Tuesday, February 19, 2013

milky way in Busan [part 1-5]




1
Aku masih bertahan menunggu Jonghae lewat jalan ini. Aku tengok jam tanganku. Pukul 9 malam waktu Busan. Harusnya dia tidak terlambat, pikirku. Aku mulai kedinginan. Suhu Korea malam ini 5 derajat celcius. Cukup membuat orang yang terbiasa hidup di Negara tropis seperti Indonesia menggigil sekarat. Kutiup lagi kedua tanganku yang mulai membeku, bahkan aku bisa melihat hembusan udara yang keluar dari mulutku. Aku begidik. Aku menyentuh tas selempangku. Membuka resletingnya dan mengintip kimbab buatanku di dalamnya, semoga tidak menjadi kimbab beku. Aku menghembuskan nafasku lagi sambil memperbaiki letak syal rajutan tebal yang melingkar di leherku.

                Bersandar di tembok bangunan ini adalah pilihan buruk. Dindingnya yang mulai berlumut akan meninggalkan bekas noda dan bau yang buruk di jaketku, jadi kuputuskan berjongkok agar badanku tidak ambruk kedinginan. Tenang Luna.. bentar lagi Jonghae pasti muncul...
Aku menenggelamkan kepalaku kedalam syal masih dalam keadaan berjongkok di pinggir jalan malam itu, hingga tidak sadar Jonghae lewat. Ketika akan memasuki pintu club Paradise aku baru tersadar dan langsung berteriak memanggilnya.
      “Jonghaeee..!!! wait..wait..!!!” aku berlari mengejar Jonghae.
      Jonghae menengok kaget kemudian hanya memandangku.
      “shhh..shh...” sambil mengatur nafas aku mengeluarkan kimbab dari dalam tasku.
      “you again...” Jonghae membuang muka dinginnya kemudian berjalan memasuki pintu Paradise Club.
      “Jonghae.. please.. this kimbab is for you...” aku berusaha mengejar jonghae namun seseorang yang berbadan besar dan bertampang galak memegang lenganku.
      “Go!!!” suaranya menggelegar sambil menarikku kasar
      “don’t touch me!!!” aku berteriak sambil berusaha melepaskan lenganku dari tangan raksasanya.
      Aku mengusap lenganku yang terasa sakit sambil beranjak pergi dari tempat itu. Bukan pertama kalinya Jonghae memperlakukanku seperti itu, bahkan ketika pertama kali aku memberikannya kimbab dia hanya memandangku dingin sambil mengucapkan, “babo!!” kemudian pergi. Sejak saat itu setiap malam aku terus membuatkannya kimbab dan menunggunya disini, bertekad sampai Jonghae mau memakannya.
Aku mempercepat langkahku agar bisa segera sampai rumah.
      Aku memasuki rumah kemudian kunyalakan lampu dengan lemas. Aku belum makan seharian ini. aku buka tasku kemudian mulai memakan kimbab beku.
      “Jonghae belum beruntung karena belum sempat merasakan kimbab beku buatanku ini.” aku berbicara sendiri sambil mengunyah kimbab.
***
      “Annyeong haseo ahjumma..” sapaku pagi itu pada bibi.
      “annyeong Luna~ssi..” jawab bibi tersenyum sambil memasak di dapur warung ramyun milik bibi.
      “where is sung hyun, ahjumma..?” tanyaku sambil membantu bibi mencuci mangkok.
      “sung hyun~ssi? Ooohh... go to school..” jawab bibi terbata-bata.
      “hooo... arasoo..” jawabku sambil mengangguk kemudian melanjutkan mencuci mangkok ramyun.
      Pagi itu kami mulai membuka warung ramyun tanpa Sung Hyun. Sung hyun, putra satu-satunya bibi sedang bersekolah di Busan Science High school, salah satu sekolah SMA terkenal di Busan. Sung hyun masuk kesana dengan beasiswa penuh. Dia adalah tipe siswa yang tidak seperti siswa SMA pada umumnya, dia lebih tenang dan dewasa, kami dekat seperti hubungan noona-dongsaeng karena hanya dia satu-satunya yang bisa berbahasa Indonesia. Kami langsung akrab sejak pertama kali berkenalan 6 bulan yang lalu ketika aku melamar perkerjaan di warung ramyun ibunya. Aku beruntung setidaknya aku masih bisa berkomunikasi lancar dengan seseorang di negeri orang mengingat jarang sekali aku menemui orang Indonesia yang hidup disini. Bahasa korea ku sangat payah. Aku memang payah. Datang ke korea dan tidak bisa bahasa korea adalah bunuh diri. Sedangkan bahasa Inggrisku juga tidak bagus. Aku menyesal sering bolos ketika mama menyuruhku les conversation dulu. Aku tersenyum pahit ketika tiba-tiba teringat mama.
      “Luna! Kamu pikir bermain musik itu pilihan tepat? Berhenti mulai sekarang dan fokuslah belajar!!” papa membentakku.
      “Papa boleh melarangku bermain musik tapi papa tidak berhak merusak gitarku!!!” aku balas membentak. Aku marah, gitar bass kesayanganku dibanting papa hingga hancur
      “LUNAAA!!!!!” papa berteriak keras.
      Aku hanya memandang papa dengan marah kemudian pergi keluar rumah membawa tas berisi beberapa potong baju dan uang. Aku lihat mama hanya menangis terisak-isak. Tapi aku tidak tahan lagi di rumah ini. Sekarang rumah ini neraka bagiku.
***
      “Luna~ssi.. take that dirty bowl..” suara bibi membuyarkan lamunanku.
      “oh.. ye..” jawabku kaget sambil mengambil mangkok sisa makan pembeli.
      “Luna~ssi? Are you okay?” bibi terlihat khawatir
      “oh.. mianhae, ahjumma. I’m okay...” aku tersenyum merasa bersalah tidak fokus ketika sedang bekerja.





      “annyeong haseo.” Sunghyun masuk sambil masih membawa tas sekolahnya
      “eoseo oseyo sunghyun~ah..” bibi menyuruhnya duduk kemudian membawakannya ramyun, kimchi dan semangkok kecil nasi putih.
      “halo noona. Kau terlihat seperti panda siang ini.” kata Sunghyun sambil memasukkan nasi putihnya ke mulutnya.
      “ha?? Panda??” aku bingung
      “kantung matamu besar sekali. Tidurlah yang baik.” Sekarang sunghyun mengambil kimchi dengan sumpitnya.
      Aku duduk di kursi sebelahnya, “semalaman aku memikirkan hyun bin setelah menonton dramanya. Hahahahaha” aku tertawa
      Sunghyun memangdangku dengan tenang, “Hyun bin atau Sunghyun?” kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke makanannya. Aku memukul kepalanya dengan sendok yang berada di depanku.
      Dia kaget berusaha menghindar tapi keburu sendok sudah mengenai kepalanya. Dia memandangku sambil tersenyum kecil kemudian melanjutkan suapan makanannya. Bibi ikut tersenyum dari arah dapur. Yeah this is my family now. J




2
      “Noona.. malam ini jadwalmu bermain di Mayoo’s club kan?” Sunghyun bertanya sambil mengelap meja warung.
      “oh.. ya. 1 jam lagi. mau ikut sunghyun~ah?” tanyaku sambil tersenyum.
      “boleh.. tapi nanti traktir aku Tteokbokki ya?” lanjut sunghyun sambil berjalan ke dapur membawa mangkok dan piring sisa makanan.
      “matre!!” jawabku pendek
      “hah? Matre? Apa itu noona?” tanyanya terlihat bingung.
      “tidak tulus. Minta balasan” Jawabku sambil memandangnya datar
      “that’s life, noona..” Sunghyun tersenyum manis.
      Tiba-tiba lelaki berpenampilan rapi masuk warung dan memesan semangkok ramyun. Aku memandangnya sebentar. Seperti pernah melihatnya di suatu tempat tapi aku tidak ingat. Lelaki itu merasa dirinya sedang dipandangi kemudian memandangku sambil tersenyum, lebih tepatnya menyeringai.
      “why? You interest with me?” lelaki itu memakai bahasa inggris, menyadari aku bukan orang korea.
      Aku kaget dengan kata-katanya, kemudian menghampirinya.
      “I’m sorry ahjussi. Are you kidding me?” jawabku dingin sambil meletakkan sebuah gelas dan sebotol soju di mejanya.kemudian pergi ke dapur. Sunghyun hanya memandang kami bergantian.
      “ahjussi?” lelaki itu kembali menyeringai dan terlihat tidak suka dengan panggilan yang kuberikan padanya.
      Aku datang kembali ke mejanya dengan membawa semangkok ramyun dan sepiring kecil kimchi, setelah meletakkannya aku berbalik pergi. Lelaki itu memegang tanganku,aku menengok.
      “I’m not ahjussi. I’m still 25 years old..” katanya sambil tersenyum kemudian mengedipkan sebelah matanya.
      Aku terkejut dengan kedipan matanya. Aigoo. Orang ini pasti gila.
      “what happen with your eye ahjussi? Something hurt your eye?” tanyaku datar sambil melepaskan tanganku dari pegangannya.
      “Noona.. it’s time. You’re gonna be late.” Sunghyun memegang tanganku dan mengajakku keluar warung.
      Lelaki itu terlihat heran melihat kami pergi keluar. Dari luar warung kami terdiam. Aku masih bisa melihat lelaki itu sedang bberbicara dengan ahjumma, kemudian terlihat tertawa bersama. Kemudian memandang kami yang masih berdiri diluar.
      “Apakah kau mengenalnya noona?”
“aku merasa pernah melihatnya, tapi sudahlah lupakan. Aku rasa orang itu gila.” Aku belum mengalihkan pandanganku ke dalam warung.
Ayo pergi noona..” Sunghyun mengajakku pergi.
“tapi masih satu jam lagi...” jawabku pelan
“lebih baik kita pergi sekarang.”
      Aku masih memandang lelaki itu, kemudian mengalihkan pandanganku ke sunghyun, “oke kita pergi.”
***

      Aku berjalan sambil menunduk. Kemudian melihat jam tanganku. Pukul 8 lebih 10 menit.
      “sunghyun~ah.. noona harus pulang dulu. Maukah kau berangkat dulu. Kita bertemu di sana. Ada yang harus noona lakukan.”
      “oke noona.”
    Kami berpisah, aku lupa harus membuatkan kimbab untuk jonghae. Semoga masih sempat. Aku berlari menuju rumah. Sampai rumah aku segera membuat kimbab dengan bahan yang kusimpan di lemari pendingin kecil di dapur rumahku. Aku menengok jam lagi dengan gelisah. Pukul 8 lebih 50 menit. Setelah kumasukkan kimbab dalam sebuah wadah plastik aku segera berlari pergi ke tempat biasanya aku menunggu jonghae. Sampai disana aku hampir kehabisan nafas, sambil kulihat jam tanganku lagi. Pukul 9 lebih 5 menit. Aku menghembuskan nafas, khawatir jonghae sudah masuk ke dalam bangunan club.
      Aku menunggu setengah jam lebih. Dan jonghae belum muncul..
      “I’m late..” keluhku pelan. Aku bersiap pergi.
      “Jonghae~ah... stay with me tonight..”
      Tiba-tiba terdengar suara wanita, aku menengok ke asal suara. Aku melihat jonghae sedang bersama seorang wanita memakai gaun merah menuju sebuah mobil mewah yang terparkir di depan club. Aku berdiri disana mematung melihat pemandangan itu. Tangan wanita itu merangkul mesra lengan Jonghae. Sedangkan jonghae terlihat tersenyum dingin. Kemudian mata kami berdua bertemu..
      “weyoo Jonghae~ah?” wanita itu memandang bingung ke arahku.
     “aniyo..” Jonghae memandangku dengan tatapan dingin selama beberapa saat. Kemudian membuang mukanya untuk membukakan pintu mobil untuk wanita itu.



      Wanita itu masuk di kursi depan, kemudian Jonghae masuk ke kursi kemudi mobil, lalu mobil itu berjalan. Aku masih mematung. Merasakan udara tidak lagi sedingin sebelumnya. Mataku terasa panas, pandangan mataku kabur memburam dipenuhi air mata. aku berbalik berjalan. Aku menangis sepanjang jalan.
***






3

      “Noona..” panggil Sunghyun menyadarkan lamunanku.
      “ada apa sunghyun~ah?” jawabku sambil tersenyum
      “apa sesuatu buruk terjadi kemarin malam sebelum kau ke mayoo?”
      “emm.. nothing happened..” jawabku sambil berusaha tersenyum.
      Aku tau Sunghyun tidak akan semudah itu mempercayai ucapanku. Kemarin dia melihatku datang ke Mayoo dengan mata sembab dan hidung merah. Kemarin pun aku bermain dengan aneh, aku lebih terlihat marah dibanding menikmati menikmati musikku. Alhasil akupun mendapat teguran dari teman se-bandku.
      “If you still playing music like that, you will be expelled.” Peringatan itu terdengar lebih seperti ancaman bagiku.
      “I’m sorry.” Aku masih butuh uang. Maka aku lebih memilih jalan aman.
      Selama perjalanan pulang sunghyun dan aku tidak saling berbicara. Sunghyun tidak ingin menggangguku dan aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun.
      Sunghyun kembali memandangku dengan curiga. Kemudian pergi mengambilkan segelas air putih untukku.
      “gomawo.” Jawabku pelan ketika sunghyun menyerahkannya padaku.
      “kamu bisa menceritakannya padaku kapanpun kamu mau noona.” Sunghyun tersenyum sambil mengusap pundakku.
      Aku tersenyum. “gomawo.”
***

      Laki-laki aneh itu kembali datang ke warung. Siang ini dia memakai sweater oranye dan celana jeans biru pudar. Penampilannya lebih kasual dibanding pertama kali dia datang. Dia duduk di meja yang sama seperti kemarin dan memesan semangkok ramyun dan segelas soju.
      “Haloo.. how are you today?” tanyanya ketika aku berjalan melewati mejanya.
      Aku menengok ke arahnya, “I’m fine thankyou.” Jawabku pendek.
      “I always want to go to Indonesia. I see in internet that Bali’s beach is so beautiful. Isn’t it?” tanyanya memandangku sambil tersenyum.
      “that’s right. So why you’re not going there?”
      “I have no friend for going, haven’t you missing your country?”
      “hmm.. you’re not seducing me right, ahjussi?” aku memandangnya curiga.
      “Hahahaha.. no... I’m only doing persuade on you..” jawabnya sambil tertawa.
      aku memandangnya dengan heran, “ahjussi are you know how people thinking of you?”
      “yeah, they said that I’m good looking.” Dia menopang kepalanya dengan tangan kanannya, menatapku dengan tatapan menggoda.
      Aku bengong beberapa saat, “you’re odd.” Jawabku kemudian sambil berlalu.
      Aku bisa mendengarnya tertawa terbahak-bahak. Kemudian dia berhenti tertawa, handphone nya berbunyi, aku melihatnya mengeluarkan teleponnya dari saku celananya. I-phone keluaran terbaru. Ahjussi itu cukup kaya. Aku mendengarnya berbicara bahasa korea dengan lawan bicara teleponnya. Aku tidak tau artinya, yah bahasa korea ku payah. Aku membencinya ketika aku penasaran dan aku tidak bisa berbuat apa-apa...
      “why, miss Indonesia? Are you curious who’s talked with me on phone?” lelaki itu menyadari aku memperhatikannya selama dia menelepon.
      “No.” jawabku sambil pergi ke dapur.
      Dia tersenyum lagi. Sepertinya dia sangat menikmati saat 
menggodaku.
      


       Beberapa menit kemudian seorang lelaki masuk. Memakai jaket hitam dan  berkacamata hitam. Aku terperangah.
      “Jonghae hyung..!” panggil lelaki itu mengajaknya duduk di mejanya.
      Kemudian mereka berdua terlihat mengobrol beberapa saat, kemudian lelaki itu terlihat sedang memanggil seseorang untuk membuat pesanan. Aku panik. Bibi sedang sibuk di dapur, sedangkan sunghyun belum pulang dari sekolahnya.
      “hei miss Indonesia, come on.. I was ordering!” lelaki itu memanggilku karena hanya satu-satunya pelayan yang berada di situ dan aku hanya diam berdiri.
      Jonghae melihat ke arahku. Dan aku bisa melihat matanya sedikit kaget walaupun secara keseluruhan wajahnya masih terlihat datar. Aku tidak mempunyai pilihan, aku datang ke meja mereka.
      “ramyun 1 portion, kimchi 1 portion, and soju 1 bottle. Are you remember that?”
      “clearly, ahjussi.” Jawabku tanpa memandang jonghae. Kemudian pergi ke dapur untuk membantu bibi menyiapkan.
Dari dapur aku bisa melihat mereka sedang mengobrol tentang sesuatu. Ahjussi itu sekitar 2 kali memandang ke arahku sambil menunjukku kemudian tertawa kembali. Sekali lagi aku benci ketika aku tidak mengetahui apa yang orang lain bicarakan. Suck.. Aku mengantarkan pesanan mereka sekitar 10 menit kemudian. Aku segera meletakkan pesanan mereka secepatnya.
“hei miss Indonesia, do you know that my friend interesting about you. Right hyung? Hahahahaha”
Aku memandang jonghae, jonghae tidak melihatku. Dia sibuk menuangkan soju ke gelas kecilnya yang kemudian dia habiskan dalam sekali teguk. Aku bisa melihat jonghae tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
“but, I think that your friend not a kind person type. I’m sure that he must hard to make relationship with other, right?”
Jonghae memandangku. Dia terlihat gusar dengan kata-kata yang baru kuucapkan tadi. Ahjussi itu melihat ada yang aneh dengan kami berdua.
“come on.. you two must be friend..” ahjussi itu berusaha mendinginkan keadaan.
“I don’t think so.” Jawab jonghae datar kemudian beranjak berdiri lalu pergi meninggalkan warung.
Ahjussi itu memandang kepergian jonghae kemudian memandangku.
“do you know him? Something wrong happened, right?” ahjussi itu memandangku dengan tersenyum.
Aku hanya menatapnya, “5000 won ahjussi.”
Dia hanya tersenyum sambil mengeluarkan uang dan menyerahkan padaku.
Bahkan ramyun yang dipesan jonghae tidak disentuhnya sama sekali. Dasar tukang buang-buang makanan!! Aku merutuk dalam hati.
***





4
      Sekitar jam 8 aku pulang dari warung. Bibi tutup lebih awal malam ini. hari ini sunghyun ulang tahun, kami berencana akan membuat sebuah pesta kecil untuk sunghyun. Aku pulang ke rumah, berencana membuatkannya kimbab. Sunghyun menyukai kimbab buatanku ketika suatu kali dia mencoba memakannya.
      “ini tidak terlihat seperti kimbab buatan orang asing, noona.”

      Begitu katanya saat itu, dan aku tertawa mendengarnya. Aku memang hanya bisa membuat kimbab selama aku tinggal di korea. aku memutuskan belajar membuat kimbab setelah pada suatu siang aku melihat jonghae sedang memakan kimbab sambil duduk di kursi taman sambil mendengarkan musik. Aku melihatnya memasukkan pelan-pelan setiap potongan kimbab dan mengunyahnya dengan lembut. Dengan headset di kedua telinganya dia memandang langit. Kemudian tersenyum. aku jatuh cinta padanya sejak saat itu. Setelah itu aku membututinya kemanapun dia pergi dan aku mengetahui dia bekerja sebagai seorang host di paradise’s club. Aku sempat kaget dan berusaha mencerna kenyataan itu. Kemudian aku memutuskan aku akan berjuang mencari tahu alasan jonghae berkerja disana. Langkah pertama adalah mendekatinya. Aku mencoba membuatkannya kimbab sejak 5 bulan yang lalu agar dia mau mengenalku, dan hasilnya nol sampai sekarang. Setiap kimbab yang kubawa pada akhirnya akan masuk mulutku sendiri.





      Setelah aku sampai rumah aku segera membuatnya, kemudian bersiap pergi kerumah sunghyun yang hanya berjarak 4 blok dari rumahku. Aku berjalan menyeberang jalan, kemudian aku menyadari di hadapanku Jonghae juga sedang berjalan ke arahku. Aku memandangnya. Malam itu dia memakai tuxedo hitam rapi. Terlihat tampan, namun aku teringat dia akan menemani wanita lain dengan kostum itu. aku menunduk sambil terus melanjutkan jalanku.




      “hei..”
   Aku berhenti ketika dia sudah berpapasan denganku. Dia memanggilku? Aku menengok.
     “Apa kau bawa kimbab?” dia bertanya sambil tetap memasang muka datar
      Aku terhenyak, dia bisa bahasa Indonesia.
      “Aku lapar.” kata dia lagi.
      Aku masih terdiam memandangnya takjub.
      “tak apa kalau kau tidak membawanya.” Jawabnya lagi kemudian berbalik pergi.
      “aku.. membawanya.” Kataku terbata-bata sambil menyerahkan sebuah wadah kotak plastik berisi kimbab.
      Jonghae berbalik lagi kemudian mendekatiku.
      “untukku?” Tanyanya
      “ya. ini untukmu.” Aku memandangnya sambil tersenyum lebar.
      “gumawo.” Jawabnya sambil mengambilnya kemudian berbalik pergi.
      “hei.. kau bisa bahasa Indonesia?” teriakku
      Dia hanya menjawab pertanyaanku dengan melambaikan 2 jari tangan kanannya tanpa menengok lagi ke arahku.
      “kita bisa mengobrol kapan-kapan kalau kau mau!!” teriakku lagi sambil tersenyum lebar.
      Dia menghilang di kegelapan jalan.


      Sampai di rumah sunghyun aku merasa bersalah, kadonya kuberikan kepada orang lain.
      “mana kadoku?” sunghyun memasang muka sebal
      “ehm... maap sunghyun.. besok kubuatkan kimbab yaaaa!!”
      “kau sedang dalam mood yang bagus ya noona?” sunghyun mengamatiku sambil memsang ekspresi curiga.
      “hahahahaha...” aku tertawa sambil memeluknya, “seungil chukka hamidaaa sunghyun~ahhh!!” teriakku
      “kau aneh sekali noona...” sunghyun memandangku lagi dengan ekspresi aneh itu
      “ahjumma.. where is the cake??” tanyaku mengalihkan perhatian sunghyun.
      Bibi datang sambil membawa kue dan sup rumput laut. Makanan khas orang korea ketika mereka ulang tahun.
      “berapa umurmu tahun ini sunghyun~ah?” tanyaku sambil memasang lilin
      “19 noona. Dan jangan lagi sembarangan memelukku seperti sebelumnya. Aku sudah dewasa sekarang.” Kata sunghyun sambil menyalakan lilin
      “aigoooo....!! so cute sunghyun~ah!!!” aku memeluknya lagi
      “yaaaa!! Noona!!” wajah sunghyun memerah sambil berusaha melepaskan diri dari pelukanku.
      “aigoo hurry up blow out the candles sunghyun~ah..” kata bibi sambil tertawa melihat tingkah kami
      “arasooo..arasooo.. yaa noona, please stay away from me.” Sunghyun memberi peringatan padaku
      Aku tertawa.





5
      Kejadian malam kemarin membuatku tidak bisa tidur. Semalaman aku hanya tiduran di kasur menatap langit-langit dan memikirkan, kimbab apa yang akan kubuat untuk jonghae. Isi shrimp? Atau crab? Hahahaha... akhirnya dia memakan kimbabku. Aku akan berusaha lebih giat lagi untukmu jonghae...!!
***
      Dan esok minggu paginya aku bangun pagi mencoba-coba membuat kimbab dengan berbagai isi. Dapurku berantakan pagi itu. setelah jadi aku coba memakannya. Kemudian karena masih banyak aku membungkusnya untuk sunghyun. Aku sudah berjanji padanya kemarin. Aku ke warung sekitar jam 8 pagi, sampai sana aku segera memberikannya pada sunghyun.
      “makanlah yang banyak.”
      “gomawo noona.” sunghyun segera melahapnya.
      Aku melihatnya dengan puas.

***
      malam itu aku menunggunya di tempat biasa. Kemudian dia datang,
      “jonghae.. aku bawa kimbab lagi!” kataku sambil tersenyum lebar menyerahkan kimbab
      “oke, thank you.” jawabnya sambil mengambilnya dari tanganku lalu berjalan masuk ke paradise.
      Aku tersenyum puas.
      Setelah itu aku sering memberikannya kimbab untuknya, sudah sekitar 2 minggu rutinitasku ini berlangsung. aku senang dia tetap mau memakan kimbabku walaupun kami masih jarang mengobrol.
      Siang itu aku menjaga warung bersama bibi. sunghyun masih belum pulang sekolah. Kemudian ahjussi itu datang dan memesan ramyun.
      “oii miss Indonesia! we aren’t know each other. I’m park yoo min. just call me yoo min. what’s your name?” yoo min mengulurkan tangannya.
      “ah.. yoo min ahjussi...” aku tersenyum menyambut uluran tangannya, “I’m Luna.”
      “Luna means moon right? you’re beautiful like moon...” yoo min memasang muka player-nya
      “please ahjussi.. not again..” jawabku sambil menepuk pundaknya
      “hahahahaha... I just making friends with you..” jawabnya terbahak-bahak
      aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku melihat sikap yoo min.
      “oh ya actually, I’m so thanks for your kimbab.”
      “what do you means?” aku sedikit bingung dengan perkataannya.
      “hahahaha.. I asked jonghae hyung to bring me your kimbab. didn’t he said for you about that? hahahaha.. but I like if there’s crab inside.”
      “wait.. so that kimbab is eaten by you? jonghae didn’t eaten it?”
      “yeah.. it’s like that. hahahaha”
      Aku terdiam. aku merasa marah, kemudian aku berbalik pergi ke dapur
      “hei Luna~ssi where do you go?” Yoo min heran karena aku tiba-tiba pergi.
      Tiba-tiba Sunghyun datang. aku bilang kepada bibi bahwa aku ingin pulang cepat, kepalaku pusing dan aku merasa sakit. bibi dan sunghyun terlihat khawatir kemudian menyuruhku segera pulang dan istirahat.
      “noona.. are you okay? wajahmu pucat..” sunghyun membantuku mengambilkan tasku
      “aku hanya merasa pusing. aku akan sehat setelah bangun tidur nanti.”
      “oke noona.. haruskah aku mengantarmu?”
      “tidak sunghyun..bantulah ibumu. aku bisa pulang sendiri.”
      Aku segera membawa tasku dan keluar warung. Yoo min masih disana. dia terlihat bingung dan sedang memikirkan sesuatu, dia melihatku keluar warung kemudian mengejarku. aku mempercepat langkahku.

      “Luna~ssi.. what happened? are you crying?” yoo min mengejarku dan menarik pundakku, aku berusaha melepaskannya namun yoo min semakin kuat menarik lenganku dan memutarnya sehingga kini aku berhadapan dengannya. aku menunduk menyembunyikan wajahku. aku tidak ingin menangis sekarang, tapi aku tidak bisa menahannya lagi.
      “what happened?” yoo min bertanya pelan sambil memegang kedua lenganku
      “nothing.” jawabku memandangnya tajam dengan air mata membanjiri mataku. kemudian berusaha melepaskan lenganku dari tangannya dan berbalik pergi. aku butuh sendiri. hatiku sakit.. oh God...
***







No comments:

Post a Comment