Tuesday, February 19, 2013

milky way in Busan [part 6-10]


6
Aku pulang ke rumah, sepanjang perjalanan aku menangis. aku kecewa. memang salahku terlalu berharap ke jonghae, ketika jonghae melakukan sesuatu yang berlawanan dengan harapanku akibatnya aku kecewa.
Aku masuk rumah, mengunci pintu lalu duduk masih di balik pintu. aku menangis sejadi-jadinya. saat ini aku hanya ingin menangis sepuasnya. aku jatuh tertidur setelah kehabisan energi untuk menangis. ketika bangun keadaan sudah gelap. aku bangun untuk menyalakan lampu kamarku. rumahku ini lebih cocok disebut kamar dibandingkan rumah. ukurannya hanya seukuran 2x kamar rumahku di Jakarta, cukup makan tempat untuk tempat tidur, dapur dan kamar mandi. aku menghela nafas... aku lapar.. aku ingin makan ramyun. aku akan ke minimarket dekat perempatan depan. aku memakai topi hangat, syal, jaket tebalku, kemudian memakai sepatu boot-ku lalu keluar pintu. Pintu kubuka dan aku melihat Yoo min sedang duduk berjongkok di depan pintu rumahku.
“what are you doing here?” tanyaku kaget
“I’m waiting for you. I think I’m gonna die now...” jawabnya sambil menggigil sambil masih berjongkok.
“You’re such a fool. why you stay outside while weather going bad like this?”


“hahahaha... please help me...” jawabnya sambil tersenyum lebar.
Aku menggeleng-geleng. Yoo min itu ternyata terlihat bodoh dari kelihatannya.
Udara malam itu lebih dingin dibanding malam-malam sebelumnya. aku memperbaiki letak syal-ku agar leherku terlindungi dari udara dingin busan. Kami berjalan menuju minimarket untuk membeli hot chocolate instan dan ramyun instan. kami berdiri di dalam minimarket sambil menikmati makanan yang baru kami beli.
“why you followed me?” tanyaku sambil menyumpit ramyun
“I’m worried that you will commited suicide. you look terrible before that.”
Aku terdiam, memasukkan ramyun ke dalam mulutku. mengunyahnya pelan.
“something problem? have I doing something bad for you?” yoo min memandangku
“no. that’s my problem.” jawabku sambil terus memakan ramyun
Yoo min memandangku curiga. namun dia tidak melanjutkan pertanyaannya. dia tau aku tidak mau membicarakan hal itu dengannya.
***

      “you are not part of the band anymore.”
      “what?? why?? Am I do something bad?”
      “I don’t like peoples who mixed their emotions in my music. that so unprofessional. that’s why I don’t want have a woman as a member band.”
      “But.. “
      “No. I think you must looking for the other band.”
      Aku menunduk. aku datang ke korea untuk menjadi musisi. apa jadinya jika keinginan utamaku tidak terwujud? haruskah aku pulang dan kembali ke rumah?
      Aku keluar dari studio band yang terletak di sebuah basement bangunan game center. Aku berjalan tanpa arah melamun memikirkan kelanjutan nasibku. di samping sebuah hotel berbintang 4 aku menemukan sebuah café & bar bernama “peach” aku mendengar suara musik sedang dimainkan, kemudian aku memutuskan masuk ke sana. bar itu cukup besar menampung ratusan orang. Suasana cukup ramai disana. ternyata sedang ada perform sebuah band. karena stage tempat band itu bermain jauh aku tidak bisa melihat mereka bermain. aku duduk di kursi bar, memesan martini sambil mengamati band itu sedang memainkan musiknya. tiba-tiba seorang bartender mengajakku bicara dalam bahasa korea, dan aku cuma bengong.
      “I’m sorry.. I can’t speaking Korean.” jawabku tersenyum
      “Are you new comer in here?” bartender bertanya padaku dalam bahasa inggris. dia tersenyum asih sambil meracik minuman yang kupesan
      “yeah this is my first time visiting here.” jawabku kemudian menengok ke arah band itu lagi bermain.
      “You like that band?” bartender itu bertanya setelah melihatku mengamati penampilan band itu
      “I just feeling good with their music. it’s warm” jawabku sambil tersenyum
      bartender itu tersenyum sambil menyerahkan martini pesananku. “are you know well all about music?”
      “I’m a bassist. emm former.” jawabku menyeringai sambil menyesap sedikit minumanku
      “why did you stop?”
      “I’m not stop it. I’ve removed. hahahaha” jawabku sambil tertawa
      “oh poor you. but I think you must continue your music.”
      “ah I think so.” jawabku kembali mengamati permainan band
      Permainan band itu berakhir dan aku kembali duduk menghadap bar.
      “gwang min~ah, give me one bottle.” suara seorang laki-laki duduk tidak jauh dari kursiku meminta sebotol minuman
Aku tidak mengindahkannya. aku masih menunduk sibuk memikirkan nasibku selanjutnya. haruskah aku mengamen di jalanan busan? gila...
Suara bartender itu terdengar sedang berbicara dalam bahasa korea dengan lelaki itu. aku masih menunduk lemas.


“hey miss.. He is the owner of your favorite music.” bartender itu menyentuh pundakku. dengan lemas aku mengangkat kepalaku dan memandang lelaki itu. aku hampir ambruk ketika aku melihat bahwa dia jonghae. Jonghae memakai kaos abu-abu dan jaket kulit hitam. dia terlihat sangat tampan. tapi dia adalah satu-satunya orang yang sedang tidak ingin kutemui saat ini. Jonghae memandangku kaget namun masih dengan ekspresi datar yang menjadi khasnya. Aku menengok kembali menghadap meja bar.
“I just like their music. not the people who play it.” jawabku dingin sambil meminum martini ku yang tinggal seteguk.
Bartender itu terlihat bingung. Suasana hening beberapa saat. Jonghae segera berbalik, pergi dari sana. aku menghela nafas. Kemudian menengok ke arah dia pergi, memandang punggung indahnya dan kembali menghela nafas.
“that man, is he often playing their band here?” tanyaku pada bartender yang masih terlihat bingung
“yes, four times a week. why?”
“oh...nothing.” jawabku mengangguk pelan sambil berdiri, setelah kuberikan sejumlah uang aku segera pergi dari situ. kepalaku berdenyut-denyut. efek martini sangat fatal bagiku.
***


7
      Aku datang ke peach bar itu lagi 2 hari kemudian. hari itu band jonghae perform lagi. aku mengambil tempat di pojokan lantai atas agar keberadaanku tidak diketahui Jonghae. kebetulan bar itu mempunyai lantai atas yang bisa langsung memberi pemandangan langsung ke stage. Dan bartender itu, gwang min, aku minta agar dia tidak memberi tahu jonghae bahwa aku datang malam itu. aku menengok jam tanganku, pukul 10 malam. aku heran, jadi selama ini Jonghae tidak bekerja setiap hari di club. namun ketika aku bertanya ke gwang min pada hari apa saja jonghae bermain, gwang min bilang tidak pasti. dan gwang min tidak tahu jonghae punya pekerjaan lain sebagai host, jadi aku akan diam saja.


Malam itu Jonghae memakai kaos biru keabu-abuan dan bergaris-garis putih. aku memandang jonghae tanpa berkedip karena inilah pertama kalinya aku melihat dia bermain gitar, dan gawatnya aku pikir aku semakin suka dengannya dan segera melupakan kesalahan jonghae beberapa waktu yang lalu. Permainan gitarnya membuatku terpana. yang kuherankan, kenapa dia tidak menjadi musisi dan malah bekerja menjadi host? menjadi host adalah pilihan yang buruk. aku memiringkan kepalaku berpikir keras.
      Malam selanjutnya, dan malam-malam yang lain aku datang lagi, menempati tempat favoritku di lantai atas pojok aku bisa dengan leluasa memperhatikan jonghae beraksi di stage. Setiap melihat jonghae disana aku selalu merasa tenang, aku pikir aku sedang terkena zat adiktif dari jonghae. 

Malam itu Jonghae membawakan lagu sunday morning. memainkan gitar akustik nya sendiri memakai baju putih dia terlihat seperti malaikat, sementara sekitar panggung sudah disulap oleh pemilik bar dengan tempat duduk yang sudah dipenuhi puluhan wanita, aku cemberut. aku yakin mereka fans jonghae dan datang hanya untuk melihat jonghae bermain.


Jonghae memetik tiap senar gitarnya dengan lincah, selama permainan gitarnya dia tidak berhenti tersenyum. apa aku berhalusinasi? ini pertama kalinya kulihat dia tersenyum lebar seperti itu dan tidak cuma sekali tapi sepanjang lagu dimainkan.... sebelum-sebelumnya ketika aku melihat dia perform dengan band nya dia tidak menunjukkan senyumnya, tapi ketika dia bernyanyi sambil bermain gitar sendiri? harusnya aku membawa kamera. aku harus mengabadikan moment langka ini. aku masih belum berkedip selama beberapa menit. hatiku terasa aneh. hangat dan berdesir. bahkan bulu kudukku merinding, aku merasa seperti melihat milky way. berwarna lembut dan indah.  dan tiba-tiba baru saja aku mendapat ide untuk membuat sebuah lagu. aku tersenyum lebar.

***

8

      Aku tersenyum lebar untuk yang kesekian kalinya. lagu ciptaanku sudah selesai dan aku berkali-kali mencoba menyanyikannya. kemudian aku tersenyum lagi. Mungkin orang akan melihatku gila, tapi aku memang sedang gila. kemudian aku terdiam. Dimana aku akan memainkannya? di depan Jonghae? aku masih terlalu gengsi untuk menunjukkannya lagu ciptaanku yang memang kubuat untuk dia. Dia pun pasti masih berpikir aku masih marah dengannya. ntah dia tau alasan aku marah atau tidak, aku belum tau. aku membuat gerakan aneh dengan kakiku, aku sedang berpikir keras. pasti akan datang waktu yang tepat. aku tertawa. kemudian melanjutkan lagi nyanyianku, memetik gitar lagi, kemudian tersenyum lagi.. kupikir aku memang sudah gila. dan aku makin terlihat gila ketika aku memakai lirik laguku dalam bahasa korea, sedangkan aku tidak lancar berbahasa korea.


      “Please sunghyun, artikan lirik ini dalam bahasa korea. dan ajari juga noona cara mengucapkannya.” aku tersenyum memohon
      “kamu kenapa sih noona? apa kau sedang berusaha debut menjadi penyanyi?”
      “hahahahaha... pokoknya bantu noona yaa.. nanti kuajak kau ke warung kimbap terkenal di tengah kota. oke??” pintaku sambil menarik-narik tangan sungyun.
      “oke..okee...” sunghyun mengangkat tangannya tanda menyerah
      Aku tersenyum puas.
      Malam itu aku ke Peach lagi. Aku merasa diikuti sesorang selama perjalanan tadi, tapi aku tidak tau siapa. aku terlalu takut untuk mencari tau. aku sedang berada di negeri orang, aku tidak tau apa yang akan terjadi jika aku tidak berhati-hati. maka akupun memperceoat langkahku segera masuk ke dalam bar.


      “Gwang min~ah, is jonghae perform again tonight?”
      “No, he said that he have something to do.”gwang min menjawab pertanyaanku sambil tersenyum
      Pasti dia kerja di club lagi malam ini. aku menghela napas sambil memasang muka masam.
      “hei Luna~ssi, would you like to playing music on the stage? tonight we haven’t band to perform.”
      “hah?” aku kaget mendengar tawaran Gwang min. kemudian aku teringat lagu ciptaanku untuk jonghae. aku pikir inilah saatnya mumpung jonghae sedang pergi. dan siapa tau ada anggota band yang sedang mencari anggota baru dan aku direkrut. aku tersenyum, “can I?” tanyaku sambil tersenyum lebar.
      “Why not?” Gwang min tersenyum sambil mengantarkanku ke stage.
      “But Gwang min, I need the other player. drummer and guitar. I will play bass.” aku terlihat bingung
      “oh, I will and my friend will accompany you.” Gwang min tersenyum kemudian memanggil salah satu temannya yang sedang duduk di meja depan stage.


      “Annyeong haseo, I’m Luna. I apologize if my Korean language is poor. I’m Indonesian, I will sing my song now. the title is milky way in Busan.” ucapku sambil tersenyum, orang-orang yang awalnya sibuk dengan kegiatannya masing-masing mulai memperhatikan kami.
Kemudian kami pun mulai bermain...




Ttaseuha-ge buneun hyanggiroun baram nae du bo-re seuchimyeon nan,

sarang-haet-deon geudae eol-ku-ri tteooreujyo

Oh ~ gil-kae sumeoseon ireumdo moreuneun deul–ggoti pil ttaecheumen,

giyeok jeo pyeone kamchwo dun geudae-ga tteooreujyo


My baby illa illa illa,
baby illa illa illa,
baby illa illa illa
Never forget love
Cheotsarangeun areumdawoseo cheotsarangeun ggotiramnida
bomi omyeon hwahlchag pineun o~ nuni bushin –ggotcheoreom
Cheotsarangeun eorinaecheoreom cheotsarangeun seotureumnida
sarangeurakgimeobshi ju-go kajjil mothanikka
Illa illa illa,
illa illa illa,
illa illa illa,
nayesarang good-bye



meaning in English:
when I see you, I see milky way in Busan.
so beautiful and right now I believe that I love you..
please stay there, please still shinning
give me a reason for life

My baby illa illa illa,
baby illa illa illa,
baby illa illa illa

Never forget love

Seeing as a first love is painful, a first love is like a fever

Because after you are mindlessly sick, you become an adult

Because a first love can never be, a first love is lingering attachment
Because you can’t have it since you loved too much
Illa illa illa,
illa illa illa,
illa illa illa,
my love, good-bye







      Aku mengakhiri lagu, kemudian aku mendengar tepuk tangan riuh. aku tersenyum lebar.
      “Hamsamina...” aku tersenyum lagi
      kemudian segera aku turun stage,
      “Thankyou so much Gwang min~ah and your friend.. I’m so helped.”
      “Ah your welcome.” Gwang min menepuk pundakku pelan, “yaa.. you’re coming?” Gwang min memiringkan kepalanya berbicara dengan seseorang di belakangku.
      Aku menengok, dan dia jonghae. apakah dia melihatku di panggung tadi? aku merasa canggung.
      “yeah.. I want to drink some bottles.” jawab jonghae sambil memandangku tanpa ekspresi. kemudian berbalik ke arah meja bar diikuti gwang min.”
      Aku masih berdiri disana kemudian tiba-tiba sebuah lengan merangkulku.



      “Hey Luna~ssi, I don’t know that you can singing. that song sound awesome. are you a singer in Indonesia?”
      Aku kaget kemudian menengok ke arah asal lengan asing itu berasal.
      “Yaa..!! yoo min!! get off your hand from me!!” teriakku sambil melepaskan rangkulannya di pundakku.
      Dia hanya tersenyum jahil melihat tanggapanku.
      “yaa.. come on.. sing one more again for me..”
      “shut up! jawabku sebal sambil berjalan keluar bar, dibelakangku yoo min mengikutiku. kami melewati meja bar tempat jonghae duduk sambil menikmati minumannya. dia hanya melihat kami sekilas kemudian kembali menghadap mejanya. sebelum sampai di pintu bar tiba-tiba sunghyun muncul menghalangi jalanku.
      “Sunghyun~ah? sedang apa kau disini? kau kan masih di bawah umur...” tanyaku panik
      “Ini bar noona. bukan club malam.” jawabnya pelan
      “Hey, this boy..? I see you in ramyun shop!” Yoomin memandang sunghyun
      “Yeah, that’s me. come on noona, waktunya pulang.”
      “kamu kenapa masih di luar selarut ini.. kamu tidak tau bahaya jika ada apa-apa. ahjumma akan khawatir!” aku mengomel
      “Bahaya seperti apa? stalker?” sunghyun tersenyum mencurigakan
      “Ahh.. so you are that stalker sunghyun~ah?” tebakku sambil memandang tajam ke dia
      “Hahahahaha.. aku hanya ingin tau kau kemana setiap malam, noona. kau terlihat sedang desperate. aku khawatir.”
      “Ehmm.. please, I don’t understand what two of you talking about. can you speak in English please?” Yoomin menginterupsi pembicaraanku dengan sunghyun, aku baru sadar dari tadi yoomin hanya bengong melihat kami.


      Aku membalikkan badanku untuk melihat yoo min, tapi yang kulihat adalah jonghae yang sedang duduk di belakang yoomin memandangku tajam. aku terpana beberapa saat, kemudian aku tersadar dan kulanjutkan pembicaraanku dengan yoo min,

      “If you don’t understand our language, so why you don’t stop following me?” jawabku sebal memandang dia. kemudian mengajak sunghyun pergi. Yoomin terlihat tersenyum melihat kami sampai kami menghilang di balik pintu bar.

***



9
      “So... buat siapa lagunya noona?” Sunghyun memandangku curiga siang itu ketika kami sedang membereskan mangkok sisa ramyun di atas meja.
      “Ha?” aku menengok kaget ke sunghyun. kemudian tersenyum. “ah mau tahu aja deh kamu...” jawabku tersipu-sipu sambil mengangkat mangkok de dapur
      “Untuk lelaki yang setiap hari kau buatkan kimbap?” sunghyun berdiri memandangku yang sedang berada di dapur bersama bibi
      Aku memandang sunghyun kembali, dari mana sunghyun tahu? apa aku pernah menceritakan jonghae padanya? aku rasa aku tidak pernah menceritakannya kepada siapapun. Aku menghampirinya dengan menatap curiga padanya.
      “Kemarin malam kau mengikutiku sampai bar. apakah kau juga mengikutiku sebelum-sebelumnya?” tanyaku sambil menyipitkan mataku
      “Ya noona. aku khawatir padamu.” jawabnya sambil mengalihkan pandangannya ke meja kotor di sampingnya.
      “Kemana saja kau mengikutiku.” aku masih menyelidikinya.
      “hmm...” sunghyun memutar bola matanya terlihat seperti sedang berpikir. “lupa.” jawabnya pada akhirnya. aku belum puas
      “Katakan atau noona akan marah.” kataku sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya yang berada lebih tinggi setengah meter di atasku.
      Sunghyun terlihat canggung, kemudian mukanya memerah. “aku akan menceritakannya, tapi tidak disini.” katanya sambil menjauh dariku.
      “Oke, sekarang kita pergi ke café sebelah! ahjumma.. can we go for a few minute, ahjumma...?” tanyaku pada ahjumma.
      “where do you go?” bibi bertanya heran.
      “café near from here. I promise we will comeback As soon as possible.” kataku sambil memohon pada bibi.
      “oke..” jawab bibi sambil menyuruh kami agar cepat pergi.
      Sunghyun dan aku segera pergi ke café. Sunghyun bertingkah aneh selama kami berjalan. dia banyak diam memandangku. Ketika sampai di café kami segera memesan minuman.
      “Oke, ceritakan sekarang!” aku memulai pembicaraan
      “mulai dari mana noona?”
      “Oh my God.. mulai dari kemana saja kau mengikutiku?” aku memandang tajam ke matanya
      Sunghyun memandangku, “paradise. setiap malam, setiap jam 9.”
      Aku terdiam beberapa saat. Lalu aku menunduk, menghela nafas pelan, “lalu apa yang kau lihat saat itu?”
      “kau menunggu lelaki itu setiap malam selama 4 bulan sejak pertama kalinya aku melihatmu secara tidak sengaja di depan bangunan dekat club. kau menunggu untuk memberinya kimbap. tapi dia menolakmu. dan aku juga melihat malam saat dia bersama wanita itu.” jawabnya sambil masih memandangku. “dan aku melihatmu menangis sendirian.”
      Aku hanya diam.
      “kenapa noona? kenapa kau masih berusaha mendekatinya? dia tidak menginginkanmu.”
      Aku masih terdiam memandangnya.
      “aku.. tidak tega melihatmu seperti itu. aku ingin melindungimu.” jawabnya sambil menunduk
      “Aku hanya masih merasa ingin berusaha.” aku belum pernah merasakan seperti ini selama hidupku.” jawabku sambil meminum kopiku.
      “berhentilah noona. aku mohon..”
      “aku tidak akan berhenti.” jawabku menatap tajam mata sunghyun


      “Aku menyayangimu noona. bukan sebagai noona. namun sebagai wanita.”
      Aku terkejut. kemudian memandang ke arah keluar lewat jendela café tepat di samping tempat kami duduk. aku masih berusa mencerna kata-kata sunghyun.
      “Aku tau noona hanya menganggapku dongsaeng. aku tau perasaanku tidak akan bisa noona balas dengan perasaan yang sama. aku hanya tidak ingin noona menderita. berhentilah noona.”
      “Aku tidak akan berhenti sampai sesuatu hal besar terjadi yang bisa membuatku berhenti.” aku berdiri bersiap pergi, “Ayo ahjumma akan menunggu kita.”
Pertama kalinya selama aku mengenal sunghyun, kami bertengkar dan sama-sama berada dalam sebuah situasi yang aneh. sejak peristiwa pernyataan perasaan sunghyun yang mengejutkan itu, hubungan kami berdua berubah menjadi hubungan yang canggung.
***


10

      AKu datang lagi ke peach. saat itu jam 10 tepat ketika jonghae memasuki bar, setelah dia terlihat sedang berbicara dengan gwangmin, dia  segera naik ke stage. malam itu dia memakai kaos hitam bertuliskan “NYC”. aku menunggu dia tersenyum saat dia bermain musik. tapi dia tidak tersenyum sama sekali. aku berharap besok dia akan bermain solo akustik lagi seperti beberapa hari yang lalu, dengan begitu aku bisa melihatnya terus tersenyum sepanjang penampilan. Senyum jonghae harusnya masuk ke dalam daftar world heritage UNESCO karena begitu berharga dan harus dilindungi. aku tersenyum geli. lantai atas memang tempat yang tepat untuk mengamati jonghae. bagian ruang ini memang jarang dikunjungi para pengunjung. karena di sini space lebih kecil dan hanya ada beberapa meja, saat ini hanya aku yang berada disana.

      Ketika aku sibuk memperhatikan jonghae dari tempat favoritku, mataku menangkap seorang wanita berbaju putih di lantai bawah sedang duduk di meja yang berada tepat di depan stage tempat jonghae bermain musik. Aku sangat ingat, dia adalah wanita berbaju merah yang dulu bersama jonghae. sebenarnya aku paling tidak suka mengingat kenangan menyakitkan seperti itu, tapi nyatanya aku masih terus memperhatikan wanita itu. Aku bisa melihat dia sedang memandang jonghae dengan pandangan sedih. Tapi aku masih belum bisa menyimpulkan seperti apa hubungan mereka sebenarnya.
Ketika penampilan jonghae berakhir, wanita itu segera menghampiri jonghae dan aku dapat melihat tangan wanita itu sedang memegang tangan jonghae. Sakit itu terasa lagi. Kemudian aku melihat wanita itu menarik tangan joghae agar jonghae mengikutinya kembali duduk ke meja tempat dia duduk sebelumnya. dan mereka terlihat sedang terlibat pembicaraan yang serius. aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. terlalu bising dan aku yakin mereka pasti memakai bahasa korea. aku menghela nafas. wanita itu menarik jonghae naik ke.. lantai atas!! ke tempatku berada. aku panik. kemudian aku segera duduk menghadap stage sehingga posisiku membelakangi tangga naik.
      “Min jung~ssi..” jonghae memanggil nama wanita itu.
      “Jonghae~ah....” dan selanjutnya aku hanya bisa mendengar mereka sedang berbicara bahasa korea. good..
      Aku hanya bisa mendengar nada suara mereka untuk setidaknya bisa memahami situasi seperti apa yang sedang terjadi diantara mereka berdua. aku menangkap nada suara minjung naik. tanda minjung sedang berada di puncak emosi. nada jonghae terdengar lebih datar. yang terjadi kemudian setelah jonghae mengatakan sesuatu minjung berteriak memanggil jonghae, dan aku bisa mendengar suara derap langkah kaki sedang menuruni tangga.


      ketika aku menengok sekilas ke arah minjung dia terlihat melamun lalu dia menangis. Aku masih belum bisa menangkap kepastian cerita, sementara yang menjadi kesimpulan sementaraku hasil dari observasi nada suara percakapan mereka adalah jonghae memutuskan minjung. entah apa yang kurasakan dalam hatiku. harusnya aku senang melihat itu tapi aku juga merasa aneh, semacam perasaan sedih juga bercampur dengan perasaanku saat ini.
      Beberapa menit kemudian minjung terlihat menuruni tangga kemudian keluar dari bar. aku mencari keberadaan jonghae dari atas. tapi aku tidak menemukannya. kemudian aku segera menuruni tangga, dan di hadapanku jonghae sedang menaiki tangga. dia terlihat sudah berganti pakaian dan sekarang dia memakaisweater merah, mata kami bertemu, dan aku panik, semoga jonghae tidak mengetahui aku berada di atas dari tadi. semoga...


      “sudah berapa lama kau berada di sana?” jonghae bertanya dengan tatapan matanya memandangku tajam
      “Aku... baru naik.” jawabku gugup
      “Aku tidak melihatmu naik.” ekspresi jonghae terlihat gusar.
      “Aku...” jawabku panik
      “ikut aku!” jonghae menaiki tangga kemudian menarik tanganku sehingga aku kembali naik ke atas.
      Setelah sampai di lantai atas, kami duduk di sebuah sofa.
      “aku harus pulang. ini sudah larut..” kataku sambil menunduk. masih gugup
      Tangan jonghae mengangkat daguku, “jangan ikut campur urusanku!” ketika kusadari wajahnya sudah dekat dengan wajahku.
      “Aku tidak tertarik dengan urusanmu.” jawabku pelan berusaha melepaskan tangan jonghae dari daguku
      “oh ya? tapi kau lebih terlihat sangat tertarik dengan urusan hidupku. Apa kau tidak punya urusan sendiri yang lebih menarik?” katanya sambil bersender di sofa.
      Aku menjadi marah mendengar kata-kata jonghae. “hidupku memang tidak menarik. maka dari itu aku lebih tertarik dengan urusan orang yang tidak mampu mengurusi urusan hidupnya sendiri.” jawabku sambil menatap marah ke jonghae.


      “kasihan sekali.. apa ingin kubantu agar hidupmu lebih menarik?” katanya sambil menopang kepalanya dengan kedua tangannya.
      “Tidak perlu. aku tidak butuh belas kasihan dari orang lain. terutama darimu.” jawabku sambil berdiri, kemudian berbalik bersiap menuruni tangga.
      “jangan mendekatiku lagi.”
      Aku berhenti, menengok ke jonghae. “kau tidak punya hak melarangku.”
      “kau tidak akan berhasil.”
      “kenapa?”
      “karena kau tidak punya uang.”
      Aku marah. kemudian berbalik pergi, menuruni tangga dengan kepala panas. saking marahnya aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. tak kusangka jonghae sepicik itu. aku keluar bar, berjalan tidak tentu arah. tiba-tiba aku sudah sampai di depan club paradise. aku berjongkok di sana dan menangis terisak-isak.
      “hei girl, don’t doing that in front of the club.” tangan kekar menarik lenganku dengan kasar agar aku bangun


      “hei, kenchana. that girl with me.” tiba-tiba ada suara lelaki. aku mendongak ke atas dan aku melihat yoo min. aku kembali menunduk terisak.

***



No comments:

Post a Comment