6
Sudah hampir seminggu sejak kejadian
menyenangkan ketika malam rehearsal itu masih berefek ke mood-ku sampai hari
ini, kadang melamun, kadang tersenyum. Persis seperti orang sakit jiwa. Aku
mengingat-ingat lagi awal pertemuanku dengan Bayu. Aku sedang mencari
part-time. Grace memperkenalkanku dengan Bayu, mereka berteman lama. Setelah
beberapa kali bertemu dan mencoba bermain musik bersama, akhirnya aku masuk
menjadi pemain gitar tetap di band Bayu bersama Billy, Josh dan Sammy. Awalnya aku
canggung menghadapi panggung, untung Bayu membantuku mengatasinya.
Bayu tipe orang ramah dan simpel. Hidupnya di sini
juga hanya ditopang dari macam-macam kerjaan part-time nya sehari-hari. Mulai
menjadi bassist band, barista, sampai pekerja bengkel dia kerjakan. Orang
tuanya ehm.. aku tidak tau, Bayu tidak pernah membicarakannya dengan siapapun.
Aku menyukainya sejak awal bertemu sekitar setahun yang lalu,bukan hanya karena
karakter mukanya yang mirip Kai EXO-K tapi sikap hangatnya yang membuat wanita
nyaman berada di dekatnya. Tapi bukan hanya aku cewek yang menyukainya, cewek-cewek
bule atau cewek-cewek asia yang sering menonton konser kami juga ikut menjadi
saingan beratku. Terakhir kali beberapa bulan yang lalu aku tau dia sedang
berkencan dengan salah satu cewek itu. Hal itu yang membuatku mundur
pelan-pelan dari persaingan. Dan kini aku bingung mau maju atau diam di
posisiku. Makanya ketika Grace bertanya tentang perasaanku ke Bayu, aku tidak
mau menanggapinya. Aku sedang nyaman di zona amanku. Tapi sejak kejadian itu.. aku
kembali galau..
Semalam setelah latihan aku pulang jam 11
malam. Mama sudah tidur dari jam 9, jadi aku bawa kunci pagar dan rumah
sendiri, tidak mau mengganggu istirahat mama. Setelah papa meninggal, mama
sibuk bekerja di sebuah toko swalayan milik Mr Smith di depan grand park
building. Setiap harinya mama selalu bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 8
malam. 12 jam. Ketahanan tubuhnya lambat laun melemah. Pagi tadi mama mengeluh flu, jadi kuminta mama cuti bekerja
dulu. Aku berencana membelikan mama sebuah cream
soup sehabis kelas hari ini. Cream soup kesukaan mama dijual di salah satu restaurant kecil yang sedikit jauh dari
pusat kota. No problem, aku masih
bisa kesana naik vespa bututku.
“Miss
Kimi, can you replay what I’ve explained in chapter 12?”
Aku terkesiap, Mrs Piggy menyadari
hilangnya konsentrasiku di kelasnya. Dan aku harus bisa mendapatkan solusinya
segera.
“Ehm..
sorry mrs Piggy.. I’m not feeling well.” Jawabku sambil tersenyum datar.
“What
happen with you? Are you okay?” Tanya Mrs Piggy terlihat khawatir.
“She’s
get a cold, Miss..” Tiba-tiba Nathan mengajukan diri menjadi hero.
“Ohh
poor you.. you must get a rest right now.” Jawab Mrs Piggy dengan muka
kasihan.
“Emm..
thank you Mrs Piggy..” Jawabku sambil memasukkan buku ke tas ranselku.
“Can
I take her go home Miss? I can’t let her go home alone” Nathan masih
berusaha menjadi hero
“Oh
sure.. please Mr Nathan..” jawab
Mrs Piggy sambil tersenyum lebar.
Aku segera berjalan keluar dari kelas.
Nathan berjalan menyusulku.
“What
happen Kim? Kamu benar-benar sakit?” Tanya Nathan sambil menempelkan
punggung tangan kanannya ke dahiku. Aku berhenti.
“Get
rid your hand, Boy..” jawabku malas sambil berusaha menyingkirkan
tangannya.
“Hei, harusnya lo bilang thank you, atau terima kasih, atau arigatao, atau hamsamida, atau...” protes Nathan
“Gue kan gak minta bantuan, lo sendiri
yang mau jadi superhero kan?”
“Yeah
that’s true.. apa itu berhasil?”
“Sedikit.”
“Jadi?”
“Thanks.”
“Hahahaha..
you’re welcome sweetie..”
Aku melanjutkan jalanku, Nathan kembali
mengikutiku. Tiba-tiba Nathan terdengar sedang berbicara dengan cewek. Aku menengok
kebelakang dan melihat Nathan sedang ngobrol dengan seorang cewek Asia.
Kemudian Nathan berjalan ke arahku.
“Habis ini mau kemana Kim? Mau gue anter
ke rumah?”
“Gue mau ke Blossoms. Mau beli cream soup
buat mama.”
“Tante sakit?”
“Iya.”
“Yuk gue anter, naek mobil gue. Biar
cepet.”
“Itu cewek..”
“Wait
a minute!” Nathan memotong bicaraku kemudian berjalan ke arah cewek asia
itu lagi. Beberapa menit kemudian mereka terlihat berpisah.
“She
is Olivia. The next target. Hahahaha” Nathan menjelaskan
“And
you don’t need my approval?” aku berhenti sebentar menatapnya tajam sambil
memasang muka memprotes.
“Hahahaha..
sorry Kimi.. Can I...”
“Iya sana! Gebet!” aku memotong
kata-katanya sebelum selesai
“Thanks!
ntar lain kali gue bakal ijin dulu deh.. hahahaha” Nathan memasang tanda v di
jarinya, berjanji.
“Kalo suatu saat gue gak ngasih ijin ke lo
gimana? Lo masih bakal ngejar itu cewek?” tanyaku sambil berjalan ke arah
parkir mobil Nathan.
“No.” jawab Nathan pendek.
“No apa nih? No gak bakal ngejar cewek itu
apa no gak bakal dengar aku?” tanyaku sambil menengok ke Nathan.
“No,
I don’t know. Hahahaha” jawab Nathan tertawa keras.
“Ah
I’ve forgot.. you are such a fucking hypocrite.” Jawabku sambil menyeringai
“Hei..
I’m yours, Kimi..” Nathan menghalangi jalanku kemudian menyentuh daguku
dengan jari-jari panjangnya.
“What
do you means?!” tanyaku kaget
“You
can use me for anything.” Jawab Nathan nakal
“Oke, cuci motor gue.” Jawabku sekenanya
sambil melepaskan tangannya dari daguku.
“hahahaha...
gotcha! You startled right? Hahahahaha” Nathan tertawa terpingkal-pingkal.
“Bawel.. ayo buruan!”
Mobil Porsche
Merah milik Nathan segera dinyalakan dan berjalan menuju Blossoms restaurant. Sampai di sana Nathan menunggu di mobil, aku
segera masuk ke restaurant dan
memesan cream soup. Sambil menunggu
aku melihat display makanan yang
dipajang dekat cashier. Aku
memutuskan memesan apple pie.
Satu-satunya desssert yang disukai
Nathan dan aku. Setelah dibungkus aku segera menuju mobil dan masuk ke
dalamnya.
“Udah Kim?” Tanya Nathan bersiap-siap
menyalakan mobil.
“Udah. Nih..” jawabku sambil menyerahkan satu
slice apple pie ke Nathan.
“Apple
Pie!!” Nathan berteriak kegirangan.
“Berlebihan banget lo Nath, kayak anak
kecil.” Tanggapanku datar sambil memasukkan slice
apple pie ke mulutku.
“Ah elo Kim.. ini kan yang bikin kita
kenal dulu..” jawab Nathan sambil menyalakan mesin mobilnya.
“Oh ya? Lupa tuh..” jawabku sambil masih
mengunyah
“Hahahaha.. gue yakin lo gak lupa.
Buktinya lo masih beli aja ni makanan.”
“Oh ya?” jawabku cuek masih sambil ngunyah
menikmati. Rasa asam segar apel nya yang dimasak dengan saus caramel manis berpadu dengan lembutnya
kulit pai membuat makanan ini menduduki rating tertinggi bagiku.. dan Nathan.
“Pas itu lo sama gue kan rebutan Apple pie di kantin sekolah pas TK di
Jakarta. Apple pie nya kebetulan
tinggal satu, trus lo mau ambil, padahal gue duluan yang mau ambil. Curang
banget lo.” Nathan berceloteh sambil memegang slice apple pie di tangan kiri sementara tangan kanan memegang
setir.
“Enak aja orang gue duluan.”
“Nah kan.. sampai sekarang aja lo gak mau
ngalah hahaha.. Akhirnya kita bagi apple
pie nya jadi dua. Hahahahaha.. padahal gue kagak kenal siapa elo tapi udah
makan se-slice berdua aja. Hahahaha.”
Nathan tertawa
“Jadi kita nostalgia nih critanya?”
“Sepertinya begitu.”
“Eh udah sampe rumah tuh Kim..”
Sampai depan rumah, Kimi segera turun dari
mobil,
“Gue mampir ya Kim.. pengen lihat tante.
Kangen nih..”
“Yoyoi, masukin aja mobilnya ke garasi.”
Nathan memasukkan mobilnya kemudian mengikuti Kimi masuk ke dalam rumah.
“maa.. lagi dimana?”
“mama lagi di dapur Kim..” tiba-tiba mama
sudah keluar dari dapur sambil memakai celemek.
“ma, kan udah aku bilang istirahat aja..
biar gak makin parah flu nya.”
“iya Kim tenang.. mama udah ngrasa baikan
kok.. eh ada Nathan” perhatian mama teralihkan ke Nathan.
“Halo tante... tante sakit apa? Istirahat
tante, biar Kimi nya gak ngelamun doang di kelas..” kata Nathan sambil menempelkan
tangan mama ke dahinya. mama terlihat suka diperlakukan Nathan seperti itu.
“Lho? Kimi suka ngelamun ya? Kimi...!” mama
memanggilku dengan nada menegur. Wah Nathan pengadu domba nih.
“Gak maa, itu Nathan ngasal bikin cerita
aja, aku tadi beli cream soup
kesukaan mama, dimakan ma mumpung masih panas.”
“itu kan jauh Kim.. kamu dianter Nathan
tadi?” mama menengok ke arah Nathan
“Iya tante..” jawab Nathan sambil
tersenyum
“Makasih lho nak Nathan.. vespamu dimana
Kim?” Tanya mama
“Di kampus ma, ntar habis ini ngambil..”
“Nathan, tante minta tolong jagain Kimi
ya, suka nekat si Kimi itu orangnya..”
“heee.. apaan sih maa..” teriakku dari
dapur.
“hahahaha Nathan tau kok tan.. makanya
Nathan ikutin dia kemana-mana.” Nathan tertawa puas.
“Nah gitu.. bagus.. yang sabar ya sama
Kimi.. kamu sudah tau lah gimana dia..” kata mama ambil menepuk-nepuk pundak
Nathan pelan.
“Hahahaha siap tante.. kalo tante butuh
bantuan minta aja sama Nathan.” Kata Nathan sambil tersenyum lebar.
“Ah ntar Nathan juga sibuk kok ma.. sibuk
ngrayu cewek.” Aku datang ke ruang tamu sambil membawa mangkok berisi cream soup hangat.
“Ah tante si Kimi cemburu ituuu..
hahahaha”
“Heee..jangan fitnah orang woiii...!”
“Aduh kalian dari jaman TK sampai sekarang
bertengkar mulu.. mama jadi ngrasa awet muda lho kalo denger kalian
bertengkar.. hahahaha” mama tertawa terbahak-bahak.
“Udah ah ma.. bisa bikin hipertensi kalo
deket-deket Nathan. Kimi ambil vespa dulu ke kampus ya ma... jangan lupa habis
ini istirahat. Kimi cuma bentar kok.”
“Iya Kim, Nathan tolong ya Kimi nya
dianter..”
“Siap tante..!”
“Makasih ya Nathan..”
“Sama-sama Tante..”
“Aduh Nath, kelamaan deh basa-basi nya
sama mama.. buruan!”
“ah elo.. kan gue kangen sama
tante..hahaha.”
Nathan dan aku segera masuk ke mobil kemudian
segera berangkat ke kampus.
“Nath, papa mama mu masih di New york?”
“Gak tau.”
“Loh kok gak tau?”
“Ada mereka atau gak, gak banyak ngefek.”
Percakapan canggung itu berakhir singkat.
Nathan paling tidak suka membahas orang tuanya. Dari kecil Nathan sering
ditinggal orang tuanya pergi bekerja. Kebetulan kami bertetangga. Saat itulah
dia selalu bermain ke rumahku.
Matahari udah hampir tenggelam, sebentar
lagi gelap. Sampai di parkir kampus, aku segera menyalakan mesin vespaku. Vespa
menyala.
“Udah Nath, lo cabut aja. I’m fine.”
“Gue udah janji sama tante baut jagain
lo.”
“Heei..please..
I’m not a kid anymore..” jawabku protes.
“Oke,
go ahead!” Nathan menyuruhku jalan duluan.
Aku kira Nathan bakal mendahuluiku, tapi lama
mobil Nathan tidak juga terlihat, ketika aku menengok ke belakang, Nathan
sedang mengekoriku pelan-pelan sambil memasang muka serius. Ketika aku berhenti
kemudian memasang muka protes, Nathan malah tersenyum ringan. Aku tau jika
sudah berhubungan dengan janji dengan mama, Nathan tidak akan bisa digoyahkan.
Aku tau Nathan dan mama sudah sangat dekat. Nathan yang merindukan kasih sayang
seorang ibu malah mendapatkannya dari mama. Mama pun sudah menganggap Nathan anak
sendiri. Tapi sulit bagiku membayangkan mempunyai saudara laki-laki seperti
Nathan.. bisa cepat mati.. ugh..
v
7
“Why
you so quite now? Something problem?” tanyaku
sambil memukulkan garpu ke pundak Nathan.
“Yeah..” jawab Nathan malas
“Hei dude, you can tell
me what happen..” kataku menyadari Nathan tidak seramai biasanya.
“My parents called me
last night..”
“That’s
good..”
“But they called me for
engagement.” Nathan menjawab sambil meminum cappuccino-nya
“What??” dalam
beberapa detik aku melongo.
“Kapan? Dimana? Sama siapa?” tanyaku bertubi-tubi.
“I hope she is a hot girl
or a beautiful girl. That’s enough.” Jawab Nathan sambil menyeringai.
“Amin.” Jawabku datar sambil meneruskan makan lasagna-ku.
“Come on Kim, please
worry about me! I’m dying” Nathan merangkulku.
“Gue gak lihat lo lagi punya masalah.” Jawabku datar sambil
mengunyah.
“Gue belum siap nikah Kim...you know..” Nathan menghela nafas.
“Yah kan baru tunangan. Kalo gak cocok ya tinggal putus.”
Jawabku ringan.
“Hmm.. bener juga sih.. hahahaha.” Nathan melepaskan rangkulan
sambil menepuk-nepuk punggungku keras..
“Asshole.” Makiku
karena aku hampir tersedak akibat punggungku ditepuk Nathan lumayan keras.
“Hahahaha... kemaren malem habis gue telpon lo itu gue langsung
nembak Hannah, hot chick itu..”
“Sialan banget lo ganggu tidur gue. Itu jam 1, Nath.. please..”
“Yah kan lo sendiri yang bilang gue harus ijin ke elo dulu
sebelum deketin ato jadian sama cewek. Gimana sih lo??”
“Tapi ya gak sampe ganggu pola tidur orang juga bisa kayaknya.
Untung gue ijinin. Kalo mood gue
tiba-tiba hancur trus gue gak ngijinin lo gimana?”
“Yah kan ijin ke elo itu sifatnya formalitas doang. Biar lo gak
ngamuk-ngamuk aja. Hahahahaha” Nathan tergelak
“Oh gitu?” jawabku menatap tajam ke arah Nathan.
“Hahahahaha... just
kidding Kim.. please..”
“hmm...”
“But thanks. You making
my mood better. Hahahaha.”
“And
you make making me bad mood.” Jawabku malas
“Hahahaha.. so.. kapan lo konser lagi Kim? Gue selama kenal lo,
gue cuma pernah lihat lo maen gitar pas kelas 5 SD.”
“Harusnya pas itu gue gak nunjukkin ke elo.”
“Hahahaha jahat banget sih lo.. gue pengen lihat lo maen..”
“No.” jawabku ringan tanpa memandang Nathan.
“Gue diem-diem ngikutin lo pas latihan ah... ntar malem kan?”
“Coba aja kalo berani.. gue bacok pake clurit lo.”
“Hahahahaha... lo ada clurit di sini?”
“Impor dulu dari Madura.”
“Keburu gue stalking dong..”
“One...”
“Hahahaha.. tanda-tanda kalah nih..”
“Two...”
“Ampun Kim.. iya-iya gue diem. Hahahaha..”
v
8
“Gue pengen naek wheel
di Amusement Park.” Kataku tiba-tiba
“Yaudah lah sana naik.”
“lo harus temenin gue.”
“No.”
“Gak jantan banget sih lo?”
“Gak mau naik wheel
bukan berarti gak jantan.”
“Masih hyperphobia
lo?”
“Kalo ada obatnya udah gue minum deh..”
“Obatnya itu therapy..”
“Kalo lo mau bilang therapy nya naek wheel
mending gue phobia aja terus deh.”
“Kalo gue pertaruhin persahabatan kita karna lo gak mau naek,
gimana?”
“Jangan coba-coba. Lo pernah lihat gue marah kan?” Nathan
memasang muka serius menatap tajam ke arahku.
“Lupa tuh..” jawabku ringan.
Aku jelas masih ingat insiden Nathan marah besar
denganku. Saat itu aku tidak mau mendengarkan nasehat mama dan Nathan. Aku
dilarang mama pergi climbing bareng
teman-teman pecinta alam SMA. Bukannya apa-apa. Aku sedang demam saat itu. Tapi
diam-diam aku kabur datang ke sekolah tempat bus berangkat. Saat itulah Nathan
dengan mountain bike nya datang dan
langsung menarikku kasar, karena aku melawan, Nathan membentakku. Baru kali
itulah aku melihat Nathan marah. Mengerikan mengingat ekspresi Nathan saat itu.
Matanya membelalak sementara suaranya menggelegar seperti suara binatang liar
yang besar siap menerkam mangsanya. Dan aku sadar saat itu melawannya bukanlah
hal pintar untuk dilakukan.
“Mau inget lagi?”
“Gak. Aku rasa lebih baik aku makan basil daripada harus mengingat lagi.”
Jawabku kesal. Aku benci basil tapi
aku lebih benci lagi kalau harus mengingat kemarahan Nathan saat itu.
“Smart..” jawab
Nathan sambil tersenyum ringan.
“How your fiancée?”
“Baru calon Kim.. itu juga kalo gue cocok. Kalo gak ya gak
jadi.”
“Sok banget sih lo...lo kira cewek-cewek pada nunggu lo pilih?”
“Emang gitu kan buktinya?”
“Aku gak.”
“Ngapain juga gue milih lo?”
“What??? You wanna die??!!” teriakku sambil siap memukul Nathan
memakai buku philosophy of law yang
setebal bantal.”
“Hei wait..! aku
belum selesai ngomong.” kedua tangan Nathan menahan pukulanku. Aku turunkan
buku berat itu. Tanganku sedikit ngilu ketika tiba-tiba harus mengayunkan buku
itu ke arah Nathan.
“Tanpa gue pilih pun, destiny
udah milihin lo buat gue Kim..” Nathan mengucapkan kata-kata puitis itu dengan
muka serius.
“Hoekkk... I’m going to
puke.” Jawabku sambil berpura-pura muntah.
“Sialan lo.. hahahahaha..” Nathan tertawa puas.
“Kemaren gue dilabrak sama Bianca.” Kataku tiba-tiba.
“Hah? That latin girl?” Nathan
kaget.
“Yeah.. ini sudah ketiga kalinya gue dilabrak mangsa-mangsa
lo dalam seminggu.”
“Sorry Kim.. aku
sudah bilang ke mereka kalau mau marah langsung marah ke gue. Tapi ya gimana
lagi.. orang lagi patah hati ya...gak bisa mikir waras..” jawab Nathan sambil
menaruh telunjuknya ke dahinya.
“Gue makin yakin kalo gue dikutuk.”
“What do you mean?” Nathan
memandangku.
“Dikutuk ikut menanggung dosa lo.”
“Hahahaha... thank you,
Honeeyyy...” Nathan tertawa keras dan aku tidak sadar dia mendekatkan
bibirnya di pipiku.. dan..cup..
“How dare you kiss me!!!”
Jawabku berteriak kesetanan.
“Come on Kim.. It’s only
kiss on cheek.”
“Tapi siapa yang bilang lo boleh nyium gue?” jawabku masih
kesal sambil berusaha menghapus bekas ciuman Nathan di pipi.
“Gue inisiatif sendiri. Hahahahaha..” Nathan masih tertawa
melihatku ekspresi sebalku.
Aku hanya bisa memasang muka masam. Nathan
memang sudah biasa melakukannya. Tapi.. ini tidak boleh menjadi kebiasaan.
Bagaimana nanti kalo aku sudah punya pacar? Suami? Ohhhh noo... ini adalah masalah besar.
v
9
“Brrr..brrr..brrr...” ponselku getar.
“Pasti si Nathan nih...” kuraih ponsel di atas meja dekat kasur
sambil berusaha membuka mata.
“Kim....!! gue tadi habis ketemuan nih sama calon fiancée gue...!!” Suara Nathan terdengar
sangat bersemangat.
“Bisa gak lo pamernya besok aja di kampus? Ini jam brapa
woiii????!!!” teriakku sebal. Bisa-bisanya orang satu itu membangunkannya
tengah malam hanya untuk pamer. Please...
“gak bisaaa!! Ini gue lagi on
fire banget mau cerita ke elo!!!”
“lo mending telpon temen lo yang lain deh... gue lagi pengen
tidur. Sumpah... lo sialan banget sih Nath...!! gue tutup ya..!! ”
“Don’t hang up....!!”
Nathan berteriak.
cekrek... tut..tut..tut..tut..
“Ah sialan si Kimi.. jangan salahin gue kalo gue tiba-tiba udah
jadian aja ya.. hahahaha” Nathan menutup phone nya sambil tersenyum lebar.
v
“Kim... mana Nathan? Tumben gak nempel sama lo?”
“I don’t know... I’m not
his babysitter.”
“Hahahaha.. dia yang malah keliatan kayak bodyguard lo..”
“Please Grace..”
jawabku sambil mengangkat tangan kananku menghentikan kalimatnya.
“Tapi kayaknya seharian dia gak masuk kuliah ya? Apa lagi
sakit?”
“last night he called
me.” Jawabku sambil mengambil sebuah buku setebal roti tawar berlapis 10
lembar.
“Ehem..” Grace mengangguk meminta kelanjutan ceritaku.
“That crazy boy said that
he has met his fiancée.”
“Wait..wait.. fiancée??”
aku bisa melihat Grace terkejut.
“Ehem baru calon katanya.”
“Dijodohin?” Grace menghalangi lemari buku meminta
penjelasanku.
“Yeah..”
“Dan dia mau?’
“Gatau. Kemarin gue belum sempet nanya, ngantuk gue.
“Lalu kapan acara engagement nya?”
“I don’t know...
Grace.. gue kan dah bilang gue belum sempet nanyain.” Jawabku sambil pergi
mencari bangku untuk membaca.
“Kalo beneran dia tunangan gimana Kim? Lo bakal sedih apa bahagia?”
“Apaan sih pertanyaan lo Grace?” jawabku datar sambil duduk di
sebuah bangku.
“Hahahaha... both of you
are so close. Aku pikir kalian akan merasa kehilangan satu sama lain jika
salah satu dari kalian sudah memiliki kehidupan masing-masing.”
“Hahahaha... maybe.”
Aku tertawa terpaksa.
“Are you sure?” Grace
mendekatkan wajah dengan ekspresi menggoda ke wajahku.
“Hei.. can you stop
bothering me? I have to finish my paper.” Jawabku kesal.
“hahahaha.. allright
allright..” Grace mengangkat tangannya tanda menyerah.
Right..
Nathan disappearing. So what..?? dia punya hidup sendiri. Biarkanlah. Aku
juga punya hidup sendiri yang harus dilanjutkan.
v
10
Nathan
menghilang 4 hari. Oke aku mulai memikirkannya. Bukan apa-apa, aku hanya tidak
mau merasa bersalah karena tidak mau mendengarkan ceritanya waktu itu. Siapa
yang salah? Andai dia lebih bersabar menunggu sampai besoknya kemudian baru
menceritakannya ke padaku mungkin itu akan lebih efektif. Mama mulai menanyakan
Nathan karena biasanya 2 atau 3 hari sekali dia selalu datang mengunjungi
rumah. Ntah hanya mengobrol dengan mama atau minta mama memasakkannya gulai
ayam kesukaannya. Belum lagi setiap hari biasanya Nathan selalu mengekoriku,
menggangguku sampai aku benar-benar merasa lelah. Aku memegang ponselku dari
sejam yang lalu. Haruskah aku menghubunginya? Tapi nanti Nathan pasti langsung
menertawakanku, merasa puas seperti baru memenangi lotre. Akhirnya kuletakkan
ponselku kemudian kurebahkan badanku ke kasur. Sial.. who cares?
Dan
sekarang sudah seminggu dia menghilang. Haruskah aku mengirimkan pesan? Atau
menelponnya? Menelpon itu berlebihan. Oke aku akan mengirimkan 1 pesan. Just one message.
Hei moron! How dare you disappearing like this.
Where are you? Reply or I will send you Lucifer to kill you!! I’m not kidding.
Setengah jam..
Sejam..
Tidak ada pesan masuk. Oke, aku merasa kesal
sekarang. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri ketika ketemu nanti. Damn it..
v
No comments:
Post a Comment