Friday, February 22, 2013

milky way in Busan [part 16-20] FINAL


16

                Rabu pagi, aku dan jonghae berjanji bertemu di depan taman. namun aku sedikit terlambat, aku berlari menuju ke arahnya. dia terlihat sedang memandang jam tangannya.
      Sambil mengatur nafasku aku berjalan menghampirinya, “maaf jonghae~ah.. aku terlambat.”
      “kau terlambat 20 menit. kau rugi beberapa ribu won.”
      Aku cemberut. “oke, sekarang kita berangkat!”
      “Mau kemana?”
      Aku hanya tersenyum lebar memandangnya. kemudian menarik tangannya pergi. kami berjalan menuju warung ramyun bibi. sudah lama sejak aku debut aku berhenti bekerja disana. aku rindu sunghyun dan bibi.  

      “Ahjmuma....” aku memanggil bibi yang sedang berada di dapur.
      “Luna~ssi... I’m so miss you..” bibi tersenyum lalu memelukku, bibi lalu memandang jonghae yang berdiri di sampingku dengan tatapan heran
      “Annyeong haseo, Jae ireumen Lee Jong hae imnida” jonghae memperkenalkan diri sambil membungkuk.
      “aah... jonghae~ah.. annyeong. do you want to eat ramyun Luna~ssi?”
      “No ahjumma.. I’m coming for helping you.” jawabku tersenyum lebar
      “helping?” ahjumma terlihat bingung
      “yes, jonghae and I will helping you in ramyun today.”
      Aku bisa melihat jonghae memandangku kaget, “right jonghae? ahjumma looks very busy..” tanyaku memandang jonghae dengan tatapan memohon
      Jonghae menghela nafas kemudian memandang ahjumma, “yes ahjumma.”
      Aku tersenyum penuh kemenangan. kemudian kami segera memakai celemek seragam warung ramyun ahjumma. dan melayani pembeli yang datang, jonghae terlihat mempesona melihatnya menawarkan menu kemudian mengantarkan pesanan sampai ke meja. aku tertawa sendiri, jonghae menyadari aku memperhatikannya

      “kamu yang bilang kamu akan membantu ahjumma, tapi kau hanya berdiri disini sambil memperhatikanku..” dia menghampiriku
      “mianhe.... oke..oke..” aku segera menuju dapur membantu ahjumma menyiapkan ramyun
      Kemudian sunghyun masuk, dia terlihat baru pulang sekolah. dia tertegun ketika melihat jonghae dan aku sedang melayani pembeli, wajahnya terlihat tidak senang. kemudian masuk ke dapur, meletakkan tasnya.
      “Apa yang kau lakukan disini noona?”
      “membantu ahjumma..”
      “lalu apa yang dia lakukan disini?” Tanya sunghyun sambil menatap jonghae
      “dia disini untuk membantuku dan ahjumma.” jawabku sambil tersenyum
      “Aku sudah datang, kalian bisa pergi.”
      “Sunghyun~ah...” aku memandangnya, wajahku terlihat memohon
      “noona..jangan menatapku seperti itu.”
      “please sunghyun~ah.. dia sebenarnya baik kok.. kenapa kau tidak berkenalan dengannya saja?” aku menarik tangan sunghyun berjalan ke arah jonghae.
      “jonghae~ah, ada yang ingin berkenalan denganmu.” kataku sambil melepaskan peganganku. aku tersenyum lebar, menatap sunghyun memberi kode. namun sunghyun hanya memandangku kemudian memandang jonghae. diam.
      “annyeong haseo, aku jonghae.” tiba-tiba jonghae mengulurkan tangannya ke sunghyun sambil tersenyum


      Sunghyun terhenyak melihat jonghae bersikap seramah itu, kemudian sunghyun menyambut uluran tangan jonghae, “annyeong, aku sunghyun.” jawabnya sambil tersenyum pendek.
      Aku tersenyum puas melihat mereka berdamai. kemudian aku ke dapur, “who’s that man Luna~ssi? is he your boyfriend?” ahjumma tiba-tiba bertanya padaku sambil tersenyum menggoda
      “ahjumma.....~~” aku menjawabnya dengan nada manja. “I don’t know what kind of our relationship...” aku tersenyum sambil menunduk.
      “Hwaiting Luna~ssi.. he looks like a nice guy.” ahjumma menyenggol pundakku.
      “yes, I think so, ahjumma...” aku tersenyum lebar memeluk ahjuma dari samping.
***
      “kita mau kemana malam ini?” Tanya jonghae ketika kami keluar dari warung.
      “malam ini aku ada undangan pesta dari sebuah majalah. temani aku..”
      “no..”
      “ahhh jonghae~ah aku baru debut.. aku harus datang, tidak baik memberi kesan bahwa aku adalah orang yang angkuh..”
      Jonghae menatapku, kemudian memandang ke arah lain sedang memikirkan permintaanku.
      “please jonghae~ah...” aku memandangnya dengan tatapan memohon
      Kemudian jonghae berjalan meninggalkanku.
      “yaa.. jonghae~ah.. aku mohoonnnnn..... aku akan sendirian disana. aku tidak mengenal siapapun...” aku berteriak memohon
      Jonghae menengokku, “oke. jam berapa?”
      Aku terkejut, “jam 7 malam!” jawabku tersenyum lebar, selebar-lebarnya.
***

      Jam 7 malam tepat jonghae menelponku memberitahu dia di depan rumahku. aku keluar memakai feather coat tebal. udara cukup dingin..
      Aku masuk ke dalam mobil jonghae, lalu segera berangkat menuju ke tempat pesta. pesta ini lumayan besar karena yang menyelenggarakan adalah sebuah majalah terkenal di korea yang bekerja sama dengan beberapa desainer terkenal. ketika aku masuk ke dalam ruangan, aku terpana, orang-orang disana rata-rata model yang pernah menjalin kerjasama dengan majalah tersebut. 

ketika aku menengok ke samping jonghae tidak ada, kemudian aku mberbalik menengok belakang, dia sedang memandangku. aku juga baru menyadari dia memakai tuxedo hitam dan dasi kupu-kupu, terlihat sangat tampan.
      “ada apa jonghae~ah? apa kau sedang terpesona?” aku tersenyum jahil
      “sedikit...” jawabnya pendek sambil mengalihkan pandangannya ke depan, aku bisa melihatnya tersenyum.”
      Aku menyeringai, aku berusaha agar tampil menarik hari ini dengan mini dress merah marun dan rambut digulung, tapi tanggapan jonghae hanya “sedikit.” egh.. aku menghela napas pelan.
      “Jonghae~ah...” aku memanggil jonghae yang sudah berjalan di depanku. ketika aku menghampirinya aku melihat dia menatap tajam lurus ke depan,

      “Ada apa jonghae?” aku menelusuri arah pandangannya. wanita yang di toko pakaian itu bersama seorang lelaki tua.. sebenarnya siapa wanita itu? mengapa jonghae...?
      “jonghae~ah..” lelaki yang bersama wanita itu memanggil nama jonghae. aku memandang jonghae lagi dengan heran
      Jonghae masih terdiam tidak bergeming masih menatap tajam
      Lelaki itu berbicara sesuatu dengan jonghae dalam bahasa korea, sementara wanita disampingnya terlihat aneh, wajahnya menunjukkan ekspresi canggung, dan takut. Aku mendengar nada jonghae meninggi, sementara lelaki tua itu menarik tangan jonghae, jonghae melepaskannya dengan kasar,
      “Ayo kita pergi.”  Jonghae menarikku kuat. aku terkejut sambil mengikuti langkah jonghae meninggalkan ruangan itu. ketika aku berbalik melihat lelaki itu, dia terlihat marah, sementara wanita itu terlihat sedih. aku kembali memandang jonghae,
      “ada apa jonghae? siapa mereka?” tanyaku ketika kami sudah di dalam mobil.
      “bukan siapa-siapa.”
      “bohong!! wanita itu yang di toko kemarin kan? siapa dia? apa hubungan lelaki tua itu denganmu?? jangan diam saja jonghae!! ” tanyaku kesal. aku lelah jonghae selalu menutup-nutupi segala sesuatu yang terjadi di hadapanku. itu membuatku merasa aku tidak dianggap.
      Jonghae tidak menjawab pertanyaanku. dengan kasar dia menyalakan mobil, raut wajahnya terlihat sangat marah. dia mengemudi dengan cepat, dengan kecepatan 100 km/jam cukup membuatku ketakutan.
“pelan-pelan jonghae, kau bisa membunuh kita berdua.” kataku pelan
Dia masih membisu, tidak mengurangi kecepatannya. untung ini korea bukan Indonesia, di Indonesia kecepatan seperti itu hanya diapakai di arena balap. aku benar-benar merasa ketakutan sekarang. aku tidak pernah melihat jonghae marah seperti ini. aku menunduk.
Mobil Jonghae berhenti di sebuah rumah yang cukup besar. aku masih ketakutan. jonghae keluar mobil. Jonghae membuka pintuku, dan melihatku menunduk.
“keluarlah. ini apartemenku.” katanya pelan, tapi aku masih bisa merasakan kemarahan dalam nada ucapannya
“tidak. aku ingin pulang.”
“aku harus menebus kesalahanku tadi. kau meninggalkan pesta karena aku.”
Aku memandangnya. “kau membuatku takut.”
“maaf.. turunlah.”
Aku turun kemudian kami berdua masuk ke apartemen jonghae. apartemennya lebih kecil dari apartemen yoomin, tapi aku merasa nyaman ketika masuk ke sana. jonghae mengambilkanku segelas air minum. aku meminumnya pelan

“menginaplah disini.”
Aku tersedak, “uhuk uhuk.. emm.. apa?” aku membelalak
“menginaplah disini.” katanya memandangku
wajahku memerah. aku merasa aneh, apakah maksudnya...?
“aku tidak bilang kalau kita akan.. melakukannya. tapi jika kau mau.. kita bisa..” katanya masih memandangku dengan tatapan aneh
Aku menjadi salah tingkah, tiba-tiba jonghae menarikku ke dekapannya, menciumku dengan hasrat. aku hanya diam membelalakkan mata tidak mempercayai apa yang sedang jonghae lakukan padaku, 



dia mencium bibirku.. tapi kemudian kurasakan bibirnya sudah dileherku, lalu tangannya sedang berusaha membuka resleting gaunku. aku terkejut dan secara refleks aku mendorongnya menjauh
“apa.. yang.. kau lakukan jonghae?” aku syok
Jonghae tidak menjawab pertanyaanku, dan menarikku lagi dalam dekapannya, mencium leher dan telingaku. aku merasa ada yang aneh dengannya, aku mendorongnya lebih keras
“hen..ti..kan..” aku mundur menjauh..
“kenapa Luna~ssi? aku hanya ingin menebus kesalahanku. tadi aku mmebuatmu pergi dari pestamu.” jawabnya sambil maju mendekatiku, aku terjepit diantara tembok dan dia


“kau aneh Jonghae.. aku mohon.. hentikan..” aku memandangnya ketakutan, wajahnya mendekat ke wajahku
“bukankah ini yang kau inginkan? kau menyewaku untuk ini kan?”
PLAAKKKK aku menamparnya keras. dia terlihat kaget. kemudian mundur,
“kau picik sekali jonghae. aku tidak menyangka kau akan melakukan ini padaku. aku bukan seperti wanita-wanita yang pernah menyewamu untuk melakukan ini!!!!” aku berteriak keras. tanpa kusadari aku sudah menangis terisak, hatiku sakit. jonghae.. kau menyakiti hatiku..

Aku memakai jaket feather ku kemudian melangkahkan kaki pergi dari apartemennya. aku melihat jonghae hanya terdiam termenung.. jarak rumahku dan jonghae tidak terlalu jauh, aku berjalan dalam kegelapan. selama di perjalanan aku terus menangis tersedu-sedu. aku tidak menyangka.. masih tidak percaya jonghae menganggapku seperti wanita-wanita itu. aku tahu jonghae mengikutiku di belakang. dia membisu sambil terus mengikutiku. aku tidak ingin memandangnya. aku ingin cepat pulang ke rumah, sendirian. Oh Tuhan...
***


17
      Esok paginya aku bangun siang, semalam aku tidak bisa tidur. aku menangis sampai aku kelelahan kemudian jatuh tertidur. aku bangun mencuci muka, kulihat di kaca wajahku benar-benar berantakan. mataku bengkak parah, hidungku memerah, malam ini aku ada solo performance di peach. aku menghela nafas. semoga mataku tidak sebengkak ini nanti malam. aku tidak mau orang-orang yang melihatku berfikir aku sedang patah hati.. aku memang sedang patah hati.. aku tersenyum pahit. Seharian ini aku hanya mengurung diri di rumah. aku hanya makan ramyun instan yang kubeli di minimarket beberapa hari yang lalu. aku hanya terlentang tidur menatap langit-langit rumah, atau melamun memandang langit lewat jendela. hidupku serasa berhenti seharian ini.

***
      sekitar jam 7 aku pergi ke peach, aku menghampiri gwangmin di meja bar dan memesan sebotol minuman ketika aku mendengar suara dari stage. bukankah waktuku untuk tampil? aku berdiri mendekati stage, aku melihat jonghae sedang mempersiapkan gitarnya, dia terkejut dengan kehadiranku. aku berbalik pergi kembali ke meja bar. aku terlalu lemah untuk memandang wajahnya. aku masih marah dengannya. memandangnya lama-lama bisa meruntuhkan pertahananku. aku ingin memberi pelajaran kepadanya, karena menganggapku seperti wanita murahan.
      “annyeong, I will sing a song. this is my song for someone. I feel sorry for her.”
      Aku tertegun mendengar kata-katanya. tapi aku masih belum mau bergeming dari kursi bar ku.
      “Luna~ssi, jonghae singing a song now.” gwangmin memberitahuku
      “I don’t care.” aku menunduk menenggelamkan kepalaku diantara lenganku.


      Lagu jonghae berisi lirik dalam bahasa inggris dan jepang. aku mengerutkan dahi, mengapa bahasa jepang? aku menghela nafas panjang
      “Luna~ssi, do you know japanesse?” gwangmin kembali mengusikku
      “No.” jawabku malas
      “the lyrics is so touched. do you want to know what it means?”
      “no.”
      “that song is about...”
      “I don’t care, gwangmin~ah...” aku mendongak menghentikan kata-katanya.
      “okay..” gwangmin meninggalkanku sendiri, aku kembali menenggelamkan kepalaku, seperti orang yang telah kehilangan semangat hidup.
      Kemudian lagu jonghae berakhir, aku mendongak, gwangmin datang sambil meletakkan secarik kertas di depanku.
      “what is this?” tanyaku
      “just read it.” jawab gwangmin sambil tersenyum
      Aku mengambil kertas putih itu dan mulai kubaca.

its hard to say your mind
because of the eclipse in your heart
I can tell you my own
if you wanted me to do so
if you searching for the shadow
I will reach out my hands
we will meet again someday
dreaming of you
till I get enough of you
I don’t wanna see you feeling blue
I don’t wanna see your light is gone
we will meet again someday
I want to watch over you
until that day comes
I don’t know but I believe that
we can be the one we both know


Note: Now, you know the meaning
of the lyrics,  right? J



      

Aku mematung, dadaku berdesir, kedua mataku terasa panas. aku berdiri, berjalan pelan mendekati stage. kupandangi jonghae yang sedang memasukkan gitarnya ke dalam case nya. aku diam berdiri tepat di depannya, ketika sadar aku di depannya, jonghae terkejut,
      “maaf...” dia mendekatiku
      “kita masih punya waktu empat hari, mari kita manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.” kataku menatap matanya
      “oke..” sebuah senyuman muncul di wajahnya, “maukah kau keluar denganku setelah kau perform nanti?”
      “oke...” jawabku sambil berbalik, berjalan, aku tersenyum lega..
***
      Malam itu kami duduk di pinggir pantai, mengobrol,
      “lelaki itu adalah ayahku. dan istri barunya.” jawabnya sambil meneguk bir kaleng yang kami beli di minimarket
      “ibu tirimu?” tanyaku sambil menatapnya
      “dan mantan kekasihku.” katanya lagi menerawang laut
      Aku terkejut. “jonghae~ah.. ibumu?”


      Tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah foto kecil dari dompetnya, kemudian memberikannya padaku
      “ini ibuku dan hyungku.”
      “kau punya hyung?” aku terpana
      “ya. hyung meninggal kecelakaan motor setahun yang lalu. dan kemudian ibuku sakit. ayahku meninggalkan kami dan kemudian baru kuketahui dia telah menikah dengan tae yoon.. wanita itu.” raut wajah jonghae terlihat sedih
      “apakah kalian belum putus saat itu?”
      “belum. walaupun tidak ada kata putus, aku sudah melenyapkannya dari hidupku.”
      Aku menatap laut, “itukah alasanmu bekerja menjadi host?”
      “Penghasilan menjadi host bisa membiayai biaya rumah sakit ibuku.”
      “walaupun sebenarnya kau mencintai musik?”
      “ya...”
      “dan karena tae yoon, kau bersikap dingin padaku?”
      “ya.”
      “lalu wanita berbaju merah itu?”
      “dia juga.”

      Aku menunduk menatap pasir yang mengotori kakiku, “jonghae...”
      dia menengok, memandangku, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya dan mencium dahinya lembut. kusentuh wajahnya dengan kedua tanganku. 

dia terkejut, kemudian dia tersenyum dan menciumku...


***



      dia mengantarkanku sampai rumah.
“tunggu, bolehkah aku tau kenapa kau mendekatiku waktu aku perform tadi?”
      “aku tahu arti lirik lagumu.”
      “kau bisa berbahasa jepang?” tanyanya terkejut.
      “tidak.”
      “kau tahu darimana?”
      “rahasia...” aku mengedipkan sebelah mataku.
      Jonghae menciumku sekali lagi, lalu tersenyum memandangku sampai aku memasuki rumah.
***
18
      Esok paginya jonghae menjemputku, mengajakku mengunjungi ibunya.. kami berhenti di sebuah.. rumah sakit jiwa? aku tercengang. sakit ibu jonghae adalah..
      “apa kau terkejut?”
      “iya. ayo kita masuk..” kataku sambil mengajak jonghae masuk
      kami tiba di sebuah ruangan, terlihat seorang wanita duduk di ranjang,


      “umma..” jonghae memanggil ibunya
      Ibu jonghae menengok, kemudian senyum mengembang di wajahnya.
      “jonghae~ah.. “ ibunya memeluk jonghae.
      Ibunya tiba-tiba memandangku, terlihat bingung “jonghae~ah..?”
      “oh.. umma.. luna~ssi..” katanya sambil memperkenalkan aku. aku maju menghampiri ibunya. ibunya terlihat pucat. namun masih terlihat tanda-tanda bahwa dia sangat cantik pada masa mudanya. aku tersenyum,
“ommonim..” aku memanggilnya ibu.
      Ibunya tersenyum lebar ketika mendengarku memanggilnya ibu. 

kemudian mengusap wajahku dengan kedua tangannya. aku teringat mama.. 
ibunya tiba-tba mengambil sebuah pigura dari meja yang terletak di samping ranjangnya, ketika aku melihatnya, itu adalah photo jonghae sedang memeluk seorang laki-laki yang kulihat di pesta, ayahnya. aku menengok ke jonghae dnegan bingung,
      “umma tidak membiarkanku membuang photo itu.” katanya pelan
      Ibunya terlihat memandang photo itu dengan bahagia, aku menjadi sedih. kenapa orang bisa berubah jahat seperti itu.
      Jonghae berbicara dalam bahasa korea dengan ibunya, mengajaknya keluar untuk berjalan-jalan di taman rumah sakit. ibunya menggunakan kursi roda, jonghae mendorongnya dan aku berjalan di sampingnya. Hari itu aku melihat jonghae lebih terlihat seperti manusia. senyuman dan tatapan matanya terlihat hidup, hatiku berdesir.
aku berjanji akan selalu mencintainya.

***
      malam harinya aku pergi ke apartemen jonghae membuatkannya kimbap berisi crab yang pernah kujanjikan. dia memperhatikanku selama aku sibuk di dapur. kadang dia menggodaku, menyembunyikan pisau atau alat penggulung kimbap. terlihat senang jika aku mengerutkan bibir dan dahiku.
      Tiba-tiba bel apartemen berbunyi. jonghae melihat di alat cctv untuk melihat siapa yang datang, aku memperhatikan jonghae dari dapur. setelah melihat alat itu, dia berbalik kemudian bersandar di dinding. bel masih berbunyi,

      “jonghae~ah kenapa kau tidak membukanya? siapa yang datang?”
      “tae yoon.” jawabnya termenung
      Aku terkejut, menghampiri jonghae. duduk di lantai memandang wajahnya yang sedang menunduk, “apa kau ingin membukanya?”
      “tidak.”
      “tidak apa-apa jika kau ingin membukanya, berbicaralah dengannya jonghae.”
      dia memandangku. wajahnya terlihat bingung. aku menatapnya, memberi kekuatan padanya lewat tatapan. jonghae berdiri, berjalan pelan ke arah pintu. membukanya. kemudian muncullah wanita itu. wanita itu terlihat lebih tua dari jonghae, namun masih terlihat cantik dan terawat. dalam bahasa korea, mereka berdebat. kemudian tae yoon tersadar aku sedari tadi berdiri diam memperhatikan mereka. kemudian dia menghampiriku.


      “please, tell him to forgive me.” katanya sambil meneteskan air mata. aku tertegun memandangnya.
      “I don’t have the right to forcing him, let him choose, he will forgive you or not.” aku menatapnya tajam.
      Tae yoon menangis tersedu-sedu. di belakangnya jonghae memandang kami dengan tatapan dingin.
***

      “apa yang dia katakan tadi?”
      “dia minta aku memaafkannya.”
      “dia bilang alasannya meninggalkanmu dan menikah dengan ayahmu?”
      “taeyoon bilang dia butuh uang untuk melunasi hutang keluarganya. kemudian ayahku datang dan menolongnya. saat itu dia tidak tahu itu ayahku.”
      Aku menghela nafas, “apa kau akan memaafkannya?”
      jonghae tidak menjawab pertanyaanku. dia memandangku. “apakah aku harus memaafkannya?”
      “setelah melihat dia menangis tadi, menurutku dia juga tersiksa selama ini. terserah ini tetap menjadi keputusanmu. tapi cobalah menghadapinya, jangan bersembunyi dari masalah, jonghae..” kataku sambil menyentuh pipinya.
      Dia menatapku sedih, “aku tidak tahu lagi sampai kapan aku akan bisa bersembunyi.”
      “bersembunyilah dimanapun kau berada, aku tetap akan menemukanmu, Jonghae~ah..” aku tersenyum lebar sambil menyuapinya kimbap. dia membuka mulutnya dan mengunyahnya.
      “bashita..” katanya sambil tersenyum manis.
      “yeeeesss!!! aku tau kau pasti akan suka!!” kataku berteriak keras.
      “menginaplah disini.”
      Aku terhenyak, memandangnya curiga.
      “maksudku, kau bisa tidur di kamarku, dan aku di sofa.” dia menjelaskan
      Aku tersenyum. “oke...”
      Dia mencium pipiku. “I love you Luna~ssi.”
      “I love you too.. sejaaakkkk duluuu kalaaaaa.....” aku membuat suara lucu, Jonghae mengusap kepalaku, tertawa melihatku.


***
      Pagi-pagi aku bangun membuatkan Jonghae kopi panas. aku tertawa geli, aku seperti istri jonghae, hihihihi aku tersipu-sipu. aku melihat jonghae masih tertidur lelap di sofa. tiba-tiba bel apartemen jonghae berbunyi. aku buru-buru melihat alat cctv, di layar terlihat wanita itu, wanita berbaju merah. aku bingung akan membukanya atau tidak. setelah beberapa saat aku berpikir, akhirnya aku membuka pintu pelan-pelan. wanita itu terlihat kaget melihat bukan jonghae yang keluar.

      “what are you doing here?” katanya terlihat marah
      “me? and what are you doing here?” tanyaku dingin
      “I want to meet jonghae.”
      “jonghae is sleeping. don’t disturb him.”
      “what kind of relationship two of you? dia menatapku tajam
      Aku terdiam, aku bingung aku harus menjawab apa. jonghae tidak pernah memintaku menjadi kekasihnya, tapi dia sudah bilang bahwa dia mencintaiku. hubungan apa ini namanya?
      “ish, so you are nobody... hmm..get out from my way, I have to meet him!!” wanita itu mendorongku minggir sehingga aku hampir jatuh. kemudian wanita itu masuk apartemen.
      “hei, how dare you..” aku mengejarnya masuk

      “Luna~ssi, why you opened the door for her?” aku melihat jonghae sudah berdiri menatap marah ke wanita itu
      “Jonghae~ah.. don’t do that to me.. saranghaeyo.” suara wanita itu seperti akan menangis
      “get out from my house!” suara jonghae terdengar mengerikan dengan ekspresi raut wajahnya saat ini.
      “jonghae...mianhee... jonghae~ah..” jonghae menarik tangan wanita itu berjalan menuju pintu
      “so.. you acting like this because that girl? who is she?” tanyanya berkaca-kaca
      “she is my girlfriend.” jonghae menjawab tegas, aku tercengang.
      wanita itu terlihat lebih shock mendengar pernyataan jonghae.
      “so.. minjung~ssi, don’t look for me again.. go for your husband!!! ” jawabnya sambil menarik tangan wanita itu membawanya keluar pintu, kemudian menutupnya. Jonghae berbalik, memandangku,
      “jangan buka pintu sembarangan lagi, luna~ssi.” katanya sambil meminum kopi buatanku yang kuletakkan di meja
      “mianhee.. dia.. terlihat sangat mencintaimu.”
      “tapi kau terlihat berkali-kali lipat lebih mencintaiku dibanding dia.”
      aku tersenyum, duduk di sampingnya, “so.. aku kekasihmu?” tanyaku menggodanya.

      “kalau kau tak mau aku bisa mencabutnya sekarang.” katanya memasang muka serius
      “eitsss!! jangaaaann jangaaann!! aku mau aku mau!!” aku tersenyum lebar
      dia tertawa.
***



     
19
      “halo.. who is this?” hari sabtu aku mengangkat sebuah panggilan dari nomor aneh.
      “Luna.. ini mama nak..”
      “mama? mama tahu nomer ini darimana?”
      “luna, papa sakit.. pulanglah ke Indonesia.”
      “tapi mama...”
      “papa mencarimu.”
      Aku tercengang, “tapi papa membenciku.”
      “papa memikirkanmu terus sejak kamu meninggalkan rumah nak.. pulanglah..”
      aku terdiam, “mama.. aku akan memikirkannya dulu.” aku menutup telepon
***
      “Jonghae~ah.. mama meneleponku.”
      “mama mu?”
      “papa sakit.. mama minta aku pulang ke Indonesia.”

      Jonghae terlihat terkejut, kemudian menatapku, “pulanglah luna, papa mu mencarimu. kau punya keluarga yang menyayangimu. jangan samapi kau menyesal suatu hari nanti.”
      Aku tidak menjawab perkataan Jonghae. disini aku juga punya kehidupan yang lebih menghargaiku. tapi papa sedang sakit dan membutuhkanku. apa yang harus kulakukan...
      Suasana club malam itu lebih tenang dibanding biasanya. aku dan jonghae menyewa sebuah ruangan agar bisa lebih leluasa mengobrol. tiba-tiba aku ingin ke toilet, aku keluar ruangan mencari kamar kecil. di jalan menuju toilet yoomin berdiri disana, menatapku. aku mempercepat langkahku masuk ke toilet. setelah selesai aku keluar, yoomin masih berdiri disitu. suasana menjadi canggung.
      “halo luna~ssi. how are you?”
      “I’m fine yoomin~ah..how about you?”
      “I’m fine. how your album? it’s work?”
      “yes..thanks for your help.” aku tersenyum kecil
      “emm how about Jonghae hyung?”
      “emm.. it’s okay...” aku tersenyum.
      Tiba-tiba aku melihat jonghae muncul kemudian berjalan ke arah kami.
      “it’s so long time, Luna~ssi...” katanya sambil memandang yoo min dengan pandangan waspada

      Yoo min tertawa, “I see you two have a very good realtionship.” yoomin berjalan melewati jonghae. kemudian membisikkan sesuatu, jonghae tersenyum kemudian yoo min menepuk pundak jonghae. aku tertegun.. penasaran apa yang yoomin bisikkan ke jonghae.
      “apa yang yoo min bisikkan tadi?”
      “apa kau mau tahu?”
      “ya..”
      jonghae memberi isyarat agar aku mendekatkan telingaku padanya, tapi tiba-tiba jonghae mencium pipiku. aku terkejut,
      “hei... seriously!” aku memprotesnya
      “hahaha... dia bilang kalau aku menyakitimu, dia akan menghajarku lalu menculikmu.” jonghae mengerutkan bibirnya
      Aku tercengang.. kemudian aku tertawa terbahak-bahak... everything is fine now... tapi papa... apakah aku harus pulang sekarang? jonghae...
***
      “jonghae~ah.. aku ingin melihatmu menyanyi untukku.” kataku esok paginya di taman.
      “hee?” jonghae memandangku
      “bermain solo. ayolah... pleaseee....” aku memasang muka aegyo.
      dia tertawa, “hentikan itu.. kau tidak cocok ber-aegyo seperti itu..”
      “makanya, ayolah.. mainkan sekarang.. kau bawa gitar kan?”
      “aku minta bayaran..”
      “oke, aku akan mengirimkannya lewat rekening nanti.”
      “aku minta ciuman.” jonghae memandangku menggoda
      “oke.. hahahahahaha” jawabku tertawa.
      kemudian jonghae mulai memetik gitarnya, dia menyanyikan lagu “tears in heaven”, lagu lama dari Eric Clapton. aku mendengarkan sambil memandangnya tanpa berkedip..


Would you know my name,
if I saw you in heaven..
Would it be the same,
if I saw you in heaven..
I must be strong, and carry on..
Cause I know I don't belong.. Here in heaven..






***
      “Malam ini, aku akan perform di peach jam 8 tepat, kau harus datang Luna~ssi..” kata Jonghae minggu paginya
      “aku minta bayaran.”
      “aku akan mengirimkannya lewat rekening nanti.” jonghae menjawab sambil tertawa
      “aku minta ciuman.” aku memandangnya dengan tatapan menggoda.
      kami tertawa bersama. “lagu apa yang akan kau bawakan?” tanyaku
      “datanglah nanti biar kau tau..” katanya sambil mengedipkan mata
      “matamu kenapa ahjussi? kemasukan pasir? hahahahaha”
      dia tertawa sambil mengacak-acak rambutku



***
      “halo..luna.. papa masuk IGD nak.. papa memanggil-manggil namamu terus..” mama terdengar terisak-isak
      Aku terdiam beberapa saat, “Luna pulang sekarang ma..”
      “makasih nak.. hati-hati..” suara mama terisak-isak semakin keras, kemudian menutup teleponnya.
      Aku menghela nafas. malam ini aku berjanji melihat jonghae perform, dan aku mengingkari janjiku. maaf jonghae.. aku belum siap memberitahunya aku pulang malam ini dengan pesawat tujuan Jakarta.

      Aku memegang tiket pesawatku, pesawat take out jam 08.15 memandang jam tangan, pukul 07.45. aku sudah di bandara membawa koper dan ransel. aku menghela nafas. aku tidak bisa memberitahu jonghae, aku takut tidak akan bisa meninggalkannya. tiba-tiba ada telepon dari gwangmin,
      “annyeong.. what’s happen gwangmin~ah?”
      “you’re not coming tonight?”
      “I can’t...”
      “where are you now?”
      “airport.”
      “what?? is jonghae knowing this?”
      “no.”
      Gwangmin terdiam, “he’s performing now. do you want to see him?”
      tiba-tiba tampilan hape iphone ku seudah berubah menjadi tampilan jonghae sedang bermain gitar.
      “annyeong haseo, I will playing a song which composed by me, this song for my love. I don’t know is she comes or not. but I hope she will seeing now. this title is my love.
      Aku tertegun.. maaf jonghae..


     
      Aku menutup mulutku dengan tanganku, menahan agar tangisku tidak meledak. jonghae~ah.. aku tidak tahu apakah aku akan bisa kembali kesini.. aku tidak tahu apakah aku akan bisa bertemu dengamu lagi atau tidak..aku mencintaimu. Aku sudah tidak bisa menahan lagi air mataku, aku menangis terisak-isak, Oh Tuhan...
***
20
      “Mama... hari ini peringatan setahun papa meninggal kan?” aku memakai selendang hitam, membelitnya di kepalaku
      “iya, ayo kita ke makam papa nak..” mama terlihat sibuk menyiapkan bunga untuk makam papa.
      Kami pun segera ke makam papa dan berziarah, mendoakan agar papa tenang di sisi-Nya. aku bersyukur ada di sisi papa sebelum Tuhan mengambil beliau. aku tidak tahu betapa menyesalnya nanti jika aku tidak ada di samping papa pada saat-saat terakhir. aku mengingat Jonghae.. dia yang memberiku nasehat itu.. bagaimana kabarnya sekarang? aku lost contact dengannya. aku berganti nomor, karena di sini nomor korea tidak bisa digunakan. aku kehilangan kontak dengan semuanya. aku menunduk selama perjalanan pulang dari makam.


      Mobil berhenti ketika lambu merah. Aku mendongak ketika aku melihat sebuah baliho terpampang di dekat sana. aku memandangi baliho itu, aku membaca tulisan di sana, “cn blue” grup band korea.. akan konser di Indonesia.. hmm.. korea.. aku memberengut. kemudian aku memperhatikan photo satu persatu personelnya, aku hampir terlonjak ketika aku menyadari salah satunya sangat mirip dengan jonghae.. dia memakai topi. tidak mungkin.. tapi.. tiba-tiba mobil berjalan lampu sudah berganti hijau, aku masih penasaran. kemudian aku browser internet lewat handphone ku, aku ketik cn blue, dan keluar profile masing-masing personelnya. aku tertegun, menahan nafas. itu benar-benar jonghae.. atau kembaran indentik jonghae? aku panik..
      “kamu kenapa luna?”
      “luna sedang mikir ma..”
      mama tertawa.”kamu itu mikir kayak orang dikejar maling.”
      “Aku akan datang ke konsernya. aku harus beli tiketnya!!” teriakku bersemangat
      mama menatapku heran, “ya ampun anak muda jaman sekarang..” mama tertawa.
***
      pintu masuk JTEC manga dua square tempat jonghae akan konser sudah sesak dipenuhi fans mereka yang rata-rata semua wanita!! aku menggeleng-gelengkan kepalaku. aku tidak boleh dengan mereka yang masih muda!
      “gue suka jonghae oppa!! ganteng banget!!”
      “iya pas maen gitar bisa bikin gue klepek-klepek awwwww!!!!”
      Dibelakangku cewek-cewek ababil sedang dengan noraknya membicarakan jonghae-ku. aku cemburu. huh..
      Tiba-tiba antrian heboh ketika serombongan orang datang,
      “itu oppa!! oppaaaaa!! jonghae oppa!!!” cewek ababil di belakangku ini berteriak lagi. aku geram,
      “hey bisa diem gak?? jonghae juga gak bisa dengar elo kok!” aku menatap kesal ke mereka kemudian berbalik lagi.
      mereka tertegun, langsung diam, “hei bukankah dia Luna, kotak band itu?”
      Aku mendengar mereka bisik-bisik lagi. 


tiba-tiba aku melihat jonghae berada dalam kerumunan, dilindungi beberapa bodyguard. dia memakai baju putih, luaran hitam, dan kacamata hitam. dia terlihat seperti idola sekarang. terlihat tampan dan menawan. aku tersenyum, aku menyusup keluar dengan susah payah akhirnya aku berada dekat di jalan mereka lewat. ketika jonghae sudah dekat dengan tempatku berdiri, aku memanggilnya
      “jonghae~ah...”
      jonghae memandangku, kemudian berhenti. dia melepaskan kacamata hitamnya menatapku terkejut.
      “Luna~ssi...” dia mengenaliku.
      “halo...” tanpa sadar aku menitikkan air mata
      Bodyguard menuntun Jonghae agar segera masuk ke dalam ruangan, orang-orang mendesakku. berebut ingin mengejar idolanya. aku berjongkok menangis di sudut luar tribun.


      Aku membeli tiket VVIP. yang paling dekat dengan stage. aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. setidaknya aku bisa melihatnya sedikit lebih dekat dibanding aku harus duduk di tribun atas yang menonton harus dengan memakai teropong.
      Kemudian jonghae dan member lainnya keluar, melambaikan tangan disambut teriakan penonton. aku memperhatikan jonghae.. aku hanya akan mengamati jonghae, aku tidak akan melepaskan pandanganku sedikitpun darinya.








      Setelah beberapa lagu setelah dimainkan, jonghae duduk di sebuah kursi

      “halo Indonesia, saya lee jong hae.” disambut teriakan penonton. karena Jonghae lancar berbahasa Indonesia, “saya disini akan menyanyikan sebuah lagu ciptaan seseorang yang sangat penting bagi saya. judulnya “milky way in Busan.” kemudian teriakan riuh penonton menggema, aku tertegun. itu laguku... dia bilang seseorang yang sangat penting? aku tersenyum lebar.
      “tapi aku ingin mengajak seseorang berduet denganku disini. seseorang yang menciptakan lagu ini. Luna~ssi... naiklah ke panggung bersamaku!” 
      Aku terkejut. dia memanggilku? aku panik.. 
      “Luna~ssi, apakah kau kan membuatku menunggu?” penonton berteriak memanggilku agar segera naik ke panggung. aku mengangkat tanganku tinggi-tinggi.


      “aku disini jonghae~ah..”
      Jonghae terkejut memandangku yang tempatku berdiri hanya berjarak 10 meter dari tempatnya duduk. dia tersenyum, aku dibantu bodyguard berbadan kekar yang mengingatkanku pada penjaga paradise club. aku tersenyum kecil. kemudian bodyguard itu membantukua naik ke atas stage. teriakan penonton semakin keras. aku duduk di kursi yang telah disediakan di sampingnya. mengambil gitar yang telah tersedia disana.


      “ya..jonghae~ah.. kau harus membayarku untuk ini.”
      “kau lah yang harus membayarku karena meninggalkanku setahun yang lalu.” dia tersenyum kepadaku.
      “maaf...” aku menunduk merasa bersalah
      “aku paham... makanya aku berjuang agar bisa ke sini. hahaha.. hei Luna~ssi, mereka sudah menunggu kita. haruskah kita tunda dulu sampai besok?” dia tertawa
      “araso araso..siap? oke.. one two three!!”
      kami mulai memainkan lagu kami..


“milky way in Busan...”

***


~ END ~     


1 comment: