1
“annyeong haseo, dengan jung yoo ra?”
“annyeong. ya ini saya. ini dengan siapa?”
“saya dari perwakilan home production VAV. ingin memberitahukan
bahwa review naskah yang anda kirim tidak lolos.”
“... boleh saya tau apa alasannya?”
“Karena anda belum cukup berpengalaman menulis naskah drama.”
“walaupun naskah saya bagus? tanpa pengalaman saya tetap tidak
akan diterima ?”
“ehmm.. iya begitulah.”
“bagaimana saya mau punya pengalaman kalo home production anda
tidak memberi saya kesempatan?”
“ehm... maaf tapi saya hanya bertugas menyampaikan ini kepada
anda. annyeong.”
ceklek.
“sial...” aku merutuk sambil memukul pelan dinding kamarku.
kemudian menghempaskan badanku ke kasur usangku. aku menatap langit-langit
kamarku, teringat sesuatu..
“kau tidak akan bisa menjadi
seorang screenwriter.”
“akan
kubuat kau menarik ucapanmu kembali suatu hari nanti!!”
Dia
tersenyum sinis. menyeringai.
Aku menghela nafas keras-keras, kemudian bangkit, berjalan
menuju dapur, lalu membuat ramyun instan.
“uang
jatah bulan ini sudah mulai menipis.. AARGGGGHHH!!!!!” aku berteriak frustasi,
kemudian dengan rakus aku menyuapkan ramyun panas ke mulutku
“aahhh
sial!! huhh haaahh...!” aku merutuk ramyun sialan ini. kalau dia hidup mungkin
sudah protes padaku.
***
Aku memandang amplop cokelat berisi kertas review
naskah ceritaku. berfikir akan mengirimkannya atau tidak. wanita muda di
depanku memandangku bingung,
“ehm...
jadi anda akan mengirimkannya atau tidak?” tanyanya tidak sabar menungguku
menyerahkan amplop itu.
“ehm...” aku masih memandang amplop itu, berpikir.
bagaimana kalau tidak diterima lagi? bagaimana kalau review ini disabotase
orang kemudian dibuat dramanya tanpa seijinku? aku memutar bola mataku ke atas,
mengerutkan bibir, menghela nafas, kemudian menunduk lemas.
“maaf,
jika anda ragu silahkan pergi dulu karena yang lainnya sudah menunggu di
belakang anda. datanglah jika sudah yakin. ” wanita itu tampak sangat kesal
aku
menyerahkannya. “kirim ini...” kataku pelan.
wanita
petugas pengiriman itu mengambil amplopku sambil mengerutkan bibirnya.
Aku
tetap akan berusaha sampai kubuktikan perkataan lelaki sialan itu salah besar!!
aku tersenyum, kembali bersemangat.
***
“annyeong haseo. dengan jung yoo ra?” suara wanita terdengar
“ye. siapa ini?” tanyaku masih setengah sadar. masih bergumul
dengan guling.
“saya perwakilan dari home production King.”
“....” aku diam.
“review anda lolos. bisakah anda datang besok ke kantor kami?
CEO kami ingin langsung bertemu anda”
Aku bangun, tertegun, mulutku menganga.
“annyeong, yoo ra~ssi?”
Aku tersadar, “emm... ye!! aku akan datang besokkkk!!!!”
jawabku lantang sambil tersenyum. walaupun orang disana tidak bisa melihat
senyum kebahagiaanku.
“ye, hamsamida. annyeong.”
ceklek.
Seharian itu aku tidak berhenti tersenyum. aku tidak peduli
orang menganggapku gila. hahahahahahahahaha.... akhirnyaa... akhirnyaaa!!!
***
Dengan gugup aku berjalan memasuki pintu raksasa gedung itu. di
dinding belakang meja resepsionis terpampang tulisan “KING” besar dan berwarna emas.
“annyeong haseo, ada yang bisa saya bantu?”
“ehm.. saya ingin bertemu CEO,”
“sudah membuat janji?”
“sudah.”
“tunggu sebentar.” kemudian wanita resepsionis itu terlihat
menelepon, “silahkan naik ke lantai 15. CEO sudah menunggu anda.” resepsionis
itu tersenyum
“hamsamida!!” aku tersenyum lebar.
Aku segera berjalan menuju lift besar, ada
beberapa orang juga sedang bersamaku dalam lift itu. aku menekan tombol 15.
Langsung bertemu CEO home production besar seperti King adalah impian setiap screenwriter..
aku mengangguk-anggukkan kepala, tersenyum bangga. Sampai pintu lift terbuka di
lantai 15, aku segera keluar dan mencari jalan menuju ruang CEO. aku melihat di
pojok, ada sebuah meja, seorang wanita sedang sibuk berada di depan
komputernya.
“Annyeong haseo, saya Jung Yoo Ra. bisakah saya bertemu direktur?“
Wanita sekretaris itu memandangku, “oh.. tunggu sebentar.”
kemudian menelepon, “direktur, Jung Yoo Ra sudah datang.. ye. saya mengerti
pak.” dia terlihat meneutup teleponnya.
“Jung Yoo Ra~ssi, saya antar anda masuk.” wanita
itu bangkit dari kursinya, mengantarkan saya masuk ke sebuah ruangan. setelah
membuka pintunya dan mempersilahkan aku masuk, sekretaris itu pergi menutup
pintu. aku masuk ke dalam ruangan itu degan gugup. ruangan itu terlihat sangat
besar. desain interiornya tidak dibuat dengan sembarangan. semua barangnya
terlihat mewah, khas kerajaaan eropa abad pertengahan.
Kemudian aku melihat
sesosok laki-laki tampan di depanku. dia CEO? terlihat terlalu muda untuk
menjabat sebagai CEO.
“Annyeong
Yoo Ra~ssi. silahkan duduk.” lelaki tampan itu menyuruhku duduk sambil
tersenyum
Dengan
gugup aku segera duduk di kursi yang juga terlihat mahal itu. Aku masih menatap
takjub lelaki di depanku ini.
“Aku
tau apa yang kau pikirkan nona... kau tidak percaya aku CEO di sini kan?” dia
menatapku menggunakan mata tajamnya.
Aku
terkesiap. lelaki itu bisa membaca pikiranku. “mianhe saesengnim.. aniyoo..”
aku menjawab gugup.
Dia
tertawa. “tenang Yoo Ra~ssi. aku tidak akan memakanmu. hahahahahaha...”
Aku
menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal itu.
Lelaki
itu mengulurkan tangannya, “Lee Woo Bin.”
Aku
gugup, “annyeong...” aku menyambut uluran tangannya sambil tersenyum.
“oke,
kita langsung ke intinya. Aku tertarik dengan review naskahmu. Kau akan kami
kontrak sebagai screenwriter, dan mulai bekerja besok pagi.”
“besok
pagi?” aku memandangnya bingung
“ya.
besok berikan naskah lengkapnya kepadaku. dan ngomong-ngomong aku sudah memilih
cast sebagai main role di drama mu itu, sebagai park yu bin.”
Aku
menatapnya, “siapa yang anda pilih?”
“Kim
Bae Soo.”
“Kim
bae soo?” aku memutar bola mataku, mengingat sesuatu. kemudian aku terhenyak.
“Kim Bae Soo yang itu?” aku menatapnya bingung
“Iya
yang itu.” direktur Woo bin tertawa mendengar pertanyaanku, “kau pasti tahu
dia. dia sering bermain drama. kemarin dia memerankan figuran di drama sky
fall”
Aku
masih terkejut. “kenapa anda memilih dia untuk memerankan yubin?”
“Dia memiliki bakat besar, tapi belum ada
sutradara yang membuatnya menjadi pemeran utama. aku ingin mencoba bekerjasama
dengannya.” direktur woobin meyandarkan kepalanya di kursi kerjanya sambil
menatap serius padaku.
Aku menunduk, lelaki sialan itu... kenapa aku
harus bertemu lagi dengannya.. jika aku menolaknya itu bukan hal tepat untuk
dilakukan sekarang, direktur woobin memilihnya secara pribadi. aku menghela
nafas
“kenapa
Yoora~ssi? kau tidak suka?” perkataannya menyadarkan lamunanku.
“Aniyo...
baiklah. bae soo akan memerankan park yu bin.” aku memandangnya sambil
tersenyum datar.
“oke,
kalo begitu pertemuan pertama kita sudah selesai, datanglah besok. agar kita
segera melakukan proses castingnya.”
“ye, direktur. ehm.. boleh saya tahu, mengapa seorang CEO
seperti anda ingin turun langsung sebagai sutradara sebuah drama?”
Dia tertawa. “aku ingin merasakan langsung
bagaimana membuat sebuah karya. aku bosan hanya duduk di ruangan ini dan tidak
melakukan apa-apa sementara banyak hal yang bisa kupelajari di luar sana.”
jawabnya sambil tersenyum.
Aku tertegun mendengar jawabannya.
kemudian aku tersenyum sambil bangkit dari kursiku, kemudian pamit, dan keluar
ruangan. Bukan sebuah awal yang buruk. CEO woo bin terlihat orang yang baik,
aku akan mudah bekerja sama dengannya. aku tersenyum. saatnya melakukan sesuatu
dengan bae soo.aku mempercepat langkahku agar segera sampai ke rumah.
***
Aku termenung malam itu di dalam kamarku..
memandang tumpukan naskah yang telah selesai kucetak. aku mengubah sedikit alur
ceritanya. aku mengubahnya khusus untuk mantan musuh masa laluku itu.. aku
ingin memberi pelajaran padanya atas apa yang di lakukan dulu padaku..
“yoora~ssi.. club menulis
kita akan ditutup ketua komite siswa!!” minkyung mneyapaku pagi itu dengan
berita buruk
Aku
terkejut.. “kenapa??” aku mengguncang-guncangkan bahu minkyung
“aku
tak tau yoora~ssi....” minkyung terlihat sedih
Aku
langsung berlari ke ruang komite siswa, aku langsung menerobos masuk. dan
disana terlihat ketua komite siswa sedang duduk di mejanya.
“Apa
kau tidak punya sopan santun? bisakah kau mengetuk dulu? ada pintu disana.” dia
memandangku tajam
“Sunbaenim,
kenapa kau menutup club menulis kami?”
aku memanggilnya sunbaenim karena dia lebih senior dibandingkan aku.
Dia
menatapku tajam, “club itu tidak berguna... aku harus menutupnya.”
“Tapi sunbae, bagaimana
nasib anggota kami?” aku menaikkan nada suaraku
Dia
tertawa, kemudian tawanya lenyap digantikan ekspresi jahat, “kau tidak akan mau
mempertahankan sebuah club jika hanya punya anggota 3 orang di dalamnya. aku
yakin keputusanku ini adalah keputusan yang tepat.”
“Bae
soo sunbae..!! aku mohon...”
“keluarlah..
aku tidak punya waktu mendengarkan omong kosongmu.” katanya tanpa melihatku
“Kau
tidak punya perasaan sama sekali...!!” nada suaraku terdengar sangat kesal
Bae soo
menatapku tajam, kemudian dia bangkit dari duduknya, menghampiri tempatku berdiri,
mendekatkan kepalanya di telingaku,
“kau tidak akan bisa
menjadi seorang screenwriter.”
“akan
kubuat kau menarik ucapanmu kembali suatu hari nanti!!”
Dia
tersenyum sinis. menyeringai.
Dan saatnya sekarang, akulah yang sedang tersenyum sinis menyeringai
untukmu, kim bae soo. aku menyeringai jahat.
***
Besok paginya aku pergi bertemu direktur
woo bin lagi membawakannya setumpuk penuh naskah buatanku. Kemudian direktur
terlihat membolak-balik halamannya, kemudian membacanya selama beberapa menit,
aku menunggu tanggapannya.
“yoo ra~ssi. jadi kita harus melakukan casting
untuk 3 orang supporting role? dan...” dia membalikkan halaman selanjutnya,
“pemeran park yu bin harus bisa memainkan saxophone?” direktur mengerutkan
dahinya
“ya.. sebagai tokoh agen rahasia yang
memiliki karakter playboy, dia harus bisa memainkannya beberapa keahlian,
misalnya saxophone, gitar, piano, bela diri, menembak, dan lainnya.” aku
tersenyum
“tapi aku tidak tahu apakah bae soo bisa memainkan itu semua.”
“kita bisa membuatnya berlatih sebelum
proses syutingnya dimulai... dan jika dia aktor profesional dia pasti bisa
melakukannya.” jawabku, senyumku makin lebar
“kau orang yang optimis Yoora~ssi...” direktur woo bin
memandangku sambil tersenyum.
“aku memang tipe orang seperti itu, saesengnim...” aku masih
tersenyum
Kena kau bae soo.. hahaha...!!
***
ost: 2NE1-Ugly
2
“yoora~ssi, aku sudah mendapatkan pemeran-pemeran lainnya.besok
kita akan melakukan reading bersama. besok kau harus datang.”
“ehm.. bisakah aku datang ketika proses pengambilan gambar?”
“tidak. besok kau harus datang juga. kau penulis skenarionya,
kau bisa memberi saran jika mereka berperan tidak sesuai dengan keinginanmu.”
“oke...”
Aku tidak ingin bertemu dulu dengan bae
soo. ini terlalu dini untuk menujukkan diriku kepadanya. aku ingin bermain-main
lebih lama lagi sebelum dia mengetahui siapa orang yang sedang
mempermainkannya. semoga dia tidak mengingatku.
***
Besok paginya aku pergi ke gedung KING,
merasa was-was sekaligus antusias menghadapi tim proyek drama pertama ku ini.
Di dalam ruangan, aku sudah melihat banyak kru, aktor, dan aktris sedang ramai
duduk di kursinya masing-masing mengelilingi meja besar berbentuk oval. di
ujung sana aku melihat direktur woobin sedang melambaikan tangannya menyuruhku agar
duduk di sampingnya. aku datang menghampirinya kemudian duduk di sampingnya.
“Annyeong. saya Lee Woo Bin, sutradara yang akan
bertanggung jawab dalam pembuatan drama “Fly High Agent.” dan di samping saya
ini screenwriter drama ini, Jung Yoo Ra. dan selamat datang kepada kru dan
pemeran yang telah terpilih, semoga kita bisa bekerjasama dengan baik.” Direktur woobin membuka pertemuan itu
kemudian disambut tepuk tangan semua yang hadir dalam ruangan itu.
Tiba-tiba
pintu terbuka, dan sosok lelaki tampan muncul sambil tersenyum. “Bae soo..” aku
menggumam sangat pelan. Bae soo duduk di sisi samping lainnya direktur woo bin.
“oke
silahkan dibuka script yang telah dibagikan tadi, kita mulai perkenalkan pemeran utama drama
ini dulu, sebagai Park Yu Bin adalah Kim Bae Soo..” kata direktur sambil
menunjuk kim bae soo.
Kim
bae soo menunjukkan senyumnya. “Annyeong haseo.”
Lelaki
itu tahu senyumnya mematikan. tapi jika aku melihat sikap busuknya, senyumnya
itu akan ikut berbau busuk.. aku mengumpat dalam hati.
“kemudian..
ada pemeran gyuri, shin min hyuk. lalu ada pemeran .....”
Setelah acara perkenalan itu, kami memulai proses
reading. setelah selesai, direktur woo bin menyuruhku untuk membicarakan lebih
lanjut drama kami. namun ketika kami di dalam ruangan direktur, Disana sudah
ada bae soo. dia sedang duduk di sofa dengan santai, sambil memegang script.
“kau
disini? eh kau belum sempat berkenalan dengan screenwriter kita kan?”
“annyeong
haseo, kim bae soo.” dia berdiri kemudian mengulurkan tangan sambil tersenyum.
senyum khasnya.
Aku
tertegun, dia tidak ingat? dia tidak mengenaliku?? “ehm.. aku jung yoo ra.”
Dia masih tersenyum kemudian mengalihkan
pandangannya ke direktur. “Woo bin hyung, ada yang ingin kutanyakan.” dia
kembali duduk. aku heran. kenapa dia memanggil direktur dengan hyung? apakah
hubungan mereka lebih dekat dari perkiraanku?
“apa?”
direktur ikut duduk di sampingnya. aku juga ikut duduk disampingnya. masih
heran, apakah dia pura-pura tidak mengenaliku atau memang benar-benar lupa?
“di
sini aku harus bermain saxophone, gitar, bela diri, dan menembak?” kim bae soo
terlihat bingung sambil menunjuk script.
“ya,
kau harus berlatih. masih ada waktu 2 bulan. persiapkan dirimu..”
“tapi
hyung... apakah ini tidak terlalu berlebihan?”
Aku tersinggung mendengar ucapannya. dia masih
belum berubah. “ehm, bae soo~ah, pelatihan itu akan mendukung karakter yang kau
mainkan.” aku menatap bae soo sambil tersenyum, menahan amarah.
“tapi
kan bisa kita buat lypsinc musiknya, atau pakai stuntman.”
“Bae
soo~ah.. yoora~ssi berharap lebih terhadapmu, dia percaya kau bisa melakukannya
dengan kemampuanmu sendiri. “
Bae
soo terlihat tidak puas.
“lagipula,
bukankah kau aktor profesional? mengapa kau takut melakukannya? kecuali kau
amatiran..” akhirnya sindiran pedas keluar juga dari mulutku.
Bae
soo terlihat terkejut dengan apa yang baru kuucapkan. kemudian memandangku
tajam, lalu tersenyum. “aku memang aktor profesional, yoora~ssi. kita lihat
saja nanti.” dia berdiri lalu berbalik meninggalkan ruangan.
Direktur
woobin menatapku, “selain optimis ternyata kau punya kelebihan lain,
yoora~ssi..”
Aku
tersenyum mendengar ucapannya. senyuman puas.
***
Setelah beberapa hari nonstop mendiskusikan drama
dengan direktur, tenagaku mulai habis. Kami bekerja lebih keras karena proses
pengambilan gambar tinggal seminggu lagi. hal itu membuatku lelah dan lemas.
aku menguap lebar. sambil memijat leher belakangku, aku memandang jam tanganku,
pukul 2 pagi. direktur masih di ruangannya sibuk mempersiapkan debutnya sebagai
sutradara. aku menunggu lift untuk turun, tiba-tiba sayup-sayup aku mendengar
suara saxophone dari arah ruangan paling ujung. karena penasaran aku
menghampirinya, mencari tahu siapa yang memainkannya. ketika sampai di
ruangannya, aku membuka sedikit pintunya, mengendap-endap agar kedatanganku
tidak diketahui. betapa terkejutnya ketika aku melihat bae soo sedang memainkan
dengan lembut saxophone nya. aku terpana.
Dalam keremangan cahaya ruangan itu,
bae soo terlihat menawan.. suara yang dihasilkannya membuatku merinding.. aku
menggeleng-gelengkan kepala. berusaha tetap menjaga kesadaranku. ketika aku
melihatnya lagi, dadaku berdesir. seperti mengingat perasaan yang muncul
sebelum ada insiden yang mengubah pikiranku tentangnya. selamanya.
“bae soo oppa memang keren... lihatlah
senyumannya...”
“aku rasa aku akan mati setiap melihat
senyumannya....!!!”
Aku terpana memandang sesosok laki-laki yang
sedang asyik memainkan bola basket bersama sekumpulan siswa laki-laki lain. di
belakangku siswa-siswa perempuan berteriak memanggil namanya, setiap kali dia
memasukkan bola, teriakan mereka semakin keras. kemudian dia melambaikan
tangannya ke arah kami dan tersenyum manis.
Tiba-tiba suara saxophone berhenti. aku tersadar
kemudian langsung dengan cepat menutup pintu lalu berlari menuju arah tangga.
menuruni tangga lantai 15 sampai ke lantai 1 adalah tindakan orang gila, aku
tidak gila, jadi aku hanya akan turun ke lantai 14, aku harus segera
melenyapkan diri sebelum dia menyadari keberadaanku. aku turun ke lantai 14,
kemudian memencet tombol lift. lift kemudian terbuka dan aku terkejut.. bae soo
berada di dalamnya, memandangku heran.
“oh..
yora~ssi? kau mau turun? masuklah.” dia tersenyum.
Dengan
gugup aku segera masuk ke dalam lift. tenang.. dia tidak mengenaliku.
“ehm..
kau baru pulang? sibuk dengan hyung?” bae soo memandangku. aku terhenyak,
“i..iya
begitulah..”
“ehm...”
dia mengangguk-angguk.. tunggu.. sepertinya aku pernah melihatmu. apakah kita
saling mengenal sebelumnya?”
Aku
terkejut. bae soo memandangku curiga. “aniyoo.. aku hanya tau kau dari televisi.”
aku menunduk panik. kemudian memencet tombol pintu terbuka.
“apa
yang kau lakukan? ini belum lantai 1.” bae soo terlihat bingung.
“tidak
apa-apa. aku sedang ada urusan lain. oke, annyeong.” aku segera keluar ketika
pintu lift terbuka. Ya Tuhan.. hampir saja...
***
“yaa yoora~ssi.. apa kau yakin bae soo sunbae akan
mengirimkan naskahmu ke kompetisi itu? bukankah dia membenci kita?” Tanya
minkyung sambil mengunyah kimbap nya
“.....” aku hanya terdiam. kemudian berdiri dari
kursi cafeteria
“hei yoora~ssi...”
Aku tidak memperdulikan panggilan minkyung. aku
segera berjalan menuju ruang komite siswa. aku mengetuk pintunya, kemudian
masuk ke dalam. aku melihat bae soo sunbae sedang menulis sesuatu di atas
mejanya.
“ada apa kau kesini?” tanyanya tanpa menengok ke
arahku
“sunbaenim. aku ingin mengikuti kompetisi menulis
skenario. dan karena keikutsertaan harus melewati persetujuan ketua komite
siswa dulu maka bolehkah aku minta tolong kepadamu? aku benar-benar ingin
mengikuti kompetisi itu.”
“bukankah sudah kubilang kau melakukan sesuatu
yang tidak berguna."
“sunbae... aku hanya ingin terus berusaha...” aku
menunduk
Dia memandangku beberapa saat, “oke, letakkan itu
disini.” dia menunjuk mejanya masih sambil fokus menulis tanpa melihatku.
Aku terkejut, benarkah apa yang kudengar? aku
tersenyum senang kemudian berjalan menuju mejanya lalu meletakkan tumpukan
naskahku disana.
“gomawo sunbae!!” aku tersenyum sambil membungkuk
kemudian berbalik keluar pintu.
Diluar ruangan, aku baru tersadar belum memberikan
alamat pengiriman naskah untuk kompetisi. aku berbalik kembali ke ruangan tanpa
mengetuk aku langsung masuk
“sunbae... aku lupa memberitahu.........” aku
terkejut ketika aku melihat dia sedang memegang naskahku dengan tangan kiri dan
di tangan kanannya sedang memegang pematik api.
“Apa yang kau lakukan???!!!” aku berteriak, mataku
terbelalak
Dia
tersenyum, “aku tidak suka mengotori mejaku dengan hal tidak berharga seperti
ini.” kemudian pematiknya menjala dan dia mendekatkan pematik itu ke kertas
naskahku
“KIM BAE SOO!!!!” aku berteriak marah.
Terlambat.. api sudah melalap kertas naskahku.
kurasakan kepalaku ingin meledak. aku menghampirinya
PLAKKK!!! aku menamparnya keras.
Bae soo terlihat kaget, kemudian dia memandangku
lagi dengan tatapan tajam dan senyuman sinis.
“Kau
pecundang... suatu saat kau akan berterima kasih padaku karena menyadarkanmu
tentang hal ini. kau tidak akan bisa menjadi penulis skenario seperti impianmu
itu. kau terlalu berharap tinggi.” nada suaranya tenang, dia tersenyum.
kemudian senyumnya menghilang digantikan oleh tatapan mengancam.
Aku masih menatapnya marah. mataku perih menahan
air mata agar tidak mengalir di pipiku.
“Kau akan menyesal telah melakukan ini padaku.”
aku berbalik meninggalkannya, membanting pintu. dia mengibarkan bendera perang.
dan sejak saat itu aku membencinya lebih dari aku mencintainya sebelumnya.
***
ost: 2NE1-Hate You
3
“Yoora~ssi, selama pengambilan gambar kau duduk di sampingku.
aku membutuhkan saranmu.” direktur woobin menyuruhku duduk di sampingnya di
tempat kami mengambil gambar itu.
“Baiklah saesengnim.” aku segera duduk di sampingnya.
Saat itu kami sedang mengambil take di
sebuah club malam. park yubin yang diperankan bae soo adalah seorang agen
rahasia muda yang sedang menjalankan misi rahasia untuk mengungkap kejahatan seorang
bos mafia wanita yang seksi dan cantik. dalam menjalankan aksinya, yubin yang
memang memiki sifat playboy dan pintar menarik hati wanita mendekati musuhnya
dengan cara ini. Namun ternyata Yubin pada akhirnya malah mencintai wanita itu,
dan mengorbankan dirinya untuk wanita itu.
Aku memandang bae soo yang sedang take. “Action!!” direktur
woobin memulai take.
Bae soo sedang terlihat duduk di sebuah bar sambil
meminum segelas whisky, sambil menatap sesosok wanita yang memerankan sebagai
sang bos mafia cantik yang sedang duduk di sofa dengan beberapa penjaganya.
kemudian bae soo sedang terlihat berusaha mendekatinya dan mengajaknya
melantai. mereka pun melantai dan melakukan tarian seksi dan provokatif. bae
soo melilitkan kedua tangannya ke pinggang wanita itu, dan wanita itu
melingkarkan tangannya ke leher bae soo. kemudian mereka meliuk-liukkan badan
sambil sesekali berciuman. Aku merutuk. itu memang keahliannya. menggoda
wanita. Kemudian take dilanjutkan di lain tempat, bae soo terlihat tidak mengalami
kesulitan sejauh ini. sial...
***
“Apa
kau yakin kita tidak akan menggunakan stuntman?” direktur woobin terlihat
khawatir
“Aniyo saesengnim. nanti kamera akan kesulitan
mencari angle nya. Aku tau dia bisa melakukannya. lagipula itu akan semakin
menunjukkan kualitas para pemainnya nanti.. penonton akan suka. percayalah..”
aku memandangnya sambil tersenyum lebar
“Aku
akan berdiskusi dengan bae soo dulu.” direktur woobin menghampiri bae soo yang
terlihat sedang dikerubungi make-up artist.
Mereka terlihat sedang berbicara, kemudian aku
melihat bae soo mengangguk kemudian tersenyum lalu menepuk pundak direktur. aku
tersenyum. kemudian direktur kembali duduk di sampingku.
“Bae
soo setuju melakukannya tanpa stunt man. aku juga sudah mempersiapkan petugas
medis jika terjadi sesuatu nanti.”
Aku
tersenyum.
30 menit kemudian, kami bersiap mengambil take
akhir. adegan berbahaya dimana tokoh yubin sedang dikejar anggota mafia dan
anggota agennya sendiri ketika menyelamatkan tokoh wanitanya. kemungkinan
adegan ini akan bisa menghabiskan banyak waktu mengingat tingginya tingkat
kesulitannya.
“Oke,
ready.. action!!”
Bae soo terlihat sedang berkelahi dengan anggota
mafia, Kemudian dia tertembak bagian pinggangnya. dia masuk ke mobil dan
mengendarainya dengan cepat.
Kemudian kami sampai pada adegan tabrakan yaitu adegan
dimana terjadi tabrakan antara mobil yubin dengan mobil lainnya yang menyebabkan
mobil yubin terbalik dan meledak. Bae soo terlihat bersiap menggunakan kostum
pengamannya, sebuah jaket anti api dan helm hitam besar. dia juga terlihat
memakai sabuk pengaman lapis 2. aku bisa melihat ketakutan di wajahnya. aku
tersenyum puas.
“Are
you sure bae soo~ah? ini masih belum terlambat..” direktur woobin menghampiri
bae soo yang sedang bersiap berada di dalam mobil.
“Tenang
hyung.. aku bisa melakukannya. percayalah padaku.” jawabnya tersenyum. aku
masih bisa merasakan ketakutannya yang berusaha dia tutupi dengan senyumannya.
Aku
ikut menghampiri Bae soo. “good luck bae soo~ah...” aku tersenyum lebar
“oke
thanks.” dia menunduk, aku dan direktur woobin kembali duduk di tempat kami,
memperhatikan layar kamera.
“Ready?
Action!!” teriak direktur, aku mengamati layar.
Bae soo terlihat menyalakan mesin mobilnya
kemudian mengendarai dengan kecepatan tinggi. aku menahan nafas. kemudian
mobilnya menabrak mobil yang dikendarai stuntman dan mobil bae soo terbalik
terpelanting beberapa kali hingga akhirnya mendarat dengan posisi terbalik.
“Cut!!!”
direktur berteriak
Aku
dan direktur langsung berlari ke mobil bae soo. bae soo terlihat tidak sadarkan
diri.
“Cepat
keluarkan dia dari situ!!!” teriak direktur woobin panik menyuruh petugas
medis.
Aku memandang bae soo yang sedang memejamkan mata
diangkat oleh petugas medis di atas kasur roda. Aku berusaha berpikir tidak
mengkhawatirkannya. ini resikonya sebagai aktor, pikirku sambil berusaha tenang,
aku mengikutinya sampai di ambulance. melihatnya sedang dibantu diberikan
bantuan pernafasan. berkali-kali petugas mengulangi menempelkan mesin pengejut
jantung.
Aku menengok ke direktur. aku terkejut, dia terlihat sangat panik dan
khawatir. lalu aku memandang bae soo kembali. dia masih belum tersadar.
tiba-tiba aku merasa bersalah..
“uhuk..uhuk..” tiba-tiba bae soo tersadar. petugas
medis terlihat memasangkan oksigen ke mulutnya, kemudian aku menengok ke
direktur, dia sudah tidak ada di situ, aku berbalik mencarinya aku melihat
direktur sedang berjalan pergi sambil mengusap matanya. dia menangis?
sebenarnya apa hubungan mereka berdua?
***
Akhirnya
proses pengambilan gambar selesai juga. Direktur mengajak semua kru dan pemain
untuk berpesta merayakannya. kami menyewa sebuah club terkenal di daerah seoul,
“kupikir
kau akan mati saat itu, bae soo~ah! hahahahaha” kata seorang kru menepuk
punggung bae soo yang sedang minum.
“Aku
harus hidup untuk menerima penghargaan sebagai aktor terbaik. hahahahaha” dia
tertawa diikuti tawa orang-orang di sekelilingnya.
“Kau
memang harus hidup. untuk menikahi soo eun!” direktur woobin tiba-tiba duduk di
sampingnya.
Aku terhenyak, soo eun? aktris itu..? aku kira cuma gosip untuk
menaikkan pamor mereka.. aku meminum seteguk lemon squash ku.
Tiba-tiba seorang wanita datang
menghampiri meja mereka, aku memincingkan mata untuk melihat wajahnya. ehm..
dia lee soo eun.. wanita itu duduk di samping bae soo kemudian mereka
berciuman. cih.. aku berharap ada paparazzi yang menangkap kelakuan mereka lalu
menjadikannya berita besar.
Mereka terlihat tertawa bersama.. kemudian aku melihat direktur
menghampiri mejaku, aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.
“hei yoora~ssi, kemarilah.. bergabung dengan kami..” direktur
yang sudah sedikit mabuk itu menarik tanganku berjalan menuju ke meja bae soo
dan soo eun. sial..
“kita harus berterima kasih kepada Yoora~ssi juga.. idenya
membuatku berakting tanpa stuntman adalah hal brilian.” bae soo memandangku.
aku merasa perkatannya lebih terdengar sindiran dibanding pujian.
“hahaha.. kalau tidak begitu kau tidak akan tau rasanya
sekarat.” aku menjawab tak kalah pedasnya.
Bae soo menatapku tajam. suara dentuman musik menusuk telingaku
“hei sudahlah yang penting kau tidak mati, bae soo~ah..”
direktur mendamaikan kami.
“ya.. ternyata nyawaku ada banyak. hahahhahahaha” bae soo
tertawa.
“yeobo, aku ingin melantai..” soo eun
mengajak bae soo menari di lantai dansa. Bae soo berdiri kemudian berjalan mengikuti
soo eun. mereka terlihat sangat intim ketika menari. gaya menari mereka
benar-benar mirip dengan adegan menari yubin dan wanita mafia itu.. aku
memandang mereka dengan jijik. pasangan serasi. berotak rusak semua. aku
merutuk dalam hati.
“kau mau melantai yoora~ssi?” direktur
yang sekarang lebih mabuk dari sebelumnya menarik tanganku ke lantai dansa.
bagus.. sekarang kami seperti peserta kompetisi dansa, bersama pasangan bae
soo-soo eun.
Direktur menarikku dalam dekapannya. tangan kekarnya menyentuh
pinggangku. aku terkejut, semua orang memandang kami, termasuk pasangan gila
itu.
“saesengnim. tolong jangan begini.. aku tidak pernah..”
Direktur melepaskan dekapannya, “mianhe yoora~ssi....” matanya
merah. tanda kadar alcohol di tubuhnya tinggi.
“hei, temani hyungku lah yoora~ssi. dia sudah bekerja keras
selama ini. dia butuh hiburan..” bae soo tertawa sambil masih berdansa dengan
soo eun.
Aku menumpahkan air yang berada di meja dekatku berdiri ke wajahnya. dia terlihat shock
Tanpa berkata apapun aku pergi meninggalkan mereka, mengambil
tasku dan pergi dari situ. aku merasa sangat marah dengan ucapan bae soo.
***
ost: Boyfriend- I Yah
Hari ini drama kami mengadakan premier.
mengundang semua wartawan dari berbagai stasiun televisi dan majalah. poster
drama kami memperlihatkan bae soo yang mendominasi. aku membenci poster itu.
tapi aku lebih memilih diam. tugasku sudah selesai. biarkan sisanya mereka yang
mengurusnya, pikirku.
Bae soo terlihat mengenakan baju hitam dan
abu-abu. dia tidak berhenti tersenyum melambaikan tangannya ke arah wartawan.
sialnya dia terlihat sangat tampan. aku menghela nafas panjang. memiliki musuh
tampan seperti dia memang tidak akan mudah. lengah sedikit bisa membuat
tergelincir.
“Apa kau merasa gugup Yoora~ssi?” direktur memandangku
tersenyum
“yah.. sedikit..” aku masih kesal dengan insiden beberapa hari
yang lalu itu. tapi sepertinya direktur tidak ingat kejadiannya.
“ehm.. mianhee tentang kejadian di club itu. aku tidak
bermaksud seperti itu..”
Aku memandang direktur kaget, dia ingat..
“ah kenchana saesengnim.. aku sudah lupa.” jawabku sambil
tersenyum
“jangan panggil aku direktur lagi.kita kan partner bekerja.
panggil aku oppa. hahahaha” direktur tertawa.
Aku memandang heran.. “aku rasa akan aneh saesengnim...”
“kalau kau masih memanggilku begitu aku tidak akan menengok.”
dia menatapku dengan mata seksinya
Aku tersenyum, lelaki ini tahu kekuatannya terletak di matanya.
dia memiliki mata seksi yang tajam dan bisa membuat orang bertekuk lutut hanya
dengan memandangnya.
“Oke... woobin oppa! hahahahahaha..” aku tertawa mendengar
ucapanku sendiri. lelaki ini memang masih berumur sekitar 30-an awal.
prestasinya sebagai CEO di usia muda telah membuat banyak orang menjadi iri. apalagi
dengan ketampanannya cukup membuat wanita rela mengantri untuk berkencan
dengannya.
Dia tertawa, kemudian mengajakku menaiki stage premier dan
duduk di kursi yang telah disediakan. dan kami mulai membicarakan drama kami
dan mempromosikannya ke wartawan yang berada disitu.
***
“yaa.. Minkyung..! kau mengambil strawberry ku!” aku menggetok
kepala minkyung dengan sendok eskrim
dia mengunyah strawberry curiannya sambil tersenyum. “jadi kau
belum bisa membalas dendam ke bae soo sunbae?”
“jangan panggil dia sunbae. terlalu bagus.” jawabku cuek sambil
menyuapkan waffle dan eskrim ke mulutku
“kalau begitu haruskah aku memanggilnya.. bae soo oppa...!”
minkyung memanggilnya oppa dengan nada suara yang dibuat-buat se-aegyo mungkin.
Aku menggetok kepalanya lagi, “sekali lagi kau memanggilnya
begitu aku akan mengunyahmu bulat-bulat.”
Minkyung tertawa terbahak-bahak. “aku sudah mengikuti setiap
minggu dramanya.. dan aku menyadari bahwa aku tidak bisa mendukungmu untuk
membencinya..”
Aku melotot. “apa maksudmu?”
“Dia terlalu tampan untuk dibenci yoora~ssi...”
“Kalau kau membela dia, kita bukan teman lagi.” jawabku cuek
memakan es krim cokelatku.
“yaaaa!!” minkyung memasang muka protes. “jadi kalau kau dapat
gaji, kaya dan terkenal kau tidak akan memberikanku uang?”
“aniyo..” jawabku mengunyah waffle terakhir
tokk! Minkyung menngetok kepalaku dengan sendoknya. aku melotot
padanya, dia tertawa terbahak-bahak.
“tapi yoora~ssi, naskah drama yang kau
buat memang bagus. ditambah sutradara tampan itu yang mengatur segalanya,
ditambah pemain utamanya yang menawan. aku yakin.. drama kalian akan mendapat
pernghargaan..”
“semoga. Aku dapat the best screenwriter..”
“terlalu dini untukmu..”
“heh??” aku melotot lagi. “kalau begitu kau bayar sendiri
makananmu..!”
“yaaa yoora~ssi.. aku tidak bawa uang sekarang...” dia
mengerutkan bibirnya
“aku tak peduli..” tiba-tiba sakuku bergetar. woobin oppa
meneleponku.
“annyeong oppa.. ada apa?”
Kulihat minkyung tersenyum jahil mendengarku memanggil direktur
dengan panggilan “oppa”. aku mendelik padanya menyuruhnya berhenti melakukan
itu.
“annyeong yoora~ssi.. drama kita menang cheoshang award!!”
Aku tertegun beberapa saat..
“haloo.. haloo.. kau masih mendengarku?”
“eh.. ye oppa.. drama kita menang kategori apa?”
“the best actor!! bae soo...!” suara woobin oppa terdengar
senang
“oh..” aku menunduk.
“kenapa? kau tidak senang?”
“aniyoo.. jelas aku senang.. hasil jernih payah kita tidak
sia-sia..”
“ye.. bae soo akan menghadiri acara award itu untuk menerima
piala. maukah kau datang bersamaku?”
“ehm.. aku tidak bisa oppa..aku sedang membuat naskah baru. aku
ingin segera menyelesaikannya.”
“kau membuat naskah baru?? benarkah?? kita harus membicarakan
lagi tentang naskah barumu!”
“ehmm.. ye.. nanti ya oppa. biarkan aku menyelesaikannya dulu.”
“oke.. yoora~ssi.. annyeong.”
“annyeong.”
ceklek.
“kenapa yoora~ssi?”
“bae soo mendapat penghargaan karena drama yg kutulis. itu
ironis sekali. menguntungkan musuh...”
Minkyung memandangku. “mau sampai kapan kau akan membencinya? itu
sudah 5 tahun yang lalu.. balas dendam tidak akan bisa mengembalikan semuanya
Yoora~ssi.. kau harus melupakan masa lalu.”
“Aniyo.. aku tidak akan berhenti sampai dia menarik lagi
ucapannya padaku dulu. kita lihat saja nanti..” jawabku sambil menatap tajam
minkyung.
“kau mengerikan yoora~ssi.” minkyung menatapku ngeri.
aku tersenyum sinis
***
5
Siang itu aku sedang berbelanja di sebuah
pusat perbelanjaan terkenal di daerah cheongdamdong. aku membeli beberapa
potong baju dan sepasang sepatu. sejak bae soo menerima award, gajiku semakin
naik, baiklah.. biarkan dia bersenang-senang dulu.. aku akan menghancurkannya
sebentar lagi.
ketika aku sedang memilih baju lain, aku melihat soo eun. dia
menatapku mencoba mengingat siapa aku, kemudian dia menghampiriku.
“annyeong yoora~ssi.. aku harus berterima
kasih padamu, karena berkat naskahmu, bae soo menjadi terkenal dan meraih
penghargaan yang dia inginkan selama bertahun-tahun.. kau pasti sangat peduli
dengan bae soo.” dia tersenyum dingin
“Kau tidak perlu berterima kasih padaku. aku tidak berusaha
membuatnya mendapat popularitas seperti ini.. kau pasti salah paham.” jawabku
sinis
Dia terdiam menatapku. Wajah innocent dan
polosnya membuatnya jadi kesayangan para sutradara drama, editor majalah dan
produsen iklan. tapi sifat aslinya tidak akan disukai oleh wanita dan lelaki
manapun.. ehem kecuali bae soo. terlalu angkuh. sangat bertolak belakang dengan
penampilannya
“kau menyukai bae soo kan?”
Aku menatapnya. sebenarnya aku terkejut dengan pertanyaannya,
tapi aku berusaha agar keterkejutanku tidak terlihat di wajahku.
“Apa kau bercanda soo eun~ssi?”
“aku melihatmu menatapnya sepanjang waktu.”
“menatapnya bukan berarti menyukainya kan?”
“jangan berani macam-macam denganku yoora~ssi.. kau sedang
bermain dengan api.”
“aku sudah mempersiapkan airku soo eun~ssi.. jangan khawatir..”
Soo eun terlihat kesal dengan jawabanku, dia segera berjalan
melewatiku. cih, akankah kau tetap mencintainya walaupun dia tidak setenar ini
soo eun~ssi? aku mencibir.
***
“Yoora~ssi.. bagaimana naskah baru yang kau buat?”
“aku membawanya oppa..” jawabku sambil mengeluarkan tumpukan
kertas yang terbungkus plastik lalu menyerahkan padanya.
Woobin oppa terlihat membaca dengan serius, membalik
halamannya, lalu membaliknya lagi.
“ide ceritamu sangat berbeda dengan ceritamu sebelumnya..”
“ye, aku ingin mencoba hal baru, oppa.
“kau ingin aktor siapa yang menjadi pemeran utamanya?”
“Kim bae soo.” jawabku tegas
“bae soo?” oppa menatapku heran.
“Aku pikir bae soo adalah orang yang tepat memerankan tokoh
ini.”
Woo bin oppa menatapku tajam. aku balas menatapnya.
“Oke, aku akan berbicara dengan bae soon nanti.”
Aku tersenyum lebar, “gomawo oppa!”
***
Bae Soo membaca kertas naskah baru itu,
wajahnya terlihat serius. kemudian memandangku, kemudian kembali meneruskan
membaca. di dalam ruangan itu hanya ada aku dan bae soo. woobin oppa sedang tidak
pergi.
“Seorang penderita HIV?” bae soo memandangku
“ye..” aku tersenyum
“aku harus mengubah penampilanku seperti apa?”
“kau harus kurus, dan pucat.”
“berapa kilogram lagi aku harus menurunkan beratku?”
“sekitar 15 kilo lagi.”
Bae soo menatapku, wajahnya terlihat terkejut. “tapi aku tidak
pernah sekurus itu..”
Aku tersenyum sinis, “aku tidak peduli apakah kau pernah
sekurus apa. kau harus bersikap profesional.”
dia menatapku tajam, “apa maksudmu?”
“bukankah kau the best actor??” aku memiringkan kepalaku,
tersenyum mengejeknya.
Dia memandangku, terkejut dengan apa yang baru kukatakan.
“sebenarnya apa yang ingin kau katakan?”
“kau benar-benar tak ingat aku?”
Dia memandangku dengan bingung.
“ehm.. mungkin karena aku bukan siapa-siapa.. oke.. aku akan
membuatmu ingat padaku..” aku mengambil naskah dari tangannya, dia terkejut,
lalu aku mengambil pematik di meja woobin oppa. aku menyalakan dan membakar
naskahku sendiri.
“ingat, sunbae?”
Dia terhenyak. kemudian berusaha kembali tenang. “oh kau..”
“Sekarang aku ingin kau mencabut kembali ucapanmu waktu itu.”
aku mematikan apinya lalu membuang sisa kertas itu ke tempat sampah
“Ucapan apa? dia mendekatiku menatapku tajam sambil tersenyum
“apakah aku perlu memukulmu agar kau ingat?” aku menatap matanya.
“seingatku dulu kau tidak segalak ini..” dia masih menatapku
masih tersenyum khas nya.
“Percayalah pukulanku akan lebih sakit dari tamparanku yang
dulu.” aku menyatukan kedua tanganku bersiap memukulnya.
Tiba-tiba pintu terbuka, woobin oppa masuk dan melihat kami
dengan wajah serius.
“Ada apa dengan kalian? bagaimana bae soo? kau akan menerima
tawarannya?” oppa duduk di sofa, bae soo berbalik memberi tatapan mengejek
kemudian duduk di sofa
“ehm tentu.. aku adalah aktor profesional
hyung. aku bukan amatiran yang bekerja hanya untuk membalas dendam pada orang
lain.” katanya sambil tersenyum menyeringai, aku marah mendengar ucapan
lancangnya itu. aku menggenggam tanganku erat sampai kurasakan telapak tanganku
terasa sakit.
Woobin oppa menatap kami dengan curiga. “apa ada sesuatu yang
terjadi diantara kalian?”
“aniyo oppa. kami hanya sedang reading
sambil belajar gesture untuk peran baru bae soo. dia bingung bagaimana berperan
menjadi seorang pengidap HIV AIDS.. ehm.. perlukah kita mengirimnya untuk
observasi di pusat rehabilitasi?” aku tersenyum
Woobin oppa menggosok dagu dengan tangannya, “kalau itu
diperlukan kenapa tidak?”
aku
tersenyum, “bagaimana bae soo.. kau akan kesana?” tanyaku lembut
Bae soo menatapku seperti sedang berhadapan dengan musuh.
kemudian tatapannya berubah menjadi senyuman aneh, “oke.. aku akan kesana. bukan
hal sulit untukku.”
Aku menelan air ludahku pelan, sambil
tersenyum. “oke, pertemuan selesai. mulai sekarang dalam jangka waktu sebulan
kau akan menurunkan berat badanmu 15 kilo dan setiap hari selama sebulan itu
kau akan observasi ke pusat rehabilitasi penderita AIDS.” aku berdiri berbalik
lalu pergi keluar ruangan itu. Kau akan menyesal Kim bae soo.. aku menggeram.
***
ENDING OST
J-Min Stand Up











.jpg)










No comments:
Post a Comment