6
Aku pulang ke rumah, sepanjang perjalanan aku
menangis. aku kecewa. memang salahku terlalu berharap ke jonghae, ketika
jonghae melakukan sesuatu yang berlawanan dengan harapanku akibatnya aku
kecewa.
Aku masuk rumah, mengunci pintu lalu duduk masih
di balik pintu. aku menangis sejadi-jadinya. saat ini aku hanya ingin menangis
sepuasnya. aku jatuh tertidur setelah kehabisan energi untuk menangis. ketika
bangun keadaan sudah gelap. aku bangun untuk menyalakan lampu kamarku. rumahku
ini lebih cocok disebut kamar dibandingkan rumah. ukurannya hanya seukuran 2x
kamar rumahku di Jakarta, cukup makan tempat untuk tempat tidur, dapur dan
kamar mandi. aku menghela nafas... aku lapar.. aku ingin makan ramyun. aku akan
ke minimarket dekat perempatan depan. aku memakai topi hangat, syal, jaket
tebalku, kemudian memakai sepatu boot-ku lalu keluar pintu. Pintu kubuka dan aku
melihat Yoo min sedang duduk berjongkok di depan pintu rumahku.
“what
are you doing here?” tanyaku kaget
“I’m
waiting for you. I think I’m gonna die now...” jawabnya sambil menggigil sambil masih berjongkok.
“You’re
such a fool. why you stay outside while weather going bad like this?”
“hahahaha...
please help me...” jawabnya sambil tersenyum lebar.
Aku
menggeleng-geleng. Yoo min itu ternyata terlihat bodoh dari kelihatannya.
Udara malam itu lebih dingin dibanding malam-malam
sebelumnya. aku memperbaiki letak syal-ku agar leherku terlindungi dari udara
dingin busan. Kami berjalan menuju minimarket untuk membeli hot chocolate
instan dan ramyun instan. kami berdiri di dalam minimarket sambil menikmati
makanan yang baru kami beli.
“why
you followed me?” tanyaku sambil menyumpit ramyun
“I’m
worried that you will commited suicide. you look terrible before that.”
Aku
terdiam, memasukkan ramyun ke dalam mulutku. mengunyahnya pelan.
“something
problem? have I doing something bad for you?” yoo min memandangku
“no.
that’s my problem.” jawabku sambil terus memakan ramyun
Yoo
min memandangku curiga. namun dia tidak melanjutkan pertanyaannya. dia tau aku
tidak mau membicarakan hal itu dengannya.
***
“you are not part of the band anymore.”
“what?? why?? Am I do something bad?”
“I don’t like peoples who mixed their emotions in my music.
that so unprofessional. that’s why I don’t want have a woman as a member band.”
“But.. “
“No. I think you must looking for the other band.”
Aku menunduk. aku datang ke korea untuk menjadi musisi. apa
jadinya jika keinginan utamaku tidak terwujud? haruskah aku pulang dan kembali
ke rumah?
Aku keluar dari studio band yang terletak di sebuah basement
bangunan game center. Aku berjalan tanpa arah melamun memikirkan kelanjutan
nasibku. di samping sebuah hotel berbintang 4 aku menemukan sebuah café & bar
bernama “peach” aku mendengar
suara musik sedang dimainkan, kemudian aku memutuskan masuk ke sana. bar itu
cukup besar menampung ratusan orang. Suasana cukup ramai disana. ternyata
sedang ada perform sebuah band. karena stage tempat band itu bermain jauh aku
tidak bisa melihat mereka bermain. aku duduk di kursi bar, memesan martini
sambil mengamati band itu sedang memainkan musiknya. tiba-tiba seorang
bartender mengajakku bicara dalam bahasa korea, dan aku cuma bengong.
“I’m sorry.. I can’t speaking Korean.” jawabku tersenyum
“Are you new comer in here?” bartender bertanya padaku dalam
bahasa inggris. dia tersenyum asih sambil meracik minuman yang kupesan
“yeah this is my first time visiting here.” jawabku kemudian
menengok ke arah band itu lagi bermain.
“You like that band?” bartender itu bertanya setelah melihatku
mengamati penampilan band itu
“I just feeling good with their music. it’s warm” jawabku
sambil tersenyum
bartender itu tersenyum sambil menyerahkan martini pesananku.
“are you know well all about music?”
“I’m a bassist. emm former.” jawabku menyeringai sambil
menyesap sedikit minumanku
“why did you stop?”
“I’m not stop it. I’ve removed. hahahaha” jawabku sambil
tertawa
“oh poor you. but I think you must continue your music.”
“ah I think so.” jawabku kembali mengamati permainan band
Permainan band itu berakhir dan aku kembali duduk menghadap
bar.
“gwang min~ah, give me one bottle.” suara seorang laki-laki
duduk tidak jauh dari kursiku meminta sebotol minuman
Aku
tidak mengindahkannya. aku masih menunduk sibuk memikirkan nasibku selanjutnya.
haruskah aku mengamen di jalanan busan? gila...
Suara
bartender itu terdengar sedang berbicara dalam bahasa korea dengan lelaki itu.
aku masih menunduk lemas.
“hey
miss.. He is the owner of your favorite music.” bartender itu menyentuh
pundakku. dengan lemas aku mengangkat kepalaku dan memandang lelaki itu. aku
hampir ambruk ketika aku melihat bahwa dia jonghae. Jonghae memakai kaos
abu-abu dan jaket kulit hitam. dia terlihat sangat tampan. tapi dia adalah
satu-satunya orang yang sedang tidak ingin kutemui saat ini. Jonghae
memandangku kaget namun masih dengan ekspresi datar yang menjadi khasnya. Aku
menengok kembali menghadap meja bar.
“I
just like their music. not the people who play it.” jawabku dingin sambil
meminum martini ku yang tinggal seteguk.
Bartender
itu terlihat bingung. Suasana hening beberapa saat. Jonghae segera berbalik,
pergi dari sana. aku menghela nafas. Kemudian menengok ke arah dia pergi,
memandang punggung indahnya dan kembali menghela nafas.
“that
man, is he often playing their band here?” tanyaku pada bartender yang masih
terlihat bingung
“yes,
four times a week. why?”
“oh...nothing.”
jawabku mengangguk pelan sambil berdiri, setelah kuberikan sejumlah uang aku
segera pergi dari situ. kepalaku berdenyut-denyut. efek martini sangat fatal
bagiku.
***
7
Aku datang ke peach
bar itu lagi 2 hari kemudian. hari itu band jonghae perform lagi. aku mengambil
tempat di pojokan lantai atas agar keberadaanku tidak diketahui Jonghae.
kebetulan bar itu mempunyai lantai atas yang bisa langsung memberi pemandangan
langsung ke stage. Dan bartender itu, gwang min, aku minta agar dia tidak memberi
tahu jonghae bahwa aku datang malam itu. aku menengok jam tanganku, pukul 10
malam. aku heran, jadi selama ini Jonghae tidak bekerja setiap hari di club.
namun ketika aku bertanya ke gwang min pada hari apa saja jonghae bermain,
gwang min bilang tidak pasti. dan gwang min tidak tahu jonghae punya pekerjaan
lain sebagai host, jadi aku akan diam saja.
Malam itu Jonghae memakai kaos biru keabu-abuan
dan bergaris-garis putih. aku memandang jonghae tanpa berkedip karena inilah pertama
kalinya aku melihat dia bermain gitar, dan gawatnya aku pikir aku semakin suka
dengannya dan segera melupakan kesalahan jonghae beberapa waktu yang lalu. Permainan
gitarnya membuatku terpana. yang kuherankan, kenapa dia tidak menjadi musisi
dan malah bekerja menjadi host? menjadi host adalah pilihan yang buruk. aku
memiringkan kepalaku berpikir keras.
Malam selanjutnya, dan malam-malam yang
lain aku datang lagi, menempati tempat favoritku di lantai atas pojok aku bisa
dengan leluasa memperhatikan jonghae beraksi di stage. Setiap melihat jonghae
disana aku selalu merasa tenang, aku pikir aku sedang terkena zat adiktif dari
jonghae.
Malam itu Jonghae membawakan lagu sunday morning. memainkan gitar
akustik nya sendiri memakai baju putih dia terlihat seperti malaikat, sementara
sekitar panggung sudah disulap oleh pemilik bar dengan tempat duduk yang sudah
dipenuhi puluhan wanita, aku cemberut. aku yakin mereka fans jonghae dan datang
hanya untuk melihat jonghae bermain.
Jonghae memetik tiap senar gitarnya dengan
lincah, selama permainan gitarnya dia tidak berhenti tersenyum. apa aku
berhalusinasi? ini pertama kalinya kulihat dia tersenyum lebar seperti itu dan
tidak cuma sekali tapi sepanjang lagu dimainkan.... sebelum-sebelumnya ketika
aku melihat dia perform dengan band nya dia tidak menunjukkan senyumnya, tapi
ketika dia bernyanyi sambil bermain gitar sendiri? harusnya aku membawa kamera.
aku harus mengabadikan moment langka ini. aku masih belum berkedip selama
beberapa menit. hatiku terasa aneh. hangat dan berdesir. bahkan bulu kudukku merinding,
aku merasa seperti melihat milky way. berwarna lembut dan indah. dan tiba-tiba baru saja aku mendapat ide untuk
membuat sebuah lagu. aku tersenyum lebar.
***
8
Aku tersenyum lebar untuk yang kesekian
kalinya. lagu ciptaanku sudah selesai dan aku berkali-kali mencoba
menyanyikannya. kemudian aku tersenyum lagi. Mungkin orang akan melihatku gila,
tapi aku memang sedang gila. kemudian aku terdiam. Dimana aku akan
memainkannya? di depan Jonghae? aku masih terlalu gengsi untuk menunjukkannya
lagu ciptaanku yang memang kubuat untuk dia. Dia pun pasti masih berpikir aku
masih marah dengannya. ntah dia tau alasan aku marah atau tidak, aku belum tau.
aku membuat gerakan aneh dengan kakiku, aku sedang berpikir keras. pasti akan
datang waktu yang tepat. aku tertawa. kemudian melanjutkan lagi nyanyianku,
memetik gitar lagi, kemudian tersenyum lagi.. kupikir aku memang sudah gila.
dan aku makin terlihat gila ketika aku memakai lirik laguku dalam bahasa korea,
sedangkan aku tidak lancar berbahasa korea.
“Please sunghyun, artikan lirik ini dalam
bahasa korea. dan ajari juga noona cara mengucapkannya.” aku tersenyum memohon
“kamu kenapa sih noona? apa kau sedang
berusaha debut menjadi penyanyi?”
“hahahahaha... pokoknya bantu noona yaa..
nanti kuajak kau ke warung kimbap terkenal di tengah kota. oke??” pintaku
sambil menarik-narik tangan sungyun.
“oke..okee...” sunghyun mengangkat
tangannya tanda menyerah
Aku tersenyum puas.
Malam itu aku ke Peach lagi. Aku merasa diikuti sesorang selama
perjalanan tadi, tapi aku tidak tau siapa. aku terlalu takut untuk mencari tau.
aku sedang berada di negeri orang, aku tidak tau apa yang akan terjadi jika aku
tidak berhati-hati. maka akupun memperceoat langkahku segera masuk ke dalam
bar.
“Gwang min~ah, is jonghae perform again
tonight?”
“No, he said that he have something to do.”gwang
min menjawab pertanyaanku sambil tersenyum
Pasti dia kerja di club lagi malam ini.
aku menghela napas sambil memasang muka masam.
“hei Luna~ssi, would you like to playing
music on the stage? tonight we haven’t band to perform.”
“hah?” aku kaget mendengar tawaran Gwang
min. kemudian aku teringat lagu ciptaanku untuk jonghae. aku pikir inilah
saatnya mumpung jonghae sedang pergi. dan siapa tau ada anggota band yang
sedang mencari anggota baru dan aku direkrut. aku tersenyum, “can I?” tanyaku
sambil tersenyum lebar.
“Why not?” Gwang min tersenyum sambil
mengantarkanku ke stage.
“But Gwang min, I need the other player.
drummer and guitar. I will play bass.” aku terlihat bingung
“oh, I will and my friend will accompany
you.” Gwang min tersenyum kemudian memanggil salah satu temannya yang sedang
duduk di meja depan stage.
“Annyeong haseo, I’m Luna. I apologize if
my Korean language is poor. I’m Indonesian, I will sing my song now. the
title is milky way in Busan.” ucapku
sambil tersenyum, orang-orang yang awalnya sibuk dengan kegiatannya
masing-masing mulai memperhatikan kami.
Ttaseuha-ge buneun
hyanggiroun baram nae du bo-re seuchimyeon nan,
sarang-haet-deon geudae
eol-ku-ri tteooreujyo
Oh ~ gil-kae sumeoseon ireumdo moreuneun deul–ggoti pil ttaecheumen,
giyeok jeo pyeone kamchwo
dun geudae-ga tteooreujyo
My baby illa illa illa,
baby illa illa illa,
baby illa illa illa
Never forget love
Cheotsarangeun
areumdawoseo cheotsarangeun ggotiramnida
bomi omyeon hwahlchag
pineun o~ nuni bushin –ggotcheoreom
Cheotsarangeun
eorinaecheoreom cheotsarangeun seotureumnida
sarangeurakgimeobshi
ju-go kajjil mothanikka
Illa illa illa,
illa illa illa,
illa illa illa,
nayesarang good-bye
meaning in English:
when I see you, I see
milky way in Busan.
so beautiful and right
now I believe that I love you..
please stay there, please
still shinning
give me a reason for life
My baby illa illa illa,
baby illa illa illa,
baby illa illa illa
Never forget love
Seeing as a first love is
painful, a first love is like a fever
Because after you are mindlessly sick, you become an adult
Because a first love can never be, a first love is lingering attachment
Because you can’t have it since you loved too much
Illa illa illa,
illa illa illa,
illa illa illa,
my love, good-bye
Aku mengakhiri lagu, kemudian aku
mendengar tepuk tangan riuh. aku tersenyum lebar.
“Hamsamina...” aku tersenyum lagi
kemudian segera aku turun stage,
“Thankyou so much Gwang min~ah and your friend.. I’m so helped.”
“Ah your welcome.” Gwang min menepuk pundakku pelan, “yaa.. you’re
coming?” Gwang min memiringkan kepalanya berbicara dengan seseorang di
belakangku.
Aku menengok, dan dia jonghae. apakah dia melihatku di panggung
tadi? aku merasa canggung.
“yeah.. I want to drink some bottles.” jawab jonghae sambil
memandangku tanpa ekspresi. kemudian berbalik ke arah meja bar diikuti gwang
min.”
Aku masih berdiri disana kemudian tiba-tiba sebuah lengan
merangkulku.
“Hey Luna~ssi, I don’t know that you can singing. that song
sound awesome. are you a singer in Indonesia?”
Aku kaget kemudian menengok ke arah asal lengan asing itu
berasal.
“Yaa..!! yoo min!! get off your hand from me!!” teriakku sambil
melepaskan rangkulannya di pundakku.
Dia hanya tersenyum jahil melihat tanggapanku.
“yaa.. come on.. sing one more again for me..”
“shut up! jawabku sebal sambil berjalan keluar bar,
dibelakangku yoo min mengikutiku. kami melewati meja bar tempat jonghae duduk
sambil menikmati minumannya. dia hanya melihat kami sekilas kemudian kembali
menghadap mejanya. sebelum sampai di pintu bar tiba-tiba sunghyun muncul
menghalangi jalanku.
“Sunghyun~ah? sedang apa kau disini? kau kan masih di bawah
umur...” tanyaku panik
“Ini bar noona. bukan club malam.” jawabnya pelan
“Hey, this boy..? I see you in ramyun shop!” Yoomin memandang
sunghyun
“Yeah, that’s me. come on noona, waktunya pulang.”
“kamu kenapa masih di luar selarut ini.. kamu tidak tau bahaya
jika ada apa-apa. ahjumma akan khawatir!” aku mengomel
“Bahaya seperti apa? stalker?” sunghyun tersenyum mencurigakan
“Ahh.. so you are that stalker sunghyun~ah?” tebakku sambil
memandang tajam ke dia
“Hahahahaha.. aku hanya ingin tau kau kemana setiap malam,
noona. kau terlihat sedang desperate. aku khawatir.”
“Ehmm.. please, I don’t understand what two of you talking
about. can you speak in English please?” Yoomin menginterupsi pembicaraanku
dengan sunghyun, aku baru sadar dari tadi yoomin hanya bengong melihat kami.
Aku membalikkan badanku untuk melihat yoo
min, tapi yang kulihat adalah jonghae yang sedang duduk di belakang yoomin
memandangku tajam. aku terpana beberapa saat, kemudian aku tersadar dan kulanjutkan pembicaraanku dengan yoo min,
“If you don’t understand our language, so why you don’t stop
following me?” jawabku sebal memandang dia. kemudian mengajak sunghyun pergi.
Yoomin terlihat tersenyum melihat kami sampai kami menghilang di balik pintu
bar.
***
9
“So... buat siapa lagunya noona?” Sunghyun memandangku curiga
siang itu ketika kami sedang membereskan mangkok sisa ramyun di atas meja.
“Ha?” aku menengok kaget ke sunghyun. kemudian tersenyum. “ah
mau tahu aja deh kamu...” jawabku tersipu-sipu sambil mengangkat mangkok de
dapur
“Untuk lelaki yang setiap hari kau buatkan kimbap?” sunghyun
berdiri memandangku yang sedang berada di dapur bersama bibi
Aku memandang sunghyun kembali, dari mana sunghyun tahu? apa
aku pernah menceritakan jonghae padanya? aku rasa aku tidak pernah
menceritakannya kepada siapapun. Aku menghampirinya dengan menatap curiga
padanya.
“Kemarin malam kau mengikutiku sampai bar. apakah kau juga
mengikutiku sebelum-sebelumnya?” tanyaku sambil menyipitkan mataku
“Ya noona. aku khawatir padamu.” jawabnya sambil mengalihkan
pandangannya ke meja kotor di sampingnya.
“Kemana saja kau mengikutiku.” aku masih menyelidikinya.
“hmm...” sunghyun memutar bola matanya terlihat seperti sedang
berpikir. “lupa.” jawabnya pada akhirnya. aku belum puas
“Katakan atau noona akan marah.” kataku sambil mendekatkan
wajahku ke wajahnya yang berada lebih tinggi setengah meter di atasku.
Sunghyun terlihat canggung, kemudian mukanya memerah. “aku akan
menceritakannya, tapi tidak disini.” katanya sambil menjauh dariku.
“Oke, sekarang kita pergi ke café sebelah! ahjumma.. can we go
for a few minute, ahjumma...?” tanyaku pada ahjumma.
“where do you go?” bibi bertanya heran.
“café near from here. I promise we will comeback As soon as
possible.” kataku sambil memohon pada bibi.
“oke..” jawab bibi sambil menyuruh kami agar cepat pergi.
Sunghyun dan aku segera pergi ke café. Sunghyun bertingkah aneh
selama kami berjalan. dia banyak diam memandangku. Ketika sampai di café kami
segera memesan minuman.
“Oke, ceritakan sekarang!” aku memulai pembicaraan
“mulai dari mana noona?”
“Oh my God.. mulai dari kemana saja kau mengikutiku?” aku
memandang tajam ke matanya
Sunghyun memandangku, “paradise. setiap malam, setiap jam 9.”
Aku terdiam beberapa saat. Lalu aku menunduk, menghela nafas
pelan, “lalu apa yang kau lihat saat itu?”
“kau menunggu lelaki itu setiap malam selama 4 bulan sejak
pertama kalinya aku melihatmu secara tidak sengaja di depan bangunan dekat
club. kau menunggu untuk memberinya kimbap. tapi dia menolakmu. dan aku juga
melihat malam saat dia bersama wanita itu.” jawabnya sambil masih memandangku. “dan
aku melihatmu menangis sendirian.”
Aku hanya diam.
“kenapa noona? kenapa kau masih berusaha mendekatinya? dia
tidak menginginkanmu.”
Aku masih terdiam memandangnya.
“aku.. tidak tega melihatmu seperti itu. aku ingin
melindungimu.” jawabnya sambil menunduk
“Aku hanya masih merasa ingin berusaha.” aku belum pernah
merasakan seperti ini selama hidupku.” jawabku sambil meminum kopiku.
“berhentilah noona. aku mohon..”
“aku tidak akan berhenti.” jawabku menatap tajam mata sunghyun
“Aku menyayangimu noona. bukan sebagai noona. namun sebagai
wanita.”
Aku terkejut. kemudian memandang ke arah keluar lewat jendela café
tepat di samping tempat kami duduk. aku masih berusa mencerna kata-kata
sunghyun.
“Aku tau noona hanya menganggapku dongsaeng. aku tau perasaanku
tidak akan bisa noona balas dengan perasaan yang sama. aku hanya tidak ingin
noona menderita. berhentilah noona.”
“Aku tidak akan berhenti sampai sesuatu hal besar terjadi yang
bisa membuatku berhenti.” aku berdiri bersiap pergi, “Ayo ahjumma akan menunggu
kita.”
Pertama kalinya selama aku mengenal sunghyun, kami
bertengkar dan sama-sama berada dalam sebuah situasi yang aneh. sejak peristiwa
pernyataan perasaan sunghyun yang mengejutkan itu, hubungan kami berdua berubah
menjadi hubungan yang canggung.
***
10
AKu datang lagi ke peach.
saat itu jam 10 tepat ketika jonghae memasuki bar, setelah dia terlihat sedang
berbicara dengan gwangmin, dia segera
naik ke stage. malam itu dia memakai kaos hitam bertuliskan “NYC”. aku menunggu
dia tersenyum saat dia bermain musik. tapi dia tidak tersenyum sama sekali. aku
berharap besok dia akan bermain solo akustik lagi seperti beberapa hari yang
lalu, dengan begitu aku bisa melihatnya terus tersenyum sepanjang penampilan. Senyum
jonghae harusnya masuk ke dalam daftar world heritage UNESCO karena begitu
berharga dan harus dilindungi. aku tersenyum geli. lantai atas memang tempat
yang tepat untuk mengamati jonghae. bagian ruang ini memang jarang dikunjungi
para pengunjung. karena di sini space lebih kecil dan hanya ada beberapa meja, saat
ini hanya aku yang berada disana.
Ketika aku sibuk memperhatikan jonghae dari tempat favoritku,
mataku menangkap seorang wanita berbaju putih di lantai bawah sedang duduk di
meja yang berada tepat di depan stage tempat jonghae bermain musik. Aku sangat
ingat, dia adalah wanita berbaju merah yang dulu bersama jonghae. sebenarnya aku
paling tidak suka mengingat kenangan menyakitkan seperti itu, tapi nyatanya aku
masih terus memperhatikan wanita itu. Aku bisa melihat dia sedang memandang
jonghae dengan pandangan sedih. Tapi aku masih belum bisa menyimpulkan seperti
apa hubungan mereka sebenarnya.
Ketika
penampilan jonghae berakhir, wanita itu segera menghampiri jonghae dan aku
dapat melihat tangan wanita itu sedang memegang tangan jonghae. Sakit itu
terasa lagi. Kemudian aku melihat wanita itu menarik tangan joghae agar jonghae
mengikutinya kembali duduk ke meja tempat dia duduk sebelumnya. dan mereka
terlihat sedang terlibat pembicaraan yang serius. aku tidak tahu apa yang
mereka bicarakan. terlalu bising dan aku yakin mereka pasti memakai bahasa
korea. aku menghela nafas. wanita itu menarik jonghae naik ke.. lantai atas!!
ke tempatku berada. aku panik. kemudian aku segera duduk menghadap stage
sehingga posisiku membelakangi tangga naik.
“Min jung~ssi..” jonghae memanggil nama wanita itu.
“Jonghae~ah....” dan selanjutnya aku hanya bisa mendengar
mereka sedang berbicara bahasa korea. good..
Aku hanya bisa mendengar nada suara mereka untuk setidaknya
bisa memahami situasi seperti apa yang sedang terjadi diantara mereka berdua.
aku menangkap nada suara minjung naik. tanda minjung sedang berada di puncak
emosi. nada jonghae terdengar lebih datar. yang terjadi kemudian setelah jonghae
mengatakan sesuatu minjung berteriak memanggil jonghae, dan aku bisa mendengar
suara derap langkah kaki sedang menuruni tangga.
ketika aku menengok sekilas ke
arah minjung dia terlihat melamun lalu dia menangis. Aku masih belum bisa
menangkap kepastian cerita, sementara yang menjadi kesimpulan sementaraku hasil
dari observasi nada suara percakapan mereka adalah jonghae memutuskan minjung.
entah apa yang kurasakan dalam hatiku. harusnya aku senang melihat itu tapi aku
juga merasa aneh, semacam perasaan sedih juga bercampur dengan perasaanku saat
ini.
Beberapa menit kemudian minjung terlihat menuruni tangga kemudian
keluar dari bar. aku mencari keberadaan jonghae dari atas. tapi aku tidak
menemukannya. kemudian aku segera menuruni tangga, dan di hadapanku jonghae
sedang menaiki tangga. dia terlihat sudah berganti pakaian dan sekarang dia memakaisweater merah, mata kami bertemu, dan aku panik, semoga jonghae tidak
mengetahui aku berada di atas dari tadi. semoga...
“sudah berapa lama kau berada di sana?” jonghae bertanya dengan
tatapan matanya memandangku tajam
“Aku... baru naik.” jawabku gugup
“Aku tidak melihatmu naik.” ekspresi jonghae terlihat gusar.
“Aku...” jawabku panik
“ikut aku!” jonghae menaiki tangga kemudian menarik tanganku
sehingga aku kembali naik ke atas.
Setelah sampai di lantai atas, kami duduk di sebuah sofa.
“aku harus pulang. ini sudah larut..” kataku sambil menunduk. masih
gugup
Tangan jonghae mengangkat daguku, “jangan ikut campur urusanku!”
ketika kusadari wajahnya sudah dekat dengan wajahku.
“Aku tidak tertarik dengan urusanmu.” jawabku pelan berusaha
melepaskan tangan jonghae dari daguku
“oh ya? tapi kau lebih terlihat sangat tertarik dengan urusan
hidupku. Apa kau tidak punya urusan sendiri yang lebih menarik?” katanya sambil
bersender di sofa.
Aku menjadi marah mendengar kata-kata jonghae. “hidupku memang
tidak menarik. maka dari itu aku lebih tertarik dengan urusan orang yang tidak
mampu mengurusi urusan hidupnya sendiri.” jawabku sambil menatap marah ke
jonghae.
“kasihan sekali.. apa ingin kubantu agar hidupmu lebih menarik?”
katanya sambil menopang kepalanya dengan kedua tangannya.
“Tidak perlu. aku tidak butuh belas kasihan dari orang lain.
terutama darimu.” jawabku sambil berdiri, kemudian berbalik bersiap menuruni
tangga.
“jangan mendekatiku lagi.”
Aku berhenti, menengok ke jonghae. “kau tidak punya hak
melarangku.”
“kau tidak akan berhasil.”
“kenapa?”
“karena kau tidak punya uang.”
Aku marah. kemudian berbalik pergi, menuruni tangga dengan
kepala panas. saking marahnya aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. tak kusangka
jonghae sepicik itu. aku keluar bar, berjalan tidak tentu arah. tiba-tiba aku
sudah sampai di depan club paradise. aku berjongkok di sana dan menangis
terisak-isak.
“hei girl, don’t doing that in front of the club.” tangan kekar
menarik lenganku dengan kasar agar aku bangun
“hei, kenchana. that girl with me.” tiba-tiba ada suara lelaki.
aku mendongak ke atas dan aku melihat yoo min. aku kembali menunduk terisak.
***




+keismagic-+YAI.jpg)





No comments:
Post a Comment