16
Aku sedang berada di sebuah taman. Taman yang penuh dengan
pohon pinus dan sun flower. Perpaduan yang aneh.. pinus memberi kesan dingin
sedangkan sun flower memberi kesan hangat. Aku merasakan kedua suhu bertolak
belakang itu bersamaan, kulitku merinding. Aku melihat Nathan sedang tidur
dibawah pinus. Disampingnya terlihat mama sedang memperhatikannya dengan
tersenyum. Aku ingin menghampiri Nathan dan mama, tapi tiba-tiba aku jatuh
terjerembab ke dalam sebuah lubang. Di dalamnya ada jess. Jess memandangku
benci. Tiba-tiba Bayu muncul dari atas, mengulurkan tangannya membantuku naik,
namun di saat yang bersamaan Nathan juga muncul mengulurkan tangannya. Aku
tidak segera menyambut salah satu tangan mereka. Lalu aku bangun.
“Kim, nak.. akhirnya kamu sadar.” Mama memandangku khawatir
“Kim..” Grace memandangku kasihan juga.
“Tolong jangan pandang aku seperti itu. Aku baik-baik saja”
“Baik gimana? Kata dokter tulang tengkorak lo retak. Gegar
otak.” Grace mengomel
“egh..” kepalaku sakit.
“Sudah jangan banyak bergerak, sayang. Tidurlah lagi.” Mama
menyelimutiku.
“em.. Grace, Nathan?”
“Dia berangkat ke London kemarin.”
“....” aku mematung memandang langit-langit.
“Nathan keburu berangkat pas gue mau ngasih tau kalo lo
kecelakaan.”
“oh.. gue pusing, pengen tidur.” Jawabku sambil memejamkan
mata.
“Tante, Grace pulang dulu ya, nanti malam Grace dateng lagi,
gantiin tante jaga Kimi.”
“Makasih banget ya Grace. Hati-hati di jalan.”
Grace keluar ruangan.
“Mama..” panggilku lirih
“Mama tau, sayang..” mama mengusap tanganku.
Tiba-tiba aku terisak menangis. Mama memelukku seperti waktu
aku kecil dulu. Aku kembali menjadi bocah. Tangisanku semakin keras, aku
terisak-isak sampai aku merasa susah bernafas.
“Kamu pasti bisa melewatinya, sayang. Ikhlaskan ya..”
Aku hanya menjawab perkataan mama dengan isakan.
v
Aku terbangun di tengah malam, mama sedang berbicara dengan
seseorang. Aku memincingkan mata agar bisa melihat dengan jelas. Bayu. Dengan
memakai sweater krem malam itu dia terlihat begitu hangat.. entah karena
kepalaku habis terbentur sesuatu atau karena aku baru bangun tidur, otakku jadi
sedikit error.
“Sayang, kamu terbangun? Maaf kalo suara kami terlalu keras
sampai membangunkanmu.” Mama menghampiriku
“Gak kok ma.. aku hanya haus.”
Bayu mengambilkan air dari teko kemudian menuangkannya ke gelas
di sebelah ranjangku kemudian membantuku bangun untuk minum.
“Makasih Bay..” jawabku setelah meminum beberapa tegukan.
“Maaf aku baru kesini Kim, aku baru dengar dari Grace.”
“Gakpapa Bay..”
“Tante istirahat saja dulu, biar saya yang jaga Kimi.”
“Iya maaf ya nak Bayu. Grace tadi telepon mendadak ada urusan
jadi tidak bisa datang menggantikan tante menjaga Kimi.”
“Iya tidak apa-apa tante, tante tidur saja di sofa.”
“Iya makasih ya.” mama segera tidur di sofa sementara Bayu
duduk di samping ranjangku.
“Bagaimana rasanya kejedot mobil Kim?” Bayu tersenyum jahil
“Pengen tahu bay? Pengen nyoba?”
“Hahahaha... memangnya kemarin kamu mau kemana pas tabrakan?”
“Nathan’s engagement
party.” Jawabku sambil menunduk
“Kim.. “ panggil Bayu lirih sambil memegang tanganku.
“Kenapa Bay? Aku gak apa-apa kok. Hehe..” senyumku pasti
terlihat aneh
Bayu tersenyum. “Aku akan membuatmu melupakan dia.”
Aku terkejut memandangnya, kemudian tanpa sadar aku menangis.
Entah kenapa aku menangis. Bayu mengusap air mataku. Menyentuh pipiku lembut.
Kemudian memelukku.
“Bay, mama akan melihat kita.” Kataku sambil masih ebrada di
pelukannya.
“Aku sudah meminta ijin sebelumnya.” Jawab Bayu masih
memelukku.
“Hah?” aku melepaskan pelukannya
“Diamlah Kim, biarkan aku memelukmu.” Bayu menarikku lagi dalam
pelukannya. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang cepat. Aku tersenyum. Bayu
orang yang baik, dan juga tampan. Aku bisa mencoba memulai dengannya. Aku
tersenyum lagi.
“Cukup Bay, aku malu mama akan melihat kita.” Aku melepaskan
pelukannya untuk yang kedua kalinya
“Mama gak lihat kok Kim.” Tiba-tiba suara mama terdengar
“Mamaaaaa...!!” teriakku malu, mama dan Bayu tersenyum.
v
17
Sudah setahun berlalu. Banyak hal berubah. Rambutku sudah
sepanjang punggung. Aku sudah mulai belajar memakai heels dan skirt. Bayu
tersenyum ketika melihatku datang memakai mini-skirt dengan boot shoes dengan heels rendah. Kami dating hari ini. kami akan makan di Blossoms.
Sebenarnya aku keberatan kami akan makan disitu. Tempat itu banyak
mengingatkanku pada Nathan. Tapi Bayu bilang aku tidak boleh terus menghindari
masa lalu. Jadi akhirnya aku setuju kami akan makan disitu. Bayu ingin mencoba
Italian cuisine disana yang terkenal enak dan terjangkau harganya.
Kami
memarkir Bruno di samping café, kemudian masuk. Waitress datang menghampiri
kami mencatat pesanan kami. Bayu memesan pasta
with pesto sauce, tiramisu, and limoncello.
Aku memesan cotoletta alla milanese,
apple pie, and garibaldi. Bayu mengernyitkan dahi ketika aku mendengar
pesananku.
“Garibaldi Kim?”
“Tenang
Bay, low alcohol..” jawabku santai
“Dasar...”
Waitress
kemudian datang lagi,
“Sorry miss, apple pie is out of stock.”
“What? But before you said that the apple pie
still available.” Jawabku kesal.
“Yes, but That’s man bought the last one. I said
the last one is yours he said he don’t care and will paid more than yours.” Kata Waitress
itu sambil menunjuk seorang laki-laki dengan leather coat.
Aku
bangkit dari mejaku untuk menghampiri laki-laki itu. Bayu mencegahku namun
setelah beberapa perdebatan, bayu merelakanku menghampiri laki-laki itu, namun
dia mengikutiku karena khawatir akan terjadi pergolakan sengit.
“Hey
mister, can you give me back my apple pie?”
Laki-laki
tinggi besar itu menoleh, dan kami berdua saling terkejut.
“Kimi..”
“Nathan..”
“What
are you doing here? What about London and your fiancée? Oh.. or your wife?”
tanyaku sambil memasang muka paling menyebalkan yang pernah kutunjukkan ke dia.
“What
are you talking about?” Nathan memandang Bayu yang berada di sebelahku, “Oh you
are dating?” Tanya Nathan sambil menyeringai.
“Not
your business.” Jawabku sambil berbalik “come on Bay..” aku menarik lengan Bayu
untuk kembali ke meja kami.
“Kim..”
Bayu memanggilku.
“Jangan
rusak kencan kita bay. Dia bukan siapa-siapa. Oke?”
Bayu
hanya memandangku. Bahkan ketika pesanan kami datang, bayu masih memandangku.
“excuse
me.. but that apple pie..?” tanyaku heran ke waitress.
“Oh
that man return that one. He said that apple pie should eaten by the right
people.” Waitress itu menjawab sambil tersenyum kemudian berbalik pergi
Aku
memandang apple pie itu. Tiba-tiba dadaku sakit.
“Kim..
apakah kamu akan memakannya?”
“Tentu.
Aku sudah berusaha merebutnya dari seseorang. Sekarang aku harus memakannya.”
Jawabku sambil mengambil potongan kecil dengan garpu kemudian memasukkan ke
mulutku.
“Kamu
tidak perlu memakannya jika kamu tidak mau Kim..” Bayu memandangku
Aku
tidak menjawab perkataannya, kemudian hanya muncul suara isakan keluar dari
mulutku. Sambil terus mengunyah aku masih terisak. Bayu terkesiap melihatku.
Kemudian dia memelukku. Mengajakku keluar café dan membawaku ke pinggir lake pinggir kota.
“Sudah
merasa lebih baik Kim?” Bayu memandangku sambil merangkul pundakku lembut.
“iya.
Maaf bay, kamu harus melihatku seperti itu.” Jawabku sambil menunduk.
“Aku
selalu disampingmu Kim..” bayu tersenyum mengusap rambutku.
“Thanks
bay..” jawabku sambil menyandarkan kepala ke pundaknya.
v
Supermarket ini ramai sekali. Orang di Negara ini luar biasa
sekali. Mereka lebih tertarik mendapatkan coupon
sebanyak-banyaknya agar nanti bisa ditukar atau mendapat potongan untuk
barang-barang yang mereka butuhkan. Di Indonesia tidak mengenal kupon semacam
itu, taunya diskon big sale atau voucher belanja. Aku tersenyum
membayangkan dulu aku berjuang mendapatkan baju yang didiskon habis-habisan
oleh salah satu mall besar di Jakarta sampai hampir bertengkar dengan ibu-ibu
bermake-up menor.
BRUKKK.. tiba-tiba aku ditubruk dari belakang
“oh I’m sorry...” orang yang menubrukku meminta maaf dengan
panik. Seorang wanita tinggi cantik.
“Oh, it’s okay. I’m fine.” Jawabku sambil tersenyum
Gadis itu melihatku heran terlihat sedang berusaha
mengingat-ingat sesuatu.
“orang Indonesia kan? Halo.. aku Sophie!! Senang bertemu sesama
orang Indonesia disini. Hahahaha” gadis cantik itu tertawa sambil menjabat
tanganku dengan bersemangat
“Oh.. iya.. kamu orang Indonesia?” aku memandang heran gadis
bernama Sophie itu. Wajahnya tidak terlihat seperti gadis Indonesia. Muka dan
posturnya bule.
“Iya... hahahaha..” Sophie masih tertawa sambil mengangkat
belanjanya. “Orang-orang disini kurang ramah. Dari tadi aku sudah ditubruk
berkali-kali. Gila..”
Aku tersenyum geli, “oh ya, aku Kimi.” Aku mengulurkan tanganku
menjabat tangannya
Dengan riang dia menjabat tanganku, “hai Kimi.. yuk lunch bareng.aku baru di sini soalnya,
temenin aku dong! Oke? Aku tidak tau dimana tempat makan yang enak. hehehe”
“emm.. okee..” kami menuju tempat parkir. Mobil Sophie Porsche
hitam. Mendengar kata Porsche mengingatkanku pada Laki-laki itu.
“Masuklah Kim..” Aku masuk ke dalam mobil
“Oke, kemanakah kita akan lunch?
Ada ide?”
“Ada restaurant deket sini yang enak steak nya, ada burger dan
hotdog nya. Gimana? Mau kesitu?”
“Oke, kita kesana!” jawab Sophie sambil menyalakan mesinnya.
Sampai disana kami segera memesan makanan. Aku takjub melihat
pesanan Sophie. 1 porsi beef burger extra large, 1 porsi sirloin steak with
sautéed onion and French fries, 1 porsi hot dog medium size dan cola. Dengan
masih takjub aku memesan beef burger medium size, apple pie dan cola.
“Kamu yakin bisa menghabiskan semuanya Soph?”
“Hahahaha.. makananku memang banyak Kim.. jangan kaget ya..”
sophie tertawa melihatku bingung.
“hahahaha... aku kaget sekarang...” jawabku sambil tertawa
Tiba-tiba handphone Sophie berbunyi.
“Haloo my beloved brother..apa? gue lagi lunch. Lo dimana? Udah
sini buruan makan bareng!! Gue di mc.
Bacon. Iya yang disamping supermarket! Udah bawel sini buruan!!” Sophie
menutup teleponnya
“Eh Kim gue boleh ajak kakak gue makan bareng kita kan ya?”
Tanya Sophie sambil tersenyum
“oh.. boleh kok..” jawabku sambil tersenyum.
15 menit kemudian..
“brothaaaa!!!” Sophie melambaikan tangannya ke arah pintu masuk
restaurant. Karena posisi dudukku membelakangi pintu masuk akupun menengok ke
arah pintu. Dan aku tercengang..
“Lama banget sih??” Sophie memukul pelan tangan kakaknya
“Sorry, gue masih muter-muter. Sempet kesasar tadi gue. Lagian
lo makan susah banget nyari tempat...”
Mata kami bertemu.
“Kim..”
“Nath..”
“eh kalian sudah saling kenal yaaa???” haahahahaha” Sophie
tertawa
“Jadi Sophie adik lo Nath?” aku masih terlihat shock
Nathan memandang Sophie dengan sebal. Dan Sophie hanya
tersenyum jahil.
“Sorry Kim, gue sengaja biar kalian ketemu. Gue tau lo Kimi
sebelum kita kenalan tadi.” Sophie memandangku
“Lo tau kalo gue Kimi dari mana?” tanyaku heran
“Poto lo sama kakak gue terpampang jelas di kamarnya.”
Nathan langsung menutup mulut Sophie. Sophie berhasil
menghindar.
“Biarin gue jelasin dulu Nath!!”
“Enggak! Diem lo!!” Nathan masih berusaha membungkam mulut
adiknya itu
“Noooo waayyyy!!! Lo
pikir gue bakal diem aja liat lo galau tiap hari?”
“Shut up Sophie!!!”
Nathan berteriak sampai orang-orang di sekeliling kami memandang kami dengan
heran
Aku hanya memandang heran kedua kakak beradik itu. Jujur aku
tidak pernah tau adik Nathan. Nathan tidak pernah bercerita tentang
keluarganya.
“Nath, please. Gue butuh kejelasan dari Sophie.” Kataku serius
“Tuh kan, lo duduk dulu sini. Biar gue yang cerita.”
“Gak. Gue gak mau. Ini bukan urusan lo. Biarin gue sama Kimi
yang ngurus.” Nathan menarik tanganku keluar restaurant.
Aku bingung menerima perlakuan seperti itu. Sophie terlihat
senang dengan pemandangan itu.
v
18
“Kita mau kemana Nath?”
“Gue juga bingung. Gue tadi cuma biar bisa kabur dari bocah itu
aja.” Jawab Nathan sambil masih fokus mengemudi.
“Oh.. jadi yg lo bilang mau nyelesain urusan kita berdua itu cm
alasan aja?”
“Siapa yang bilang? Oke kita selesain urusan kita sekarang. Lo
mau kemana?”
“Ke Amusement Park.”
“Gak naik wheel kan?”
“Lo mau nyelesain urusan kita gak?”
“Iya mau lah gue udah nunggu setahun buat ini. Tapi gue tetep
gak mau naek itu.”
Aku tidak menjawab perkataannya.
Sampai di sana aku segera menuju loket tiket bianglala. Nathan
mengikutiku di belakang sambil terus memprotes.
“Lo naek sendiri Kim. Lo tau gue gak bakal mau naek itu.”
“Oke, dan kita gak akan pernah ngobrol lagi selamanya.”
“Maksud lo?”
“terserah lo ikut apa gak. Gue mau nyelesain masalah kita di
dalam sini. Kalo lo gak mau ya udah gue berangkat sendiri lo boleh pulang. Dan
gue anggep urusan kita selesai.”
“Kim..”
Aku masuk ke salah satu van bianglala. Nathan terlihat gelisah
di luar sana. Pintu van kemudian ditutup. Aku kecewa. Seharusnya aku tidak
memaksa dia naik ini. harusnya aku menyelesaikan masalah kami di café saja.
Seharusnya...
Pintu
van terbuka dan Nathan masuk.
“lo
ngapain masuk?”
“Gue
mau nyelesaikan masalah gue sama lo.”
“Tapi
lo bilang..”
“Gue
berusaha sekarang Kim. Tolong jangan Tanya lagi. Sekarang gue mau bahas masalah
kita.
Wheel
bergerak. Nathan terlihat gugup. Dia memandangku, keringat menetes di dahinya.
Dalam hati aku merasa senang. dia berusaha keras mengatai ketakutannya. Tapi..
ingat Kim.. dia udah jadi suami orang. Aku mengantisipasi kemungkinan
terburuknya.
“Oke..
gue mau Tanya sama lo. Lo udah nikah sama Jess? Udah punya anak berapa
sekarang?”
“Gue
gak nikah sama Jess.”
Aku
melongo.
“Gue
batalin tunangan gue sebulan setelah gue ke London
“kenapa?”
“karena..
gue ngrasa bukan dia yang gue inginkan.” Nathan memandangku
“Trus
kenapa lo ke London secepat itu tanpa ngasih tau gue?” Mataku terasa mulai
berair
“Lo
udah terlanjur benci sama gue Kim.. bahkan lo gak pernah minta gue tinggal.”
“Gue...”
aku menunduk. Air mataku menetes. Aku mengalihkan wajahku ke luar jendela.
“Kim..
maaf gue gak ada di samping lo pas lo kecelakaan. Gue baru tau pas gue udah
sampe di London.” Nathan menyentuh pundakku
Aku masih menatap jendela van, air mataku masih
belum berhenti mengalir. Nathan menarik pundakku ke arahnya. Menatapku
lekat-lekat. Menyadari hidungku sudah memerah, mataku bengkak dibanjiri air
mata, tanpa suara Nathan menarikku dalam pelukannya. Tangisanku semakin keras.
“Maaf
Kim.. maaf..” hanya itu yang keluar dari mulut Nathan
Aku
menarik diri dari pelukannya.
“Gue
udah gak butuh maaf lagi dari lo Nath.. Gue.. Gue cuma pengen tau alasan lo
pergi setahun yang lalu. Gue tersiksa disini. Lo jahat banget pergi semaumu
trus sekarang muncul di hadapan gue semaumu juga. Lo pikir gue apa?”
Nathan
menarikku, menempelkan bibirnya ke bibirku. Bibir Nathan hangat, kepalaku panas
menerima perlakuan seperti itu dari Nathan. Beberapa detik kami masih
berciuman. Kemudian bibir kami mulai menjauh.
“Lo
nyium gue nath..”
“Iya
Kim.. kita ciuman.” Nathan tersenyum.
“Lo
cuma maen-maen doang kan?”
“Gue
serius. Gue serius sama lo.”
Aku
menunduk menangis lagi.
“Udah
dong Kim jangan nangis lagi. Ntar pas keluar van dikiranya lo gue apa-apain
lagi.” Nathan berusaha menghibur
“Kan
emang gue lo apa-apain.”
“Hah?”
“Lo
nyium gue tanpa permisi.”
“Hahahaha..
oke, permisi neng Kimi, saya boleh nyium eneng gak?”
“Gak.”
Jawabku cemberut.”
“Bodo
amat tetep gue cium walopun lo tolak.” Nathan menarikku lagi dan menciumku. Aku
kaget, tapi kami masih melanjutkan ciuman itu. Sampai wheel berhenti.
Aku
masih malu. Nathan juga terlihat salting setelah turun dari bianglala.
“Nath..”
“Hmm..?”
“Lo
udah embuh dari phobia lo. Selamat ya.”
“eh?
Iya... hahahahahaha” Nathan menggaruk-garuk kepalanya.
“Dan
poto kita yang mana yang lo pasang di kamar lo?”
“eh?
Hahahahaha... yang kita lagi di pantai. yang kita selca itu.”
“hah?
Yang lo cuma pake boxer doang itu?”
“iya
yang lo pake kaos sama boxer juga. Hahahaha”
“itu
jelek banget gue sumpah..”
“iya,
adek gue aja bilang lo ke pantai saltum. Harusnya pake bikini malah pake
kaos-boxer, hahahahaha.”
“biarin.
Gitu-gitu lo kesengsem gue juga...” jawabku cuek sambil berjalan mendahului
Nathan.
“hee?
Apa Kim? Lo yg kesengsem sama gue kayaknya deh..” nathan mengejarku
menghalang-halangi jalanku.
“Enak
aja.. buktinya lo bela-belain naik wheel.”
“lah
elo nangis parah kayak gitu?”
“yang
nyium gue duluan siapaaaa????” teriakku keras.
“Hahahaha
buktinya lo mau trus minta lagi. Ya kan? Ya kan? Hahahaha”
“elo
masih nyebelin kayak dulu Nath..”
“Lo
masih pemarah kayak dulu Kim.”
Aku
memandang Nathan.
“Gak
ada yang berubah Kim. Cuma satu yang berubah. Perasaan gue ke elo lebih jelas
sekarang.” Nathan tersenyum
“Gue
juga Nath.” Aku juga tersenyum.
v
19
“Ada apa Kim?” Bayu memandangku
“Ada yang harus kusampaikan ke kamu Bay..”
“apa?”
“kemarin aku udah ngobrol sama Nathan, dan nge-clear-in semuanya.”
“Trus?”
“Aku gak bisa nerusin hubungan kita Bay.maaf.”
Bayu memandangku tajam.
Aku menunduk, bersiap menerima kemarahan Bayu. Bayu terlalu
baik. Saat aku dalam kesulitan dia selalu ada di sampingku. Dia tampan. Dan aku
tetap tidak bisa membalas perasaannya bahkan setelah mencoba selama setahun.
Aku masih belum bisa menghilangkan pengaruh Nathan walaupun sedang bersama
bayu.
Kami terdiam beberapa menit.
“Akhirnya saat seperti ini datang juga.”
Aku memandang heran.
“Aku sudah menunggumu mengatakannya. Tapi kamu masih belum bisa
jujur pada perasaanmu sendiri Kim. Dan akhirnya sekarang.” Bayu tersenyum.
“Bayu...” aku memandang dengan perasaan bersalah
“Tolong jangan memandangku seperti itu Kim. Aku tidak semenderita
itu. Aku senang bersamamu selama ini walaupun aku tau yang sebenarnya apa yang
ada dalam hatimu.”
Aku masih memandangnya.
“Oke, bilang ke Nathan, kalo dia coba-coba berani nyakitin kamu
lagi, aku bakal ambil lagi kamu.”
Aku tersenyum, “thanks bay.”
“bagaimana kalo ucapan terimakasihnya diganti farewell kiss aja?”
“What?” aku melotot kaget
“Bercanda Kim... ampuunn.. hahahahaha”
Aku tertawa. untung dia adalah Bayu. Jika dia orang lain belum
tentu akhirnya akan seperti ini.
v
“Kim, gimana Bayu?” Nathan memandangku
“Dia gak mau Nath. Dia ma uterus sama gue.”
“Hah? Serius? Gue harus ketemu dia.”
“Hahahaha... kocak banget lo nath.. emang kalo ketemu dia mau
ngapain? Gulat?”
“ya kalo itu perluya gue bakal wrestling ma dia.”
“sok kuat lo... hahahaha...”
“Lo bercanda kan Kim?”
“Apa?”
“Yang bayu gak mau lepasin lo buat gue?”
“iya gue bercanda. Bayu orang baik nath, beda banget sama lo.”
Nathan memasang muka sebal.
“oh iya dia titip pesan buat lo, katanya kalo lo nyakitin gue
lagi dia bakal ambil gue lagi.”
“wah minta diulek tu anak..” Nathan pura-pura menyingsingkan
lengan bajunya.”
“udah-udah.. gak usah sok deh nath.. hahahaha. Eh lo mau ajak
gue kemana?”
“eh iya, udah lo duduk diem aja.”
Porsche Nathan melaju di jalan menuju ntah kemana. Beberapa
menit kemudian kami tiba di sebuah rumah besar.
“Rumah siapa Nath? Rumah lo?”
“iya. Yuk turun.”
Dan apa yang Nathan rencanakan sekarang. Aku merasa gelisah.
Kami masuk rumah bergaya eropa klasik. Setiap desain interiornya dikerjakan
dengan teliti. Aku melongo melihat tata ruang rumah Nathan. Dia benar-benar
kaya. Di ruang tamu kami bertemu orang tua Nathan. Mama Nathan bermuka
oriental. Sedangkan papa Nathan adalah bule asli.
“Ma, pa.. ini Kimi.”
“Oh Kimi yang dulu sering main sama kamu kan?” Papa Nathan
memnghampiriku dan menepuk pundakku.
“iya Om..” aku tersenyum
Mama Nathan hanya memandangku dari sofa tempat dia duduk.
Wajahnya tidak terlihat senang dengan kehadiranku. Aku menjadi gugup.
“Sit down.” Mama Nathan menyuruhku duduk.
Kami berdua duduk.
“Mama, Papa.. aku ingin menikahi Kimi.”
Aku melongo.
Papa dan mama Nathan saling berpandangan.
Aku memandang Nathan. Nathan hanya tersenyum ringan.
“Nathan merasa bersalah membatalkan pertunangan Nathan dengan
Jessica tahun lalu. Alasan Nathan membatalkan adalah karena Kimi. Nathan ingin
menikah dengan Kimi. Bukan dengan Jess.”
Kepalaku pusing. Mataku berkunang-kunang.
“Hmm.. papa setuju saja Nath. Kalo itu udah jadi pilihan kamu.”
Papa Nathan tersenyum
“kamu yakin dengan keputusanmu nath?” mama Nathan menatap tajam
ke arah Nathan.
“Yakin ma. Kimi adalah alasan Nathan untuk kembali ke rumah
ini, setelah sekian lama Nathan menjauh dari mama dan papa.”
“Kimi siap menikah dengan Nathan?” Mama Nathan mengalihkan
pandangannya ke arahku.
“emm.. jujur tante sebenarnya Kimi tidak tahu kalo Nathan bakal
bilang mau menikahi Kimi..tapi..” aku menarik napas dalam-dalam.
Nathan dan mama papanya menunggu jawabanku.
“Menjadi bagian dari hidup Nathan adalah impian Kimi.” Aku
tersenyum.
“Oke, tetapkan tanggal pernikahan kalian segera.” Mama Nathan
beranjak dari sofa nya kemudian pergi naik ke tangga menuju lantai atas.
“congratulation my son..You’re mature now.” Papa Nathan memukul
pundak Nathan dengan tersenyum.
“Makasih pa..” Nathan tersenyum
Setelah kami keluar rumah, kami masih terdiam.
“Mama pasti shock denger kabar ini.”
“Tante udah tau sebelum ini kok.” Nathan nyengir jahil.
“What??” aku melotot mengejar Nathan
v
20
Pernikahan kami dilangsungkan di sebuah
katedral indah di dekat sebuah danau. Mama, Grace, bayu, Sammy, Josh, Billy,
papa mama Nathan, Sophie, semua hadir. Pernikahan kami sederhana. Aku hanya
memakai dress putih pendek berpotongan v di kerahnya. Rambutku hanya dihias
dengan bunga-bunga kecil berwarna putih. Kue pernikahan kami adalah apple pie.
Hahaha.. ya.. apple pie adalah makanan sakral buat kami berdua. Apple pie
mempertemukan kami ketika pertama kalinya, dan mempertemukan kami lagi ketika
kami sudah siap untuk menjadi orang dewasa.
Awalnya
aku mengira mama Nathan tidak menyukaiku, tapi sebenarnya beliau adalah wanita
yang baik. Memang karakternya dingin. Aku jadi tau dari mana karakter dingin
Nathan berasal. aku dan Nathan tidak berhenti tersenyum selama acara pernikahan
kami berlangsung. Selama acara mama tidak berhenti menitikkan air mata. Mama
terlihat cantik memakai dress biru dengan rambut disanggul ke atas. Nathan
melihatku sedang memandang mama, Nathan kemudian menghampiri mama dan menciun
tangannya. Aku terkesiap dan tersenyum melihat sikap sempurna Nathan bagaimana
dia memperlakukan mama. Aku kemudian pun mencium tangan papa dan mama Nathan
juga. Sebagai tanda sungkem dan meminta doa restu kepada orang tua seperti
layaknya adat pernikahan orang Indonesia.
“Kamu terlihat sangat bahagia sayang..” Nathan memandangku
sesaat sebelum menciumku di hadapan pendeta.
“jangan coba-coba menciumku dengan gaya macam-macam. Kita
sedang ditonton banyak orang!”
“emm.. Kamu mau ciuman gaya apa? French kiss? Eskimo? Kupu-kupu, twirl
a girl? Hmm?” Nathan tersenyum nakal
“Silahkan memepelai mencium pasangannya...” terdengar suara
pendeta mempersilahkan kami berciuman sementara kami masih berdebat mengenai
gaya ciuman apa yang akan kami lakukan sekarang.
“Apaan itu??” aku cuma tau French
kiss doang..” aku masih mendebat Nathan
“Oke deal..”
Nathan langsung menarikku ke dalam pelukannya dan
menciumku sebelum aku selesai mendebatnya. Dan kami berciuman ala orang
perancis. Ntah dalam pikiranku apakah semua orang perancis mencium dengan gaya
seperti itu? Hmm.. siapa yang peduli. Aku sedang mencium suamiku sekarang. Aku
merangkul erat pundak Nathan. Tepuk tangan riuh menggema dari tamu-tamu yang
melihat adegan erotis itu. Hahahaha...
~ END ~
No comments:
Post a Comment