Friday, February 15, 2013

An Apple Pie [part 1-5]



1
Kepalaku masih berdenyut. Semalam konser baru kelar sekitar jam 3 pagi. tidur jam 4, bangun jam 8, kuliah jam setengah 9. Ngumpulin nyawa 5 menit, perjalanan rumah-kampus naik motor makan waktu 20 menit, perjalanan jalan kai dari tempat parkir ke kelas makan waktu 5 menit, jadi jangan berharap aku sudah mandi apalagi keramas. Poni lepek teratasi dengan bando. Rambut lepek kucepol tinggi. Fiuh.. Bad hair mengakibatkan bad mood. Bad mood mengakibatkan bad day. Dan kuucapkan selamat datang hari berat... watdehel...
“Woii Kim….!!! Tumben telat?” suara bass Nathan menjadi cobaan pertamaku hari ini.
“Bawel lo...” kujawab dengan malas. Berharap tidak ada lanjutan cobaan dari dia.
“Bawel gimana sih? gue kan perhatian banget sama lo” harapanku tak terkabul.


Aku berhenti berjalan, aku berencana memberi tatapan peringatan “don’t bother me!” aku menengok ke samping kananku, aku mendongak tinggi. Kupasang muka “senggol bacokku”. Dan cowok itu cuma tersenyum menghadapi alert signal-ku. Senyuman dia bisa meluluh-lantakkan pertahanan setiap wanita di dunia. Tapi tidak berlaku untuk wanita yang sudah mengenalnya dari jaman ingusan. Aku sudah divaksin, jadi dengan kata lain senyuman cowok itu useless. Kulanjutkan jalanku tidak peduli.
“Come on kim.. don’t starting today with a terrible thing! hahahaha”
“You make my day becoming terrible, you moron..” Jawabku cuek sambil terus berjalan.
“What? I’m your best friend kimi... you know that.. I never be troublemaker to you.. hahahahaha” Nathan terus menggodaku menghalang-halangi jalanku.
“One.. two..” aku mulai mengeluarkan jurus pamungkasku.
“What? Will you punch me? Ayolah kim, ini masih pagi untuk bergulat.. hahahahaha” Nathan tidak mengindahkan peringatanku.
“Three...!!” bukkkkk
“Awww..!!! shitt..!! Kimi, dare you kick my leg!!” Nathan berteriak marah sambil memegang kakinya
“I’ve warned you Nathan..” aku tinggalkan dia terus berjalan masuk ruang kelas. Di kelas terlihat Mrs. Piggy sudah memulai kuliah Bussines law nya.
“You late Miss Kimi..” Mrs. Piggy menyambutku dengan manis. Jangan sampai aq menendangnya seperti aku menendang troll tadi.
“We are know that..” Jawabku pendek sambil terus berjalan ke salah satu bangku di pojok kiri atas. As usual.
Mrs. Piggy menggeleng-gelengkan kepalanya yang bulat dihiasi dengan rambut ala dora-nya.
Nathan baru datang ketika Mrs. Piggy meneruskan lagi kuliahnya. Aku sudah tau bagaimana alur cerita yang akan terjadi.
“Mr. Nathan.. you late.” Mrs Piggy berkacak pinggang.
“Better late than never come, Miss Piggy..” jawabnya dengan senyumannya yang luar biasa menyebalkan.
Mendengar Nathan memanggilnya “miss” membuatku ingin muntah. That boy is so fucking hypocrite.
“Ah.. you so talkative Nathan.. you save this time. Please sit down, I have continue my class.”
“Ah sure Miss Piggy..” sambil tersenyum puas, Nathan berjalan naik duduk di sampingku.
“You’re fucking asshole.” Aku berkata sambil terus menulis menyalin tulisan di papan tulis.
Thank you.. hahaha” Nathan tertawa menganggapnya sebagai pujian.
Yeah.. I’ve cursed. Cursed have a friend like Nathan. Damn it..

v       
Kuliah miss Piggy dihabiskan dengan ocehan Nathan yang sibuk flirting dengan cewek sebelah bangku tempatnya duduk.
“Hei kim, kamu tau hot girl sebelah kita? Daritadi ngeliatin aku nih..” Nathan berbisik kepadaku.
“So what” kujawab malas sambil terus bertopang dagu memandang Mrs. Dora.
“Tau gak namanya?” Nathan belum menyerah.
“Sutini.” Jawabku ngasal.
“Hah? Serius? Orang Indo?” Nathan masih juga belum nyerah.
“Keturunan Suriname-Arkansas.” Jawabku masih ngasal.
“Ngasal lo!” akhirnya Nathan sadar jawabanku ngasal.
“Gue deketin ya Kim?” Nathan meminta ijin dulu. Seperti biasanya.
“Gue restuin.” Jawabku. Seperti biasanya.
v   

 2
“Kim, itu gebetan baru si Nathan?” Grace menunjuk pemandangan membosankan bagiku. Nathan sedang duduk bersama hot girl. Yeah that Sutini.. I named her that.
“Hmm.. yeah I think so.” Jawabku sambil tetap mengunyah porsi jumbo beef burger.
“Itu sudah berapa cewek yang digebet dalam sebulan?” Grace melanjutkan pertanyaannya sambil mengunyah saladnya.
Twelve maybe..
“One dozen?? That boy so crazy.. hahahaha.”
“We already know Grace..” sambil menepuk pundaknya.
“Hahahahaha.. kok bisa kamu betah temenan sama orang gila kayak gitu sih Kim?”
“Aku dikutuk Grace. Aku dikutuk harus jadi temennya dari kecil. What a cruel destiny... fiuhhh...” aku menghela nafas kemudian meneguk cola.
“Hahahaha... mungkin dia berjodoh denganmu Kim.. jadi kamu dilatih untuk menghadapi kelakuannya itu sebelum nikah! Hahaha”
“Demi Tuhan.. aku tidak mau berjodoh dengannya..”
“Yakin? Walaupun dia berubah?”
“I’ll think about it.” Jawabku sambil melanjutkan mengunyah menu French fries-ku.
“I think you've affected of Nathan madness. hahahahaha” Grace tergelak.
“At least, I was more sane than he” Jawabku ringan.

“Kimi.. my honey.. what was your lunch menu today?” tangan Nathan tiba-tiba sudah hinggap di pundakku.
“Don’t disturb my lunch.” Jawabku sambil terus makan.
“Pantesan jomblo.. galak banget sih lo kim.. hahahaha” Nathan duduk di samping Grace yang berhadapan denganku.
Aku berhenti mengunyah dan menatap Nathan dengan tatapan membunuh. Nathan semakin tertawa keras melihat reaksiku.
“Nathan, please itu si Kimi jangan diganggu dulu. Daritadi mood-nya lagi naik turun tuh..” Grace menengahi
“Oh sorry Kimi honey.. hahaha.. eh, Grace hari ini lo cantikan sih?” Nathan ganti mengganggu Grace.
“Jadi gue calon mangsa lo yg keberapa nih?” Grace membalas rayuan Nathan dengan manis.
“Hahahahaha.. sial.. pasti diajarin Kimi.. yaudah deh gue cabut dulu mau kencan nih sama Audrey hahahaha…” jawab Nathan sambil nyomot French fries yg sedang dipegang Kimi
“Oh Sutini..” jawab Kimi dengan datar
“Please don’t be jealous with her. Hahahahaha” Nathan tertawa tergelak
“Me? Jealous? Are you kidding me?” jawab Kimi sambil menyeringai.
“Hahahaha yes I just kidding.. every girl must be jealous with you.”
“Hah? why?” Kimi berhenti mengunyah memandang Nathan.
“Because you always be my side everytime everywhere. Hahahaha”
“Karena kamu selalu mengekoriku.” Aku melanjutkan mengunyah.
“Karena kamu membutuhkanku.” Nathan menggodaku. menyentuh daguku dengan jarinya.
“Funny.” Mengusir tangannya dari daguku.
“Hahahahaha.. have a nice day my kimi...!!” Nathan pergi sambil tertawa puas.
“Kim, tapi ada satu hal yang aku akui dari dulu sampai sekarang tentang Nathan..”
“What?”
“Nathan is so handsome.. georgeous.. awesome..”
“Jadi sekarang kamu mulai menjadi salah satu fansnya?”
“Hahahahahaha... apa kamu gak sadar dia mirip Kris leader EXO-M?”
“Shut up Grace!! You make me loss my appetite!”
“Hahahahaha sorry... gimana konsermu kemarin? Sukses?”
“Yeah begitulah..”
“Gimana si Bayu? Masih seganteng kai EXO-k gak dia?”
“Masih lah..” jawabku ringan.
“Masih suka lo sama dia?” Grace mencondongkan badannya ke arahku. Penasaran.
“I don’t know..” jawabku datar.
“Lah? Kok gitu?” Grace masih penasaran.
“Grace, I just wanna playing music there. He’s member of my band. I don’t want to mix my personal issue with my band. That’s unprofessional.” Aku mengubah ekspresiku menjadi serius.
“Hahahaha serius amat lo Kim.. gue cuma nanya, please...” Grace protes.
“Hahahaha... I just have headache Grace. Sorry..” ekspresiku melunak.
“Tenang Kim.. gue tau lo lah.. hahahaha. Anyway kenapa sampai sekarang lo masih gak ngebolehin Nathan nonton konser lo?”
“Males. Ntar yg ada dia nyepikin semua cewek yang nonton konser gue trus cewe-cewek pada patah hati terus trauma datang ke konser gue.”
“Cuma itu alasannya?”
“Yooaa..”
“Hahahaha... dan dia mau nerima alasan lo?”
“Gak”
“Terus?”
“Terus ya gue cuekin. Bodo amat.”
“Hahahahaha...jahat banget sih lo Kim..”
“Biarin aja, Nathan doang.”
“Hahahahahaha.. kejam.”
v   

3
      “Kim, besok kita rehearsal di Four Seasons Centre, lo bisa kan?” Tanya Bayu sambil menyodorkan Americano.
      Thanks. Oh..bisa Bay, alat kita yang bawa kan? Jadi kita berangkat bareng dari sini?” jawabku sambil memasukkan gitar ke sarungnya.
      “Iya. Ntar lo barengan aja ma gue. Josh, Billy sama Sammy biar naik mobil bawa alat-alat.”
      “Naik Bruno?” aku berhenti sejenak memandang Bayu yang sedang meneguk Americano-nya
      “Iya. Kenapa? Lo keberatan? Hahahaha” Bayu tertawa
      “Bukan gue yang keberatan. Gue khawatir Bruno keberatan gue.” Jawabku datar.
      “Tenang Bruno udah fit kok. Udah gue masukin bengkel habis duit kuliah satu semester. Hahahahaha” Bayu tersenyum sambil menepuk pundakku.
      “Nah makin khawatir gue kalo habis gue naikin langsung masuk bengkel lagi.. bisa sia-sia duit kuliah satu semester.. hahahaha” jawabku sambil tertawa.
      “Bilang aja lo gak mau boncengan ma gue Kim..” Bayu tiba-tiba memasang muka serius.
      “Eh, gue mau kok.” Aku terkesiap melihat ekspresi bayu yang tidak biasa.
      “Dari tadi lo alesan aja sih hahahahaha” Bayu tertawa tergelak
      “Gue cuma basa-basi Bay, biasa orang Indo. Mau tinggalnya di Negara mana juga masih bawaan sifat. Hahahaha” masih kaget dengan ekspresi serius bayu yang ternyata cuma ingin menjahiliku.
      “Hahahaha... bisa aja lo Kim.. yaudah besok jam 9 malem ya. Lo telat gue jual gitar lo.” Bayu mulai menjahiliku lagi.
      “Jual aja habis itu gue hancurin si Bruno.” Jawabku membalas kejahilannya.
      Bayu melanjutkan tertawanya sementara aku terpesona. Damn..


















4
      Hari ini moodku lebih baik daripada kemarin. Itu karena aku cukup punya waktu untuk tidur semalam. Latihan cuma sampai jam 10 malam. Setelah itu aku langsung bisa menghinggapi bed empukku di rumah. Jadi pagi ini aku bangun dengan segar.. dan moodku pun bagus.
      “Hai Nath..” Sapaku sambil duduk di bangku
      Hai Kim... seems you have better mood than yesterday.” Nathan tersenyum memandangku.
      “Yeah, lucky you.” Jawabku datar.
      “Thank you for making me lucky, Kimi honey..” jawab Nathan sambil tersenyum menahan tawa.
      “Bukankah ini terlalu pagi untuk bersikap manis denganku, Nath?”
      “Hahahahaha.. you right..”
      “So how your dated yesterday?” aku penasaran.
      “Sutini if you means.. yeah..bored.” jawab Nathan dengan malas
      “Sampai berapa lama rencananya?” pertanyaan rutin ini selalu kutanyakan ketika ada sinyal dari Nathan bahwa dia sudah tidak akan lama lagi membuang mangsanya.
      “Today I think. I could’t stay longer with boring girl, Kim.. I just feel not comfortable. It’s like stay in hell... that empty-headed girl.. ahh.. I can’t..” jawab Nathan terlihat sibuk mencari-cari alasan yang bisa diterima olehku.
      “I know, I know.. please stop making excuses.” Aku melambaikan tanganku menyuruhnya berhenti mengoceh.
      “Hehehehe... you always understand me, oh Kimi Goddess..” Nathan merangkulku dengan tangannya yang sebesar tangan troll.
      “Are you satisfied now? Player..!” jawabku sambil berusaha melepaskan tangan raksasanya dari pundakku.
      “Hahahaha...” Nathan tertawa puas sampai Mr Connor terlihat masuk ruang untuk memulai kelas International Law nya.
v   
      Aku memesan menu grilled beef steak with mashed potato, lettuce salad and hot vanilla-latte. Nathan berdiri di sampingku memesan menu yang sama denganku, tanpa salad. Bagi dia salad adalah makanan gadis diet. Tapi faktanya aku tidak sedang diet. Aku hanya perlu sayuran. Susah menemukan makanan yang berisi sayuran di sini. Padahal kalau di Indo sangat mudah menemukan sayuran segar, sayur asam, sayur sop, ahhh.. kangen Indo..
      “Kau cari tempat duduk Kim, aku bawakan nanti makananmu.” Kata Nathan sambil membayar makanannya di kasir
      Thanks. And please pastikan steak-ku sampai ke meja dengan selamat mr. Nathan.” Aku memperingatkan dia, beberapa waktu yang lalu onion ring dan burger ku tinggal piring ketika sampai di meja. Dan aku mengamuk selama beberapa hari. Dan jika Nathan pintar dia tidak akan mengulanginya.
      “Oke.. aku akan memastikan piring steak-mu sampai di meja dengan selamat.” Jawabnya ringan sambil menerima uang kembalian.
      “Hahaha funny..” jawabku sambil mencari meja kosong.
      Ah.. aku menemukan sebuah meja kosong dekat jendela. Posisi strategis. Aku dan Nathan selalu suka posisi meja dekat jendela. Sekarang lagi autumn. Maple leaves yang berwarna cokelat keemasan sedang berguguran. So beautiful.. Aku datang menghampiri meja dan kemudian mulai memandangi pemandangan indah itu.
      “Sudah autumn ya..” Nathan datang
      “Dan sebentar lagi winter...” jawabku tidak mengalihkan pandangan ke maple trees di luar.
      “Nanti pas winter main ski yuk?”
      “Gak ah ntar kamu tiba-tiba batalin janji seperti winter tahun lalu.”
      “I got a cold Kim.. please don’t make me fell guilty” Nathan memasang muka memelas.
      “So are you sure this time you will not get a cold again?” tanyaku sambil meneguk pelan hot vanilla-late.
      “Yeah. I’m sure.” Jawab Nathan percaya diri.
      “So I hope you will get a bad cold.” Jawabku sambil memakan salad
      “Hahahaha.. come on Kim.. don’t be cruel..” Nathan memprotes.
      “I can’t. because I’m cruella.” Jawabku sambil terus mengunyah
      Hahahaha... so cruella never eating beef steak right?”
      “What do you means?” aku berhenti mengunyah dan memandang Nathan.
      “Cruella eating human steak.”
      “So?”
      “I’ll eating your beef steak.” Nathan bersiap menancapkan garpunya ke steak-ku
      “And I will eating you.” Jawabku sambil mengacungkan pisau steak-ku ke arahnya.
      Wow.. be careful with your knife, girl.. Hahahaha...”


      “Nathan, can I speak only with you?” tiba-tiba ada suara cewek terdengar.
      “Right now? Can you see I eating my lunch, girl.” Jawab Nathan datar.
      “You’re not picking my calls last night!” suara cewek yang ternyata Sutini ehm, Audrey I mean.. itu meninggi.
      “I’ve already slept.” Jawab Nathan masih datar sambil mengunyah makanannya.
      “You lied!!!” suara cewek itu berubah menjadi teriakan.
      “You know it. So stay away from me. You make me loss my appetite.” Nathan masih tidak memperdulikan cewek itu.
      ”How dare you make me like dumb!!!” suara teriakan makin keras. oke, aku sudah tidak tahan mendengarnya.
      “Please, can you guys let me eating my lunch in a peace? What the hell??!!” bentakku sambil berdiri mencari meja lain jauh dari arena pertarungan dua orang gila itu. Dua orang itu sempat kaget dengan reaksiku. Namun setelah aku pergi keduanya masih bertengkar. Nathan terlihat menarik tangan cewek itu keluar dari canteen. Beberapa menit kemudian Nathan kembali ke canteen diikuti tatapan-tatapan aneh dari orang lain yang ikut menyaksikan adegan pertarungan tadi. Nathan mengambil piring makanannya dari meja sebelumnya, kemudian duduk di bangku yang kutempati sekarang. Aku masih sebal acara makan siangku diganggu, jadi aku tidak akan berbicara dengannya selama beberapa waktu. Setidaknya sampai makan siangku berakhir.
      “Kim..” Nathan mulai membuka percakapan.
      Aku tidak menjawab panggilannya. Kuteruskan makan siangku. Setelah selesai aku segera pergi masuk ruang kelas. Nathan hanya terdiam membiarkanku pergi. Sebenarnya hal seperti ini sudah biasa. Bahkan pertama kali aku mengalami hal seperti itu aku sempat shock. Namun itu sudah beberapa tahun yang lalu. Sekarang aku mulai terbiasa. Aku hanya tidak suka ketika aku diganggu. Jadi aku sedang memberi pelajaran padanya.
      “Kim.. come on.. I’m sorry..” Nathan berbisik padaku selama kelas.
      “You have to pay.” Jawabku ringan
      “Ask me..”
      “Buy my lunch tomorrow.”
      “Only that?” Nathan tersenyum.
      “You want more? Are you sure?” tanyaku sambil memandang tajam ke arah matanya.
      “I think it’s pretty enough.” Jawabnya sambil tersenyum senang.
      “Smart boy.” Jawabku bersamaan dengan berakhirnya kelas.

v   
     

5
      Jam tangan menunjukkan waktu jam 9 malam ketika aku, Bayu, Billy, Josh dan Sammy sedang memasukkan alat-alat musik ke van oranye VW milik Billy.
      “Ayo Kim.”
      “Mana Bruno?”
      “Itu aku parkir deket pohon.”


      Kupandangi motor Harley Davidson tipe Dyna Street keluaran tahun 2007 warna hitam kesayangan Bayu. Ganteng.. seganteng yang punya...hahaha.
      “Kim, mau berapa lama lagi mandangin Bruno?” Tanya Bayu yang sudah bersiap di atas Bruno.
      “Eh.. hahaha.. gak.. aku lagi lihat bannya ada yang kempes apa gak.” Jawabku sambil garuk-garuk kepala
      “Ini semacam basa-basi lagi Kim? Bayu tersenyum
      “Yeah...” jawabku pendek sambil berusaha naik Bruno di belakang Bayu.
      “Are you ready?” Tanya Bayu sebelum dia menjalankan motornya.
      “Yeah.” Jawabku dan Bruno pun dijalankan.
      Di tengah perjalanan ke tempat rehearsal suasana senyap. Sedikit akward. Aku bingung mau memulai percakapan darimana. Melingkarkan tanganku ke pinggangnya selama perjalanan saja sudah membuatku frozen.
      “It’s your first time, right?” Bayu membuka percakapan. Suaranya sayup-sayup terdengar karena diterpa angin malam. Terdengar seksi.
      “Hah?” aku kaget. First time? Jangan bilang dia mau mengejekku ini pertama kalinya aku dibonceng cowok. Ehm.. Nathan tidak termasuk hitungan.
      “first time you riding Bruno with me.” Kata bayu mengoreksi pertanyaannya.
      “Ehm.. iya. Kamu kan jarang bonceng cewek, Bay..” jawabku pelan
      “Jangan bilang kamu kira aku gay? hahahahaha” bayu tertawa.
      “Kalo aku bilang gitu gimana?” senyum jahilku keluar
      “Kuturunin kamu disini.” Jawab Bayu menanggapi jahilku.
      “Turunin aja kalo berani.” Jawabku menantang ancaman Bayu.
      “Oke..turun..” motor berhenti dan aku kaget setengah mati. Please ini di tengah ladang sepi. Jangan bercanda!
      “Oke..” jawabku bersiap turun. Aku terlalu gengsi memohon ke cowok. Walaupun itu ke Bayu.
      “Hahahaha... please Kimi.. I’m just kidding..” Bayu tergelak sambil mengacak-ngacak rambutku.
      “Hahahaha.. I was joking too..” aku juga tertawa. Sial.. aku tertipu lagi.
      “Ayo Kim, anak-anak pasti segera sadar kita belum sampai di sana.” Kata Bayu sambil menyalakan mesin Bruno.
      “Kamu sih..” Kataku protes sambil berusaha naik lagi di atas Bruno.
      “Hahahaha jangan bilang kamu sempet shock?” Bayu masih tertawa
      “Iya. Aku kan belum kenal kamu orang yang gimana.” Jawabku pelan.
      ”Hahahaha..Sorry Kim.. jadi mulailah mengenalku dari sekarang.” Kata Bayu sambil tersenyum. Terlihat dari spion tinggi sebelah kanannya dia tersenyum lebar.. oh God.. I think I’m going crazy.
v   
     
      “Kim, udah makan belum? Makan yuk sekalian kuanter pulang.”
      “Hah? Itu anak-anak mau sekalian ikut gak? Coba Tanya dulu Bay.”
      “Hei Guys, wanna eat something? We are starving.” Tanya Bayu ke Billy, Josh dan Sammy.
      “No. I’m too stupid to following your dating! Hahahaha.” Jawab Billy sambil tertawa
      “Dating? Hei guys, are you drunk?” jawabku sambil menatap sebal ke arah mereka.
      “Have fun yeaah! hahahahaha” mereka bertiga tertawa tergelak bahagia melihatku belingsatan mendengar godaan mereka.
      “Hahahaha bule gila.. so.. where are we going on a date?” Bayu bertanya sambil tersenyum jahil ke arahku.
      “So we are really going a date?” tanyaku serius.
      “What do you think? Should we?” jawabnya tak kalah serius.
      “Please I’m going to die. Don’t joke anymore.” Jawabku akhirnya sambil menaiki Bruno.
      “Hahahaha... oke.. makan spaghetti yuk.” Tanya Bayu sambil memakai helmet nya
      “As you wish, Merlin..” kujawab dengan nada menggoda.
      “Ah..you’re my beloved cat..hahahaha.” jawaban Bayu tidak kalah menggoda. Dalam kepercayaan bangsa Eropa, Merlin adalah penyihir dan his cat adalah pelayan setianya-sekaligus kekasihnya. What a beautiful night..
v   

No comments:

Post a Comment