1
Aku masih bertahan menunggu Jonghae lewat jalan
ini. Aku tengok jam tanganku. Pukul 9 malam waktu Busan. Harusnya dia tidak
terlambat, pikirku. Aku mulai kedinginan. Suhu Korea malam ini 5 derajat
celcius. Cukup membuat orang yang terbiasa hidup di Negara tropis seperti
Indonesia menggigil sekarat. Kutiup lagi kedua tanganku yang mulai membeku,
bahkan aku bisa melihat hembusan udara yang keluar dari mulutku. Aku begidik.
Aku menyentuh tas selempangku. Membuka resletingnya dan mengintip kimbab
buatanku di dalamnya, semoga tidak menjadi kimbab beku. Aku menghembuskan
nafasku lagi sambil memperbaiki letak syal rajutan tebal yang melingkar di
leherku.
Bersandar di tembok bangunan ini adalah pilihan buruk. Dindingnya yang mulai berlumut akan meninggalkan bekas noda dan bau yang buruk di jaketku, jadi kuputuskan berjongkok agar badanku tidak ambruk kedinginan. Tenang Luna.. bentar lagi Jonghae pasti muncul...
Bersandar di tembok bangunan ini adalah pilihan buruk. Dindingnya yang mulai berlumut akan meninggalkan bekas noda dan bau yang buruk di jaketku, jadi kuputuskan berjongkok agar badanku tidak ambruk kedinginan. Tenang Luna.. bentar lagi Jonghae pasti muncul...
Aku
menenggelamkan kepalaku kedalam syal masih dalam keadaan berjongkok di pinggir
jalan malam itu, hingga tidak sadar Jonghae lewat. Ketika akan memasuki pintu
club Paradise aku baru tersadar dan langsung berteriak memanggilnya.
“Jonghaeee..!!! wait..wait..!!!” aku berlari mengejar Jonghae.
Jonghae menengok kaget kemudian hanya memandangku.
“shhh..shh...” sambil mengatur nafas aku mengeluarkan kimbab
dari dalam tasku.
“you again...” Jonghae membuang muka dinginnya kemudian
berjalan memasuki pintu Paradise Club.
“Jonghae.. please.. this kimbab is for you...” aku berusaha
mengejar jonghae namun seseorang yang berbadan besar dan bertampang galak
memegang lenganku.
“Go!!!” suaranya menggelegar sambil menarikku kasar
“don’t touch me!!!” aku berteriak sambil berusaha melepaskan
lenganku dari tangan raksasanya.
Aku mengusap lenganku yang terasa sakit
sambil beranjak pergi dari tempat itu. Bukan pertama kalinya Jonghae
memperlakukanku seperti itu, bahkan ketika pertama kali aku memberikannya
kimbab dia hanya memandangku dingin sambil mengucapkan, “babo!!” kemudian
pergi. Sejak saat itu setiap malam aku terus membuatkannya kimbab dan
menunggunya disini, bertekad sampai Jonghae mau memakannya.
Aku
mempercepat langkahku agar bisa segera sampai rumah.
Aku memasuki rumah kemudian kunyalakan
lampu dengan lemas. Aku belum makan seharian ini. aku buka tasku kemudian mulai
memakan kimbab beku.
“Jonghae belum beruntung karena belum sempat merasakan kimbab
beku buatanku ini.” aku berbicara sendiri sambil mengunyah kimbab.
***
“Annyeong haseo ahjumma..” sapaku pagi itu pada bibi.
“annyeong Luna~ssi..” jawab bibi tersenyum sambil memasak di
dapur warung ramyun milik bibi.
“where is sung hyun, ahjumma..?” tanyaku sambil membantu bibi
mencuci mangkok.
“sung hyun~ssi? Ooohh... go to school..” jawab bibi
terbata-bata.
“hooo... arasoo..” jawabku sambil mengangguk kemudian melanjutkan
mencuci mangkok ramyun.
Pagi itu kami mulai membuka warung ramyun
tanpa Sung Hyun. Sung hyun, putra satu-satunya bibi sedang bersekolah di Busan
Science High school, salah satu sekolah SMA terkenal di Busan. Sung hyun masuk
kesana dengan beasiswa penuh. Dia adalah tipe siswa yang tidak seperti siswa
SMA pada umumnya, dia lebih tenang dan dewasa, kami dekat seperti hubungan
noona-dongsaeng karena hanya dia satu-satunya yang bisa berbahasa Indonesia.
Kami langsung akrab sejak pertama kali berkenalan 6 bulan yang lalu ketika aku
melamar perkerjaan di warung ramyun ibunya. Aku beruntung setidaknya aku masih
bisa berkomunikasi lancar dengan seseorang di negeri orang mengingat jarang
sekali aku menemui orang Indonesia yang hidup disini. Bahasa korea ku sangat
payah. Aku memang payah. Datang ke korea dan tidak bisa bahasa korea adalah
bunuh diri. Sedangkan bahasa Inggrisku juga tidak bagus. Aku menyesal sering
bolos ketika mama menyuruhku les conversation dulu. Aku tersenyum pahit ketika
tiba-tiba teringat mama.
“Luna! Kamu pikir bermain musik itu pilihan tepat? Berhenti
mulai sekarang dan fokuslah belajar!!” papa membentakku.
“Papa boleh melarangku bermain musik tapi papa tidak berhak
merusak gitarku!!!” aku balas membentak. Aku marah, gitar bass kesayanganku
dibanting papa hingga hancur
“LUNAAA!!!!!” papa berteriak keras.
Aku hanya memandang papa dengan marah
kemudian pergi keluar rumah membawa tas berisi beberapa potong baju dan uang.
Aku lihat mama hanya menangis terisak-isak. Tapi aku tidak tahan lagi di rumah
ini. Sekarang rumah ini neraka bagiku.
***
“Luna~ssi.. take that dirty bowl..” suara bibi membuyarkan
lamunanku.
“oh.. ye..” jawabku kaget sambil mengambil mangkok sisa makan
pembeli.
“Luna~ssi? Are you okay?” bibi terlihat khawatir
“oh.. mianhae, ahjumma. I’m okay...” aku tersenyum merasa
bersalah tidak fokus ketika sedang bekerja.
“annyeong haseo.” Sunghyun masuk sambil masih membawa tas
sekolahnya
“eoseo oseyo sunghyun~ah..” bibi menyuruhnya duduk kemudian
membawakannya ramyun, kimchi dan semangkok kecil nasi putih.
“halo noona. Kau terlihat seperti panda siang ini.” kata
Sunghyun sambil memasukkan nasi putihnya ke mulutnya.
“ha?? Panda??” aku bingung
“kantung matamu besar sekali. Tidurlah yang baik.” Sekarang
sunghyun mengambil kimchi dengan sumpitnya.
Aku duduk di kursi sebelahnya, “semalaman aku memikirkan hyun
bin setelah menonton dramanya. Hahahahaha” aku tertawa
Sunghyun memangdangku dengan tenang, “Hyun bin atau Sunghyun?”
kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke makanannya. Aku memukul kepalanya
dengan sendok yang berada di depanku.
Dia kaget berusaha menghindar tapi keburu
sendok sudah mengenai kepalanya. Dia memandangku sambil tersenyum kecil
kemudian melanjutkan suapan makanannya. Bibi ikut tersenyum dari arah dapur. Yeah
this is my family now. J
2
“Noona.. malam ini jadwalmu bermain di Mayoo’s club kan?”
Sunghyun bertanya sambil mengelap meja warung.
“oh.. ya. 1 jam lagi. mau ikut sunghyun~ah?” tanyaku sambil
tersenyum.
“boleh.. tapi nanti traktir aku Tteokbokki ya?” lanjut sunghyun
sambil berjalan ke dapur membawa mangkok dan piring sisa makanan.
“matre!!” jawabku pendek
“hah? Matre? Apa itu noona?” tanyanya terlihat bingung.
“tidak tulus. Minta balasan” Jawabku sambil memandangnya datar
“that’s life, noona..” Sunghyun tersenyum manis.
Tiba-tiba lelaki berpenampilan rapi masuk
warung dan memesan semangkok ramyun. Aku memandangnya sebentar. Seperti pernah
melihatnya di suatu tempat tapi aku tidak ingat. Lelaki itu merasa dirinya
sedang dipandangi kemudian memandangku sambil tersenyum, lebih tepatnya
menyeringai.
“why? You interest with me?” lelaki itu memakai bahasa inggris,
menyadari aku bukan orang korea.
Aku kaget dengan kata-katanya, kemudian menghampirinya.
“I’m sorry ahjussi. Are you kidding me?” jawabku dingin sambil
meletakkan sebuah gelas dan sebotol soju di mejanya.kemudian pergi ke dapur.
Sunghyun hanya memandang kami bergantian.
“ahjussi?” lelaki itu kembali menyeringai dan terlihat tidak
suka dengan panggilan yang kuberikan padanya.
Aku datang kembali ke mejanya dengan
membawa semangkok ramyun dan sepiring kecil kimchi, setelah meletakkannya aku
berbalik pergi. Lelaki itu memegang tanganku,aku menengok.
“I’m not ahjussi. I’m still 25 years old..” katanya sambil
tersenyum kemudian mengedipkan sebelah matanya.
Aku terkejut dengan kedipan matanya. Aigoo. Orang ini pasti
gila.
“what happen with your eye ahjussi? Something hurt your eye?”
tanyaku datar sambil melepaskan tanganku dari pegangannya.
“Noona.. it’s time. You’re gonna be late.” Sunghyun memegang
tanganku dan mengajakku keluar warung.
Lelaki itu terlihat heran melihat kami
pergi keluar. Dari luar warung kami terdiam. Aku masih bisa melihat lelaki itu
sedang bberbicara dengan ahjumma, kemudian terlihat tertawa bersama. Kemudian
memandang kami yang masih berdiri diluar.
“Apakah kau mengenalnya noona?”
“aku
merasa pernah melihatnya, tapi sudahlah lupakan. Aku rasa orang itu gila.” Aku
belum mengalihkan pandanganku ke dalam warung.
Ayo
pergi noona..” Sunghyun mengajakku pergi.
“tapi
masih satu jam lagi...” jawabku pelan
“lebih
baik kita pergi sekarang.”
Aku masih memandang lelaki itu, kemudian mengalihkan
pandanganku ke sunghyun, “oke kita pergi.”
***
Aku berjalan sambil menunduk. Kemudian melihat jam tanganku. Pukul
8 lebih 10 menit.
“sunghyun~ah.. noona harus pulang dulu. Maukah kau berangkat
dulu. Kita bertemu di sana. Ada yang harus noona lakukan.”
“oke noona.”
Kami berpisah, aku lupa harus membuatkan
kimbab untuk jonghae. Semoga masih sempat. Aku berlari menuju rumah. Sampai
rumah aku segera membuat kimbab dengan bahan yang kusimpan di lemari pendingin
kecil di dapur rumahku. Aku menengok jam lagi dengan gelisah. Pukul 8 lebih 50
menit. Setelah kumasukkan kimbab dalam sebuah wadah plastik aku segera berlari
pergi ke tempat biasanya aku menunggu jonghae. Sampai disana aku hampir
kehabisan nafas, sambil kulihat jam tanganku lagi. Pukul 9 lebih 5 menit. Aku
menghembuskan nafas, khawatir jonghae sudah masuk ke dalam bangunan club.
Aku menunggu setengah jam lebih. Dan
jonghae belum muncul..
“I’m late..” keluhku pelan. Aku bersiap
pergi.
“Jonghae~ah... stay with me tonight..”
Tiba-tiba terdengar suara wanita, aku
menengok ke asal suara. Aku melihat jonghae sedang bersama seorang wanita memakai gaun merah menuju sebuah mobil mewah yang
terparkir di depan club. Aku berdiri disana mematung melihat pemandangan itu.
Tangan wanita itu merangkul mesra lengan Jonghae. Sedangkan jonghae terlihat
tersenyum dingin. Kemudian mata kami berdua bertemu..
“weyoo Jonghae~ah?” wanita itu memandang
bingung ke arahku.
“aniyo..” Jonghae memandangku dengan
tatapan dingin selama beberapa saat. Kemudian membuang mukanya untuk membukakan
pintu mobil untuk wanita itu.

Wanita itu masuk di kursi depan, kemudian
Jonghae masuk ke kursi kemudi mobil, lalu mobil itu berjalan. Aku masih
mematung. Merasakan udara tidak lagi sedingin sebelumnya. Mataku terasa panas,
pandangan mataku kabur memburam dipenuhi air mata. aku berbalik berjalan. Aku
menangis sepanjang jalan.
***
“Noona..” panggil Sunghyun menyadarkan lamunanku.
“ada apa sunghyun~ah?” jawabku sambil tersenyum
“apa sesuatu buruk terjadi kemarin malam sebelum kau ke mayoo?”
“emm.. nothing happened..” jawabku sambil berusaha tersenyum.
Aku tau Sunghyun tidak akan semudah itu
mempercayai ucapanku. Kemarin dia melihatku datang ke Mayoo dengan mata sembab
dan hidung merah. Kemarin pun aku bermain dengan aneh, aku lebih terlihat marah
dibanding menikmati menikmati musikku. Alhasil akupun mendapat teguran dari
teman se-bandku.
“If you still playing music like that, you will be expelled.”
Peringatan itu terdengar lebih seperti ancaman bagiku.
“I’m sorry.” Aku masih butuh uang. Maka aku lebih memilih jalan
aman.
Selama perjalanan pulang sunghyun dan aku tidak saling
berbicara. Sunghyun tidak ingin menggangguku dan aku sedang tidak ingin
berbicara dengan siapapun.
Sunghyun kembali memandangku dengan curiga. Kemudian pergi
mengambilkan segelas air putih untukku.
“gomawo.” Jawabku pelan ketika sunghyun menyerahkannya padaku.
“kamu bisa menceritakannya padaku kapanpun kamu mau noona.”
Sunghyun tersenyum sambil mengusap pundakku.
Aku tersenyum. “gomawo.”
***
Laki-laki aneh itu kembali datang ke
warung. Siang ini dia memakai sweater oranye dan celana jeans biru pudar.
Penampilannya lebih kasual dibanding pertama kali dia datang. Dia duduk di meja
yang sama seperti kemarin dan memesan semangkok ramyun dan segelas soju.
“Haloo.. how are you today?” tanyanya ketika aku berjalan
melewati mejanya.
Aku menengok ke arahnya, “I’m fine thankyou.” Jawabku pendek.
“I always want to go to Indonesia. I see in internet that
Bali’s beach is so beautiful. Isn’t it?” tanyanya memandangku sambil tersenyum.
“that’s right. So why you’re not going there?”
“I have no friend for going, haven’t you missing your country?”
“hmm.. you’re not seducing me right, ahjussi?” aku memandangnya
curiga.
“Hahahaha.. no... I’m only doing persuade on you..” jawabnya
sambil tertawa.
aku memandangnya dengan heran, “ahjussi are you know how people
thinking of you?”
“yeah, they said that I’m good looking.” Dia menopang kepalanya
dengan tangan kanannya, menatapku dengan tatapan menggoda.
Aku bengong beberapa saat, “you’re odd.” Jawabku kemudian
sambil berlalu.
Aku bisa mendengarnya tertawa
terbahak-bahak. Kemudian dia berhenti tertawa, handphone nya berbunyi, aku
melihatnya mengeluarkan teleponnya dari saku celananya. I-phone keluaran
terbaru. Ahjussi itu cukup kaya. Aku mendengarnya berbicara bahasa korea dengan
lawan bicara teleponnya. Aku tidak tau artinya, yah bahasa korea ku payah. Aku
membencinya ketika aku penasaran dan aku tidak bisa berbuat apa-apa...
“why, miss Indonesia? Are you curious who’s talked with me on
phone?” lelaki itu menyadari aku memperhatikannya selama dia menelepon.
“No.” jawabku sambil pergi ke dapur.
Dia tersenyum lagi. Sepertinya dia sangat menikmati saat
menggodaku.
menggodaku.
Beberapa menit kemudian seorang lelaki masuk. Memakai jaket hitam dan berkacamata hitam. Aku terperangah.
“Jonghae hyung..!” panggil lelaki itu mengajaknya duduk di
mejanya.
Kemudian mereka berdua terlihat mengobrol beberapa saat,
kemudian lelaki itu terlihat sedang memanggil seseorang untuk membuat pesanan.
Aku panik. Bibi sedang sibuk di dapur, sedangkan sunghyun belum pulang dari
sekolahnya.
“hei miss Indonesia, come on.. I was ordering!” lelaki itu
memanggilku karena hanya satu-satunya pelayan yang berada di situ dan aku hanya
diam berdiri.
Jonghae melihat ke arahku. Dan aku bisa melihat matanya sedikit
kaget walaupun secara keseluruhan wajahnya masih terlihat datar. Aku tidak
mempunyai pilihan, aku datang ke meja mereka.
“ramyun 1 portion, kimchi 1 portion, and soju 1 bottle. Are you
remember that?”
“clearly, ahjussi.” Jawabku tanpa memandang jonghae. Kemudian pergi
ke dapur untuk membantu bibi menyiapkan.
Dari dapur aku bisa melihat mereka sedang
mengobrol tentang sesuatu. Ahjussi itu sekitar 2 kali memandang ke arahku
sambil menunjukku kemudian tertawa kembali. Sekali lagi aku benci ketika aku
tidak mengetahui apa yang orang lain bicarakan. Suck.. Aku mengantarkan pesanan
mereka sekitar 10 menit kemudian. Aku segera meletakkan pesanan mereka secepatnya.
“hei miss Indonesia, do you know that my friend
interesting about you. Right hyung? Hahahahaha”
Aku memandang jonghae, jonghae tidak melihatku. Dia
sibuk menuangkan soju ke gelas kecilnya yang kemudian dia habiskan dalam sekali
teguk. Aku bisa melihat jonghae tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
“but, I think that your friend not a kind person type.
I’m sure that he must hard to make relationship with other, right?”
Jonghae memandangku. Dia terlihat gusar dengan
kata-kata yang baru kuucapkan tadi. Ahjussi itu melihat ada yang aneh dengan
kami berdua.
“come on.. you two must be friend..” ahjussi itu
berusaha mendinginkan keadaan.
“I don’t think so.” Jawab jonghae datar kemudian
beranjak berdiri lalu pergi meninggalkan warung.
Ahjussi itu memandang kepergian jonghae kemudian memandangku.
“do you know him? Something wrong happened, right?”
ahjussi itu memandangku dengan tersenyum.
Aku hanya menatapnya, “5000 won ahjussi.”
Dia hanya tersenyum sambil mengeluarkan uang dan
menyerahkan padaku.
Bahkan ramyun yang dipesan jonghae tidak disentuhnya
sama sekali. Dasar tukang buang-buang makanan!! Aku merutuk dalam hati.
***
4
Sekitar jam 8 aku pulang dari warung. Bibi
tutup lebih awal malam ini. hari ini sunghyun ulang tahun, kami berencana akan
membuat sebuah pesta kecil untuk sunghyun. Aku pulang ke rumah, berencana
membuatkannya kimbab. Sunghyun menyukai kimbab buatanku ketika suatu kali dia
mencoba memakannya.
Begitu katanya saat itu, dan aku tertawa
mendengarnya. Aku memang hanya bisa membuat kimbab selama aku tinggal di korea.
aku memutuskan belajar membuat kimbab setelah pada suatu siang aku melihat
jonghae sedang memakan kimbab sambil duduk di kursi taman sambil mendengarkan
musik. Aku melihatnya memasukkan pelan-pelan setiap potongan kimbab dan
mengunyahnya dengan lembut. Dengan headset di kedua telinganya dia memandang
langit. Kemudian tersenyum. aku jatuh cinta padanya sejak saat itu. Setelah itu
aku membututinya kemanapun dia pergi dan aku mengetahui dia bekerja sebagai seorang
host di paradise’s club. Aku sempat kaget dan berusaha mencerna kenyataan itu. Kemudian
aku memutuskan aku akan berjuang mencari tahu alasan jonghae berkerja disana. Langkah
pertama adalah mendekatinya. Aku mencoba membuatkannya kimbab sejak 5 bulan
yang lalu agar dia mau mengenalku, dan hasilnya nol sampai sekarang. Setiap kimbab
yang kubawa pada akhirnya akan masuk mulutku sendiri.
Setelah aku sampai rumah aku segera membuatnya,
kemudian bersiap pergi kerumah sunghyun yang hanya berjarak 4 blok dari
rumahku. Aku berjalan menyeberang jalan, kemudian aku menyadari di hadapanku
Jonghae juga sedang berjalan ke arahku. Aku memandangnya. Malam itu dia memakai
tuxedo hitam rapi. Terlihat tampan, namun aku teringat dia akan menemani wanita
lain dengan kostum itu. aku menunduk sambil terus melanjutkan jalanku.
“hei..”
Aku berhenti ketika dia sudah berpapasan
denganku. Dia memanggilku? Aku menengok.
“Apa kau bawa kimbab?” dia bertanya sambil
tetap memasang muka datar
Aku terhenyak, dia bisa bahasa Indonesia.
“Aku lapar.” kata dia lagi.
Aku masih terdiam memandangnya takjub.
“tak apa kalau kau tidak membawanya.” Jawabnya
lagi kemudian berbalik pergi.
“aku.. membawanya.” Kataku terbata-bata
sambil menyerahkan sebuah wadah kotak plastik berisi kimbab.
Jonghae berbalik lagi kemudian
mendekatiku.
“untukku?” Tanyanya
“ya. ini untukmu.” Aku memandangnya sambil
tersenyum lebar.
“gumawo.” Jawabnya sambil mengambilnya
kemudian berbalik pergi.
“hei.. kau bisa bahasa Indonesia?”
teriakku
Dia hanya menjawab pertanyaanku dengan melambaikan
2 jari tangan kanannya tanpa menengok lagi ke arahku.
“kita bisa mengobrol kapan-kapan kalau kau
mau!!” teriakku lagi sambil tersenyum lebar.
Dia menghilang di kegelapan jalan.
Sampai di rumah sunghyun aku merasa bersalah,
kadonya kuberikan kepada orang lain.
“mana kadoku?” sunghyun memasang muka
sebal
“ehm... maap sunghyun.. besok kubuatkan
kimbab yaaaa!!”
“kau sedang dalam mood yang bagus ya
noona?” sunghyun mengamatiku sambil memsang ekspresi curiga.
“hahahahaha...” aku tertawa sambil
memeluknya, “seungil chukka hamidaaa sunghyun~ahhh!!” teriakku
“kau aneh sekali noona...” sunghyun
memandangku lagi dengan ekspresi aneh itu
“ahjumma.. where is the cake??” tanyaku
mengalihkan perhatian sunghyun.
Bibi datang sambil membawa kue dan sup
rumput laut. Makanan khas orang korea ketika mereka ulang tahun.
“berapa umurmu tahun ini sunghyun~ah?”
tanyaku sambil memasang lilin
“19 noona. Dan jangan lagi sembarangan
memelukku seperti sebelumnya. Aku sudah dewasa sekarang.” Kata sunghyun sambil
menyalakan lilin
“aigoooo....!! so cute sunghyun~ah!!!” aku
memeluknya lagi
“yaaaa!! Noona!!” wajah sunghyun memerah
sambil berusaha melepaskan diri dari pelukanku.
“aigoo hurry up blow out the candles
sunghyun~ah..” kata bibi sambil tertawa melihat tingkah kami
“arasooo..arasooo.. yaa noona, please stay
away from me.” Sunghyun memberi peringatan padaku
Aku tertawa.
5
Kejadian malam kemarin membuatku tidak
bisa tidur. Semalaman aku hanya tiduran di kasur menatap langit-langit dan
memikirkan, kimbab apa yang akan kubuat untuk jonghae. Isi shrimp? Atau crab? Hahahaha...
akhirnya dia memakan kimbabku. Aku akan berusaha lebih giat lagi untukmu
jonghae...!!
***
Dan esok minggu paginya aku bangun pagi
mencoba-coba membuat kimbab dengan berbagai isi. Dapurku berantakan pagi itu.
setelah jadi aku coba memakannya. Kemudian karena masih banyak aku membungkusnya
untuk sunghyun. Aku sudah berjanji padanya kemarin. Aku ke warung sekitar jam 8
pagi, sampai sana aku segera memberikannya pada sunghyun.
“makanlah yang banyak.”
“gomawo noona.” sunghyun segera melahapnya.
Aku melihatnya dengan puas.
***
malam itu aku menunggunya di tempat biasa.
Kemudian dia datang,
“jonghae.. aku bawa kimbab lagi!” kataku
sambil tersenyum lebar menyerahkan kimbab
“oke, thank you.” jawabnya sambil mengambilnya
dari tanganku lalu berjalan masuk ke paradise.
Aku tersenyum puas.
Setelah itu aku sering memberikannya
kimbab untuknya, sudah sekitar 2 minggu rutinitasku ini berlangsung. aku senang
dia tetap mau memakan kimbabku walaupun kami masih jarang mengobrol.
Siang itu aku menjaga warung bersama bibi.
sunghyun masih belum pulang sekolah. Kemudian ahjussi itu datang dan memesan
ramyun.
“oii miss Indonesia! we aren’t know each
other. I’m park yoo min. just call me yoo min. what’s your name?” yoo min
mengulurkan tangannya.
“ah.. yoo min ahjussi...” aku tersenyum
menyambut uluran tangannya, “I’m Luna.”
“Luna means moon right? you’re beautiful
like moon...” yoo min memasang muka player-nya
“please ahjussi.. not again..” jawabku
sambil menepuk pundaknya
“hahahahaha... I just making friends with
you..” jawabnya terbahak-bahak
aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku
melihat sikap yoo min.
“oh ya actually, I’m so thanks for your
kimbab.”
“what do you means?” aku sedikit bingung
dengan perkataannya.
“hahahaha.. I asked jonghae hyung to bring
me your kimbab. didn’t he said for you about that? hahahaha.. but I like if there’s
crab inside.”
“wait.. so that kimbab is eaten by you?
jonghae didn’t eaten it?”
“yeah.. it’s like that. hahahaha”
Aku terdiam. aku merasa marah, kemudian
aku berbalik pergi ke dapur
“hei Luna~ssi where do you go?” Yoo min
heran karena aku tiba-tiba pergi.
Tiba-tiba Sunghyun datang. aku bilang
kepada bibi bahwa aku ingin pulang cepat, kepalaku pusing dan aku merasa sakit.
bibi dan sunghyun terlihat khawatir kemudian menyuruhku segera pulang dan
istirahat.
“noona.. are you okay? wajahmu pucat..”
sunghyun membantuku mengambilkan tasku
“aku hanya merasa pusing. aku akan sehat
setelah bangun tidur nanti.”
“oke noona.. haruskah aku mengantarmu?”
“tidak sunghyun..bantulah ibumu. aku bisa
pulang sendiri.”
Aku segera membawa tasku dan keluar
warung. Yoo min masih disana. dia terlihat bingung dan sedang memikirkan
sesuatu, dia melihatku keluar warung kemudian mengejarku. aku mempercepat
langkahku.


“Luna~ssi.. what happened? are you crying?”
yoo min mengejarku dan menarik pundakku, aku berusaha melepaskannya namun yoo
min semakin kuat menarik lenganku dan memutarnya sehingga kini aku berhadapan
dengannya. aku menunduk menyembunyikan wajahku. aku tidak ingin menangis
sekarang, tapi aku tidak bisa menahannya lagi.
“what happened?” yoo min bertanya pelan sambil
memegang kedua lenganku
“nothing.” jawabku memandangnya tajam dengan
air mata membanjiri mataku. kemudian berusaha melepaskan lenganku dari
tangannya dan berbalik pergi. aku butuh sendiri. hatiku sakit.. oh God...
***


No comments:
Post a Comment