11
“hei luna~ssi... what happened? tell me..” tanya yoo min sambil
memberikanku secangkir hot chocolate.
Aku mengambil cangkirnya kemudian menunduk lagi. diam.
“it’s okay if you not going to tell me. please relaxed.. you
can stay here whenever you want.” katanya
Aku mengangkat kepalaku. memandang sekitar, ini apartemen yoo
min. cukup luas dan mewah dibanding rumahku. desain interiornya ditata sangat
detail. dia memang kaya, hasil bekerja di club seperti jonghae. aku menghela
nafas. aku mengingatnya lagi. setelah luka yang baru dia berikan padaku...
“Thanks, yoo min~ah.. but I must going home. it’s not good if a
woman stay a night in a man place.” jawabku sumbang akibat hidung mampet hasil
menangis selama sekitar beberapa menit tadi, sambil menyeruput hot chocolate
kemudian meletakkannya di meja.
“Actually I feeling better, thanks a lot of for you.”
“hmm.. would you like if I send you back home? it’s gonna late.
not good for a woman who just have an incident.”
Aku memandangnya dengan mata masih bengkak parah dan dengan
hidung memerah. “oke.. please.”
Dia tersenyum sambil mengambil kunci mobilnya.
Di
dalam mobil kami membisu. beberapa menit kemudian kami sampai di depan rumahku.
“call me if you need me.” katanya sambil mengantarkanku di
depan pintu masuk.
Aku tersenyum datar, “if a man said to a woman that she had to
give up for him because she doesn’t have money. what it means?” tanyaku menatap
mata yoomin.
Yoo min terlihat bingung. kemudian mendekatiku menatapku aneh, “so give him the money.”
“what do you means?” tanyaku masih menatapnya
“it’s late. go into the house.” katanya sambil mengusap
kepalaku dan tersenyum lebar. Aku kaget dengan apa yang baru dia lakukan
barusan. kemudian dia berbalik dan berjalan ke arah mobilnya terparkir.
kemudian berbalik lagi menatapku dengan tersenyum.
Dengan masih bingung, akhirnya aku berbalik berjalan memasuki
rumah. Aku sangat lelah. Aku hanya ingin bisa tidur sekarang.
***
Besok paginya ketika aku keluar rumah bersiap pergi ke warung
bibi, yoomin sudah berdiri di depan rumahku bersandar di mobilnya. “I will show
you a good thing.”
“what do you...” belum sempat meneruskan kata-kataku yoomin
sudah menarik tanganku dan menyuruhku masuk ke dalam mobilnya.
“hey hey wait... are you kidnapping me?” aku memprotesnya
“hahaha... you are right. just wait and see!”
Mobil segera berjalan, memasuki kawasan tengah kota Busan. Aku
memandang curiga ke Yoomin, tapi dia hanya tersenyum sambil mengemudi. Gawat
aku harus memberitahu bibi aku tidak bisa datang bekerja hari ini. kemudian aku
menelepon bibi beberapa saat untuk meminta maaf. setelah menutup telponnya aku
menatap yoomin,
“you must be responsible about this.”
Yoomin hanya tertawa.
Sampai di sebuah bangunan besar, kami turun dari mobil kemudian
masuk ke sebuah ruangan.
“hey yoomin~ah..” seorang laki-laki berdiri menyambut kami
“annyeong sunbaenim...” yoomin menyalami laki-laki itu
“oh this girl in your video?” tanyanya sambil menunjukku
Aku masih bingung, hah? video? video apa? video vulgar? oh no..
seingatku aku tidak pernah merekam adegan vulgar...
Yoomin melihatku bingung kemudian tertawa, “hahahaha.. yes..
her name is Luna.”
“ohh.. nice to meet
you... I’m a producer” laki-laki itu menyalamiku.
Dengan
masih bingung aku bersalaman dengannya. Aku memandang yoomin dengan tatapan bertanya.
yoomin cuma tersenyum kemudian merangkul pundakku, mengarahkanku berjalan ke
dalam sebuah studio musik.
Laki-laki
itu menunjukkanku sebuah rekaman video. dan itu videoku sedang bernyanyi ketika
di peach !! what?? aku langsung menatap yoomin sambil
memasang muka sebal. dia merekamku tanpa sepengetahuanku! Melihat ekspresiku,
yoomin malah tertawa sambil mengedipkan mata. sikap apa-apaan itu?!
“I
like your song, your skill and your voice! I will make you debut!” kata
laki-laki itu mengagetkanku
“hah??”
aku membuka mulutku membentuk huruf “O” besar “em.. are you serious?”
“I
never joking about this sort thing.” katanya sambil tersenyum.
Aku
tersenyum lebar. akhirnya saat ini datang juga!!
“hamsamida
sunbaenim!!!” kataku sambil membungkuk
“so
can you recording your song right now?” tanyanya.
“yes
of course!” jawabku sambil tersenyum lebar menatap yoomin. yoomin juga
tersenyum lebar
***
Beberapa
minggu kemudian ketika aku sedang bekerja di warung, yoomin datang sambil
bermuka datar. tidak seperti biasanya. kemana ahjussi bersenyum konyol itu
pergi?
“hei,
are you poisoned or something? you weird today.” tanyaku heran
Yoomin
menatapku tanpa ekspresi. kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari tas kulitnya
dan menyerahkannya padaku, sebuah kaset.
“this
is your album. and it’s have become hits. congratulation , you’re rich now.”
Yoomin menatapku masih datar.. kemudian senyuman lebar muncul di wajahnya.
Aku
memandang kaset itu dengan takjub. dan kemudian aku berteriak kegirangan. “gomawo
yoomin~ah... I’m so happy right now!!”
“ada
apa noona?” sunghyun menghampiriku
“aaaahhhh
sunghyun~ah!! gomawo!!!” aku berteriak sambil memeluknya
Sunghyun
terlihat kaget mengingat sejak kejadian itu kami tidak pernah seakrab seperti
dulu.
“She
is famous now. congratulated for her! hahahaha...” sunghyun tertawa
“ah..
benarkah noona?” sunghyun menarik pundakku menatapku
“yaaaa!!!
aku punya album sendiri sekarang!! hahahahahaha”
"chukae noona!!!" sunghyun tersenyum lebar
Kemudian
bibi datang dan ikut bergabung dengan kami. malam itu kami merayakan debutku
dengan makan hot pot bersama.

tiba-tiba aku mengingat jonghae dan tatapannya. Aku menghela napas panjang.. lagu itu untukmu, jonghae... aku merindukannya. Aku tersenyum pahit

tiba-tiba aku mengingat jonghae dan tatapannya. Aku menghela napas panjang.. lagu itu untukmu, jonghae... aku merindukannya. Aku tersenyum pahit
***
12
“Luna~ssi.. I’ve done your profit transfer. please check it”
“ah.. thank you yoo min~ah..” aku tersenyum. “you should be my manager.” aku meringis
“with pleasure, my lady...” jawabnya sambil tersenyum.
Aku menunduk, mengecek rekeningku di handphone ku, “ah it’s done. gomawo...”
“your welcome. em.. so will you give him the money?”
“who do you talking about?” aku menengok menatapnya
“you told me before. while that incident night happened.”
“oh...” aku berdiam sejenak menunduk. “I don’t know yet.” aku menjawab sambil tersenyum.
Yoo min tidak melanjutkan pertanyaannya. “do you want to eat tteokbokki?”
Aku mengangguk tersenyum. “I’m starving..”
Kami berjalan menuju sebuah taman yang tidak begitu jauh, di dekat pintu masuknya terdapat sebuah kios tteokbokki. kami memesan 2 porsi. walaupun hari masih siang suhu di Busan serasa di puncak gunung. rasa pedasnya dan penyajiannya yg dalam keadaan panas membuat tteokbokki menjadi makanan favoritku saat ini.
kemudian perhatianku teralih oleh suara anak-anak kecil tertawa, ketika aku menengok ke arah taman, aku tidak percaya dengan apa yang sedang kulihat. Jonghae.. sedang bersama anak-anak kecil, tertawa lepas. Aku tertegun. jantungku berdebar kencang. ada perasaan aneh yang timbul.
“Luna~ssi... what’s up?” Tanya Yoomin sambil menghampiriku
Namun tidak ada jawaban yang keluar dari mulutku. aku masih tertegun melihat tawa jonghae. aku tersenyum..
“is Jonghae hyung....? that man?” yoo min memandangku kemudian kembali memandang jonghae. “Luna~ssi..”
“Yes...” jawabku pelan, tersenyum, masih belum mengalihkan pandanganku.
Yoomin tidak bertanya lagi. kami terdiam disana.
***
“will you give that money?”
“I will pay him.” aku menjawab sambil tersenyum.
Yoo min memandangku, wajahnya terlihat khawatir.
“Should you?” tanyanya lagi, terlihat tidak puas dengan jawabanku
“yes, I should do that!” jawabku mantap.
“But...”
aku menatapnya, “I still don’t want to give up.” kemudian aku tersenyum. “thank you so much, yoo min! I’ve going home right now. byee!! ” kataku sambil berdiri, melambaikan tangan ke arahnya. dia hanya menatapku lagi-lagi dengan tatapan aneh itu. ketika aku akan membuka pintu apartemennya, kurasakan sebuah tangan memegang tanganku, lalu menariknya sehingga membuat tubuhku berbalik.
“don’t do that...” Yoomin menatapku lagi dengan pandangan yang lebih aneh dibanding pandangan-pandangan dia sebelumnya.
“what do...” aku kaget
belum sempat aku melanjutkan kata-kataku yoomin menarik tanganku dan merangkul tubuhku sehingga jatuh ke badannya, dia memelukku.
“I love you. don’t go for him. I beg you..” suaranya pelan terdengar aneh
Dalam dekapannya aku mematung, apa yang dia katakan barusan?”
“Don’t kidding me Yoomin~ah..” jawabku sambil mendorong badannya menjauh
“I never joking about this sort thing!! I’m serious about you. only look at me, please Luna~ssi...”
Dia menatapku sangat dekat, wajahnya benar-benar terlihat serius sekarang. aku benar-benar gugup sekarang, apa yang harus kulakukan.. aku menunduk beberapa saat,
“I’m sorry..” kataku pelan pada akhirnya.
“I saw you every night there! you waiting for him... and he just.. avoid you.. I hate to see it.”
“you.. saw me?” tanyaku kaget
“yes.. and that kimbap.. I just made him to be nice to you..”
“so you asked him to asked the kimbap from me? tanyaku
“yes.. I’m sorry for made you cried that time.. I feel bad”
Aku diam beberapa saat, “Yoomin~ah... gomawo for everything, and gomawo that you like me, but I still in my belief. I will trying and trying for him.” jawabku tersenyum sambil melepaskan tanganya di kedua lenganku. Aku berbalik dan segera keluar dari apartemennya.
***
13
Aku menunggu Jonghae malam itu di peach, sampai di sana aku duduk di meja bar.
“Gwangmin~ah, is jonghae coming tonight?”
“I don’t know. he hasn’t called me yet. just wait Luna~ssi..”
“okay..”
Hampir sejam aku menunggunya datang, aku memutuskan untuk mencarinya ke Paradise. Aku berjalan ke club, jam menunjukkan pukul 10 malam. udara sangat dingin. aku memasukkan tanganku ke baju hangatku. sampai di depan club aku berdiri menunggu jonghae di tempat biasa aku menunggunya.
Beberapa menit kemudian, jonghae keluar club. aku berlari menghampirinya,
“jonghae~ah... bisakah kita berbicara?”
“Untuk apa kau datang lagi?” jawabnya dingin sambil tetap berjalan tanpa melihatku
“aku ada urusan bisnis denganmu.” kataku sambil mengikuti langkahnya
“Aku tidak punya waktu berbisnis denganmu.” jawabnya berjalan mendahuluiku.
“Aku punya uang.” jawabku berhenti berjalan
Jonghae juga berhenti berjalan, menengok ke arahku, kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain,
“kau yang bilang sendiri kan? aku harus punya uang. aku punya sekarang, jadi tidak ada alasan lagi buatmu untuk menolakku.”
Jonghae berbalik berjalan menuju ke arahku, “Bisnis macam apa yang kau inginkan denganku?” tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku
“aku menyewamu. sebagai host. selama seminggu.” aku menjawab tegas.
“berapa uang yang kau punya?” tanyanya sambil menyeringai
“1 juta won.”
Jonghae berbalik lalu berjalan lagi.
“2 juta won.”
Jonghae berhenti, berbalik memandangku. “apa yang harus kulakukan?”
Aku tersenyum lebar, “temani aku, dan kau harus menuruti semua kemauanku selama seminggu!” jawabku masih tersenyum lebar
Dia menatapku dingin, “oke, deal. mulai kapan?”
“Besok pagi?” jawabku menghampirinya
“Oke. mulai senin jam 7 pagi berakhir jam 7 pagi hari senin.”
“oke...!! kita bertemu di depan minimarket itu” kataku sambil menunjuk minimarket yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari tempatku berdiri.
“oke.” jawabnya pendek.
aku tertawa senang, mengepalkan tangan kananku. jonghae melihat tingkahku kemudian tersenyum menyeringai, lalu berbalik dan berjalan menghilang di kegelapan malam. yess!! aku loncat-loncat kegirangan.
***
Aku bangun subuh, sibuk membuat bekal kimbap untuk jonghae. kepalaku sudah penuh dengan berbagai rencana hari ini. aku sangat bersemangat memulai hari-hariku dengan jonghae, berkali-kali aku tersenyum tersipu-sipu sendiri. hihihi...
“jonghae~aah.. kau terlambat!” protesku ketika jonghae terlambat 5 menit dari perjanjian.
“oke, jadi nanti perjanjian berakhir senin jam 7 lebih lima menit. puas?” tanyanya masih dingin
“hahahahaha... oke... ayo kita pergi!!” kataku sambil menarik tangan jonghae.
kami berjalan menuju taman. kami duduk di sebuah bangku yang berada di bawah sebuah pohon akasia. kemudian aku membuka tasku, mengeluarkan kotak plastik berisi kimbap buatanku.
“sekarang makanlah! aku membuatkannya untukmu.” kataku sambil menyerahkan wadah itu.
Dia memandangku. “Aku kenyang.” dia membuang mukanya
“kau janji akan menuruti semua keinginanku.” aku memasang muka cemberut
Dia menoleh ke arahku lagi, kemudian memandang ke kimbap. kemudian mengambil satu potong.
“wait.. aku ingin kau memakannya seperti waktu itu!” tahanku sebelum dia memakannya
dia memandangku bingung, “hah?”
“waktu kau disini memakan kimbap sambil memandang langit, dan tersenyum..” aku tersenyum
Dia terlihat seperti sedang berusaha mengingatnya, kemudian ekspresi wajahnya berubah dan menatapku lagi.
“Ayolah... kau berjanji padaku..”
“Aku tidak bisa melakukannya.”
“kenapaa??” tanyaku kecewa
“aku tidak terbiasa melakukannya di depan orang lain.” jawabnya sambil menatap lurus ke depan
“Oke, kalau begitu aku akan bersembunyi..” aku berdiri mencari tempat bersembunyi
“hei.. aku tetap tidak bisa melakukannya..” katanya memprotes
“aku tidak peduli! pokoknya aku akan bersembunyi sekarang dan kau harus melakukannya! atau kau masih berhutang ini padaku selamanya!” jawabku sambil tersenyum lebar
Aku bersembunyi di belakang sebuah pohon. seperti dulu, ketika pertama kali melihatnya, dan menyukainya saat itu juga. Jonghae terlihat memandang wadah kimbap itu. kemudian memandang ke tempatku bersembunyi. aku memberi kode agar dia segera melakukannya. kemudian dia tiba-tiba mengeluarkan headphone. memasangnya di kedua telinganya, kemudian memejamkan mata beberapa saat. Aku masih terdiam menunggu dari sini. kemudian dia mengambil kimbapku lalu memakannya sambil menatap langit. mengunyahnya pelan.. dia tersenyum kecil! aku ikut tersenyum dari persembunyianku.
“Hei.. aku sudah melakukannya!” tiba-tiba dia melihat ke arah tempatku bersembunyi.
“hei.. kau belum melakukannya dengan benar..”
“di bagian mana yang belum benar?” tanyanya sambil memasukkan lagi kimbap ke mulutnya.
“senyummu!! kau sedikit sekali tersenyum.. aku ingin yang lebih lebar!”
“kau bilang tadi aku hanya harus tersenyum.. bukan tersenyum lebar. jadi bukan salahku!” katanya sambil mengunyah
“huh..” aku cemberut. “kalo begitu kau harus menghabiskan kimbap ini.”
dia tidak menjawab, masih memakannya sambil menatap langit
“kenapa kau terlihat bahagia ketika melihat langit?”
“aku merasa tenang dan bebas..” jawabnya masih memandang langit
aku tersenyum. “apakah kau sering melakukannya?”
“melakukan apa?” dia memandangku bingung
“memakan kimbap sambil mendengarkan musik dan menatap langit..”
“biasanya iya tapi tidak di depan orang lain.” jawabnya kembali menatap langit
“hehehe.. ngomong-ngomong apakah kimbap buatanku enak?”
“ini kimbap buatanmu? kupikir kau beli..” jawabnya sambil tersenyum menyeringai
“enak saja... aku ahli membuatnya.. bagaimana rasanya? enak?”
“lumayan..”
“kau sih tidak pernah mencoba kimbap buatanku sejak 6 bulan yang lalu.. kau sungguh menyia-nyiakan bakatku memasak.” kataku sebal
dia tersenyum, bukan menyeringai! “aku lebih suka isi crab.”
“eh? kalau begitu aku akan membuatkannya lagi besok! hahahahaha...” kataku sambil tertawa
dia kembali menyuapkan kimbap terakhir ke mulutnya. aku tersenyum puas.
***
14
Kami mennghabiskan waktu di taman itu sampai sore hari. kami berbicara banyak seharian itu,
“kenapa kau memutuskan menjadi host?”
“skip pertanyaan itu..” jawabnya sambil meneguk air dalam botol
“kenapa?”
“aku tidak ingin membicarakannya.”
“Oke.. pertanyaan selanjutnya, mengapa kau meminta kimbap itu dan memberikannya pada yoomin?”
“Dia menyukaimu. kau tau itu kan?”
“tapi seharusnya kau tidak bersikap begitu..”
Jonghae memandangku
“Aku sangat senang saat kau meminta kimbap dariku” kataku sambil tersenyum menunduk, namun aku tak menyangka kau memberikannya ke orang lain, bukan memakannya.” aku tersenyum pahit masih menunduk
“mengapa kau tidak menyerah terhadapku?”
Aku memandangnya kemudian tersenyum, “kau akan tau alasannya suatu saat nanti.. dan, kenapa kau sangat membenciku?” tanyaku sedih
“Aku tidak membencimu..”
“tapi saat kau melihatku dan saat bersama anak-anak kecil itu.. kau menjadi orang yang berbeda...”
Jonghae memandangku lagi dengan tatapan heran,
“kau bisa tersenyum lepas jika bersama anak-anak itu, tapi kau terlihat sangat membenciku ketika bertemu denganku..”
Dia hanya diam. kemudian memandang langit, “kurasa kau tidak perlu tahu jawabannya.” sambil menutup matanya masih memandang langit
“hei...” jawabku menggoyang-goyangkan pundaknya
“mau sampai kapan kita disini? aku mengantuk.”
“hehehehe... nanti malam aku ingin ke paradise bersamamu. aku belum pernah masuk kesana sebelumnya, aku penasaran seperti apa dalamnya.”
“jangan!” dia menjawab pendek
“kau sudah berjanji!” aku memprotes
“araso.. araso... jawabnya sambil masih memejamkan mata”
Aku tersenyum lebar memandangnya.
“tapi sebelumnya, aku ingin membeli baju dulu! ayoo!!” aku menarik tangan jonghae, dia terlihat kaget karena aku mendadak menarik tangannya, kemudian berdiri memanggil taksi menuju ke salah satu pusat perbelanjaan di tengah kota.
Sampai di sana kami segera masuk salah satu toko pakaian yang lumayan besar, ketika kami baru masuk, jonghae tiba-tiba berhenti, wajahnya terlihat kaget
“ayo kita ke toko lain..” katanya, mukanya terlihat geram
“kenapa jonghae~ah?” aku melihat ke arah mata jonghae menatap. Aku melihat seorang wanita sedang melayani pembeli, wanita itu tinggi, berpostur indah, sangat cantik. aku memandang jonghae lagi,
“kau mengenalnya? kau kenapa jonghae?” tanyaku khawatir
Tanpa berkata apa-apa Jonghae segera berbalik pergi meninggalkan toko itu, kemudian aku mengejar mengikutinya.
“tunggu...” teriakku sambil mengejarnya.
Jonghae masuk ke toko lain yang berjarak 3 toko dari toko wanita itu.
“belilah baju disini.” katanya pendek sambil duduk di sofa toko.
Aku terlihat bingung, tapi kuputuskan segera mencari baju, kemudian mencobanya. aku menunjukkan beberapa baju padanya,
“apa kau akan ke pantai?” komentarnya ketika melihatku memakai dress bermotif bunga-bunga
“apa kau sedang ke pemakaman?” komentar lainnya ketika melihatku memakai dress hitam
“apa kau sedang berusaha membuatku kesal?” protesku
“terserah..” jawabnya sambil pergi keluar toko, aku panik dia meninggalkanku, kemudian aku meminta pelayan toko agar membungkus sebuah mini dress yang belum sempat kucoba. aku merutuk dalam hati, “seharusnya dia tidak melampiaskan kekesalannya di hari pertama kami kencan seperti ini.”
“wait jonghae~ah!!”
“sampai ketemu nanti di club jam 9 malam.” katanya sambil membuka pintu taksi yang dia panggil
“hei...” belum sempat ku teruskan kalimatku dia sudah masuk ke dalam taksi.
Aku menghela nafas..
***
Malam itu aku masuk ke club naik taksi, aku turun di depan pintu, kemudian masuk. aku melihat penjaga berbadan kekar yang sering mengusirku memandangku kaget, kemudian tersenyum membukakan pintu untukku. aku tersenyum senang
Club ini sangat berbeda dengan apa yang kubayangkan selama ini. Sebelumnya aku membayangkan di dalam club, remang-remang, lampu berwarna-warni bertebaran dimana-mana, setiap wanita berdandan seksi dan menor ditemani masing-masing host tampannya, tertawa terbahak-bahak sambil minum bir bersama. Namun yang kulihat sekarang... ruangan club ini lebih mirip sebuah ruangan untuk para bangsawan jaman eropa di abad pertengahan, interiornya ditata sedemikian rupa agar pengunjungnya merasa nyaman. aku bengong beberapa saat.
kemudian kuputuskan menuju di sebuah meja bar besar dan memesan segelas margarita. Tiba-tiba seorang laki-laki menghampiriku mengajakku mengobrol, ternyata dia adalah salah satu host di sana.
“hai pretty, so with whom you will be accompanied?” host itu memiringkan kepalaku sambil tersenyum menggoda.
“with me.” suara laki-laki lainnya terdengar dari belakang badanku, aku menengok dan melihat jonghae. aku tersenyum
“come on lady, let me stay with you for tonight..” jonghae menawarkan tangannya, aku menyambut tangannya dengan tersenyum. jadi seperti ini sikapnya memperlakukan pelanggannya ketika di club, tiba-tiba aku cemberut. aku membayangkan wanita itu yang diperlakukannya seperti ini.
kami berjalan ke sebuah sofa, kemudian memesan minuman dan makanan ringan,
“jadi bagaimana pendapatmu setelah masuk ke sini?”
“benar-benar berbeda dengan bayanganku selama ini..” jawabku tersipu
“aku tau yang kau bayangkan, ini club untuk para wanita high class.” katanya lagi sambil meneguk minumannya
Aku menunduk. “termasuk wanita itu..” aku mengucap pelan, suaraku terdengar sedih.
dia memandangku, menyentuh daguku menariknya mendekat ke wajahnya, “hentikan wajah seperti itu! kau sudah membayarnya. jadi nikmatilah..”
aku terkesiap, dan hanya bisa diam memandang matanya yang hanya berjarak 20 cm dari mataku.
“yoomin~ah... where do you go...?”suara manja seorang wanita terdengar. dan ketika aku reflek menengok ke arah suara, aku melihat yoomin sedang memandang aku dan jonghae dengan pandangan marah. di sampingnya seorang wanita sedang merangkul lengannya.
“yoomin~ah...” aku memanggilnya
“what are you doing here?!!” yoomin menarik tanganku kasar, aku terguncang berdiri dan dia menarikku menuju pintu keluar club.
Tiba-tiba kurasakan sebuah tangan memegang erat tanganku lainnya dan menarikku,
“please, man.. this lady is with me now. get off your hand from her!!” aku memandang pemilik tangan itu, jonghae. dia terlihat sangat marah.
“jonghae hyung.. don’t make me upset!!”
“You make me upset now.” suara jonghae terdengar tegas. aku tertegun memandang sikapnya sekarang.
BRUKKKK tiba-tiba yoomin memukul jonghae, jonghae terpental mundur, kemudian jonghae maju dan BRUUKK sekarang jonghae yang memukul yoomin. yoomin terjatuh ke atas sebuah meja yang penuh gelas minuman. dia terlihat kesakitan. Aku berusaha memisahkan mereka namun gagal, lalu datang penjaga yang juga berusaha memisahkan mereka.
“STOP IT NOW!!!!! YOU ALL MORON!!!” teriakku keras. kemudian aku berjalan keluar club, aku benar-benar marah. aku akan pulang sekarang!!
***
15
“annyeong.. luna~ssi, aku akan menjemputmu sekarang.” jonghae menelponku besok paginya
“apa yang kau lakukan? bertengkarlah lagi sana!” jawabku sambil masih terdengar kesal
Jonghae terdiam beberapa saat, “aku sudah di depan rumahmu. keluarlah.”
“hah?” aku kaget. “tapi darimana kau tau...”
Ceklek....
jonghae menutup telponnya. sialan. aku berlari keluar rumah. dengan kondisi penampilan yang sangat berantakan. aku baru bangun tidur ketika menerima telpon jonghae tadi. aku membuka pintu, dan kulihat jonghae sedang berdiri memandangku, kemudian dia sedikit terhenyak lalu tersenyum.
“apa kau baru saja terkena badai.. hahahahaha? jonghae tertawa
“hei!! aku baru bangun!!” kataku kesal, tapi kemudian aku terpana melihat jonghae tertawa. aku ikut tersenyum
“aku bersiap-siap dulu.” kataku sambil menggaruk-garuk kepalaku.
Tiba-tiba jonghae menghampiriku, tidak.. dia melewatiku, kemudian masuk ke rumahku.
“hei..hei.. apa yang kau lakukan?”
“aku tidak suka menunggu di luar sendirian dan kedinginan.” jawabnya sambil melepas sepatunya kemudian duduk di kursi rumahku.
“kau masuk rumah sembarangan!”
“aku masuk rumah pelangganku. itu hal wajar.” jawabnya sambil tersenyum dan menatapku
Aku menghela nafas. “oke terserah.. aku mau mandi. jangan mengintipku.”
“kau yang akan memintaku untuk mengintipmu.” jawabnya sambil memandang sekeliling ruangan.
“heeiii!!! aku berteriak
“cepatlah mandi..! kau membayarku, jangan sia-siakan uangmu..”
Aku segera masuk ke kamar mandi, melepaskan baju kemudian mandi. beberapa saat setelah aku selesai mandi aku baru sadar bahwa aku lupa membawa handuk. dan baju ganti. aku dalam bahaya. diluar sana ada jonghae, apa yang harus kulakukan...
Aku membuka sedikit pintu kamar mandiku, “emm.. jonghae~ah, apakah aku bisa meminta tolong?”
“Apa?”
“ambilkan handukku di balkon. aku menjemurnya di sana.” jawabku pelan
beberapa saat kemudian jonghae datang sambil membawakanku handuk. aku bersembunyi di balik pintu, sehingga hanya separuh kepalaku saja yang terlihat oleh jonghae.
“Apa sekarang kau akan memintaku agar mengintipmu?”
Aku terlihat panik lalu menutup pintu kamar mandiku buru-buru. wajahku memerah. belum selesai aku menenangkan jantungku, aku tersadar aku harus tetap keluar kamar mandi dengan handuk saja, aku lupa membawa pakaian dalam ganti dan pakaian luar. aku memukul pelan kepalaku, merutuk karena sangat pelupa. Aku melilitkan handuk ke tubuhku. membuka pintu kamar mandi pelan-pelan, aku keluar, dan aku melihat jonghae terkejut beberapa saat.
“jangan salah paham. aku lupa membawa pakaianku.” jawabku sambil berjalan secepat mungkin masuk ke dalam kamar.
aku bisa mendengar jonghae tertawa terbahak-bahak dari dalam kamarku. aku sangat malu.
***
“kemana kita akan pergi?” jonghae menatapku saat kami naik bis siang itu
“kita ke bioskop. aku ingin menonton film.” jawabku ringan
Sampai bioskop kami membeli tiket sebuah film horror barat. Jonghae memprotesku, dia tidak menyukai film horror, tapi pada akhirnya tetap aku yang menang. kami berdua segera duduk di seat kami. Film pun mulai, aku menengok jonghae di sebelahku sedang terlihat kesal menutup matanya sambil cemberut. aku tersenyum geli. laki-laki ini penakut juga ternyata.
Tiba-tiba pundakku terdorong keras oleh seseorang. ketika aku menengok, aku melihat samping seat ku dalam keadaan gelap seorang laki-laki dan perempuan sedang berciuman.
aku terkejut kemudian menggeser dudukku mendekat ke arah jonghae,
“kenapa kau mendesak mendekatiku?” jonghae menatapku heran
aku menunjuk seat sampingku, dan kedua orang itu masih asyik berciuman hebat.
Jongahe melongok melihat pemandangan itu. kemudian tertawa. “apa kau juga ingin mencobanya?" dia memandangku dengan tatapan menggoda
“hei!!!” aku memukul pundaknya. selama film berlangsung badanku condong ke arah jonghae. aku kesal, ketika aku menyuruh jonghae menegur pasangan mesum itu, jonghae hanya tertawa dan bilang,
“biarkanlah mereka bahagia.” jawaban macam apa itu??
“tapi aku juga butuh bahagia!”jawabku kesal
“jadi dalam posisi ini kau tidak bahagia?”
Ketika kusadari, kepalaku sudah menyender ke dada bidang jonghae. wajahku panas, dan aku yakin saat ini wajahku sudah memerah seperti wajah hellboy, aku bersyukur keadaan gelap sehingga tidak akan terlihat jonghae.
“shut up!” kataku pelan masih tidak merubah posisiku. jantungku berdebar cepat, Tuhan, tolong lambatkan waktu sekarang.. aku masih ingin lebih lama berada di posisi ini. aku tersenyum.
***














No comments:
Post a Comment