!!”
      Aku tertegun beberapa saat..
      “haloo.. haloo.. kau masih mendengarku?”
      “eh.. ye oppa.. drama kita menang kategori apa?”
      “the best actor!! bae soo...!” suara woobin oppa terdengar senang
      “oh..” aku menunduk.
      “kenapa? kau tidak senang?”
      “aniyoo.. jelas aku senang.. hasil jernih payah kita tidak sia-sia..”
      “ye.. bae soo akan menghadiri acara award itu untuk menerima piala. maukah kau datang bersamaku?”
      “ehm.. aku tidak bisa oppa..aku sedang membuat naskah baru. aku ingin segera menyelesaikannya.”
      “kau membuat naskah baru?? benarkah?? kita harus membicarakan lagi tentang naskah barumu!”
      “ehmm.. ye.. nanti ya oppa. biarkan aku menyelesaikannya dulu.”
      “oke.. yoora~ssi.. annyeong.”
      “annyeong.”
      ceklek.
      “kenapa yoora~ssi?”
      “bae soo mendapat penghargaan karena drama yg kutulis. itu ironis sekali. menguntungkan musuh...”
      Minkyung memandangku. “mau sampai kapan kau akan membencinya? itu sudah 5 tahun yang lalu.. balas dendam tidak akan bisa mengembalikan semuanya Yoora~ssi.. kau harus melupakan masa lalu.”
      “Aniyo.. aku tidak akan berhenti sampai dia menarik lagi ucapannya padaku dulu. kita lihat saja nanti..” jawabku sambil menatap tajam minkyung.
      “kau mengerikan yoora~ssi.” minkyung menatapku ngeri.
      aku tersenyum sinis
***

5
      Siang itu aku sedang berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan terkenal di daerah cheongdamdong. aku membeli beberapa potong baju dan sepasang sepatu. sejak bae soo menerima award, gajiku semakin naik, baiklah.. biarkan dia bersenang-senang dulu.. aku akan menghancurkannya sebentar lagi.
      ketika aku sedang memilih baju lain, aku melihat soo eun. dia menatapku mencoba mengingat siapa aku, kemudian dia menghampiriku.

      “annyeong yoora~ssi.. aku harus berterima kasih padamu, karena berkat naskahmu, bae soo menjadi terkenal dan meraih penghargaan yang dia inginkan selama bertahun-tahun.. kau pasti sangat peduli dengan bae soo.” dia tersenyum dingin
      “Kau tidak perlu berterima kasih padaku. aku tidak berusaha membuatnya mendapat popularitas seperti ini.. kau pasti salah paham.” jawabku sinis
      Dia terdiam menatapku. Wajah innocent dan polosnya membuatnya jadi kesayangan para sutradara drama, editor majalah dan produsen iklan. tapi sifat aslinya tidak akan disukai oleh wanita dan lelaki manapun.. ehem kecuali bae soo. terlalu angkuh. sangat bertolak belakang dengan penampilannya
      “kau menyukai bae soo kan?”
      Aku menatapnya. sebenarnya aku terkejut dengan pertanyaannya, tapi aku berusaha agar keterkejutanku tidak terlihat di wajahku.
      “Apa kau bercanda soo eun~ssi?”
      “aku melihatmu menatapnya sepanjang waktu.”
      “menatapnya bukan berarti menyukainya kan?”
      “jangan berani macam-macam denganku yoora~ssi.. kau sedang bermain dengan api.”
      “aku sudah mempersiapkan airku soo eun~ssi.. jangan khawatir..”
      Soo eun terlihat kesal dengan jawabanku, dia segera berjalan melewatiku. cih, akankah kau tetap mencintainya walaupun dia tidak setenar ini soo eun~ssi? aku mencibir.
***
     
      “Yoora~ssi.. bagaimana naskah baru yang kau buat?”
      “aku membawanya oppa..” jawabku sambil mengeluarkan tumpukan kertas yang terbungkus plastik lalu menyerahkan padanya.
      Woobin oppa terlihat membaca dengan serius, membalik halamannya, lalu membaliknya lagi.
      “ide ceritamu sangat berbeda dengan ceritamu sebelumnya..”
      “ye, aku ingin mencoba hal baru, oppa.
      “kau ingin aktor siapa yang menjadi pemeran utamanya?”
      “Kim bae soo.” jawabku tegas
      “bae soo?” oppa menatapku heran.
      “Aku pikir bae soo adalah orang yang tepat memerankan tokoh ini.”
      Woo bin oppa menatapku tajam. aku balas menatapnya.
      “Oke, aku akan berbicara dengan bae soon nanti.”
      Aku tersenyum lebar, “gomawo oppa!”

***
     






      Bae Soo membaca kertas naskah baru itu, wajahnya terlihat serius. kemudian memandangku, kemudian kembali meneruskan membaca. di dalam ruangan itu hanya ada aku dan bae soo. woobin oppa sedang tidak pergi.
      “Seorang penderita HIV?” bae soo memandangku
      “ye..” aku tersenyum
      “aku harus mengubah penampilanku seperti apa?”
      “kau harus kurus, dan pucat.”
      “berapa kilogram lagi aku harus menurunkan beratku?”
      “sekitar 15 kilo lagi.”
      Bae soo menatapku, wajahnya terlihat terkejut. “tapi aku tidak pernah sekurus itu..”
      Aku tersenyum sinis, “aku tidak peduli apakah kau pernah sekurus apa. kau harus bersikap profesional.”
      dia menatapku tajam, “apa maksudmu?”
      “bukankah kau the best actor??” aku memiringkan kepalaku, tersenyum mengejeknya.
      Dia memandangku, terkejut dengan apa yang baru kukatakan. “sebenarnya apa yang ingin kau katakan?”
      “kau benar-benar tak ingat aku?”
      Dia memandangku dengan bingung.
      “ehm.. mungkin karena aku bukan siapa-siapa.. oke.. aku akan membuatmu ingat padaku..” aku mengambil naskah dari tangannya, dia terkejut, lalu aku mengambil pematik di meja woobin oppa. aku menyalakan dan membakar naskahku sendiri.

      “ingat, sunbae?”
      Dia terhenyak. kemudian berusaha kembali tenang. “oh kau..”
      “Sekarang aku ingin kau mencabut kembali ucapanmu waktu itu.” aku mematikan apinya lalu membuang sisa kertas itu ke tempat sampah
      “Ucapan apa? dia mendekatiku menatapku tajam sambil tersenyum
      “apakah aku perlu memukulmu agar kau ingat?” aku menatap matanya.
      “seingatku dulu kau tidak segalak ini..” dia masih menatapku masih tersenyum khas nya.
      “Percayalah pukulanku akan lebih sakit dari tamparanku yang dulu.” aku menyatukan kedua tanganku bersiap memukulnya.
      Tiba-tiba pintu terbuka, woobin oppa masuk dan melihat kami dengan wajah serius.
      “Ada apa dengan kalian? bagaimana bae soo? kau akan menerima tawarannya?” oppa duduk di sofa, bae soo berbalik memberi tatapan mengejek kemudian duduk di sofa
      “ehm tentu.. aku adalah aktor profesional hyung. aku bukan amatiran yang bekerja hanya untuk membalas dendam pada orang lain.” katanya sambil tersenyum menyeringai, aku marah mendengar ucapan lancangnya itu. aku menggenggam tanganku erat sampai kurasakan telapak tanganku terasa sakit.
      Woobin oppa menatap kami dengan curiga. “apa ada sesuatu yang terjadi diantara kalian?”
      “aniyo oppa. kami hanya sedang reading sambil belajar gesture untuk peran baru bae soo. dia bingung bagaimana berperan menjadi seorang pengidap HIV AIDS.. ehm.. perlukah kita mengirimnya untuk observasi di pusat rehabilitasi?” aku tersenyum
      Woobin oppa menggosok dagu dengan tangannya, “kalau itu diperlukan kenapa tidak?”
      Bae soo terkejut. matanya membelalak. mulutnya menganga. aku menikmati pemandangan itu.
aku tersenyum, “bagaimana bae soo.. kau akan kesana?” tanyaku lembut
      Bae soo menatapku seperti sedang berhadapan dengan musuh. kemudian tatapannya berubah menjadi senyuman aneh, “oke.. aku akan kesana. bukan hal sulit untukku.”
      Aku menelan air ludahku pelan, sambil tersenyum. “oke, pertemuan selesai. mulai sekarang dalam jangka waktu sebulan kau akan menurunkan berat badanmu 15 kilo dan setiap hari selama sebulan itu kau akan observasi ke pusat rehabilitasi penderita AIDS.” aku berdiri berbalik lalu pergi keluar ruangan itu. Kau akan menyesal Kim bae soo.. aku menggeram.

***
     






ENDING OST
J-Min Stand Up

     

      

No comments:

Post a Comment