16
“Apa yang sedang kau lakukan disini?” bae soo akhirnya bersuara memecah keheningan diantara kami setelah beberapa menit berlalu
“mencari udara segar..” jawabku pelan sambil mengatur tempat dudukku gugup
“dan mencariku..” jemari tangannya mengusap sisi tepi bangku kayu tua yang berada di tengah taman ini.
“ya.. semacam itu..” aku tersenyum getir
“gomawo..”
“untuk apa?” aku menengok heran ke arahnya
“untuk mencariku..kukira tidak ada lagi yang peduli padaku setelah semua kejadian itu..” aku memandangnya, dia tersenyum datar
“mianhe..” aku menunduk
“awalnya aku memang marah padamu, tapi sekarang aku tidak peduli lagi tentang semua itu, dan kupikir aku memang sudah keterlaluan bersikap buruk padamu dulu.. jadi kita impas..” bae soo merangkulku
Untuk beberapa saat aku terhenyak, “aku lapar..”
“hei.. kita baru sedang mengalami romantika, jangan rusak dengan acara laparmu..”
“Aku rasa untuk pertama kalinya setelah seminggu aku merasakan lapar..”
Bae soo melepaskan rangkulannya, menarik kedua lenganku, “kau tidak makan dengan benar selama seminggu ini?”
“Aku merasa tidak lapar..jadi buat apa aku makan?”
Bae soo berdiri dengan tiba-tiba dan masih menarik lenganku, kemudian dia melangkahkan kaki panjangnya, “kau harus segera makan... ayo!!”
Dengan sisa tenaga yang kupunya aku mengikuti langkah bae soo dengan kewalahan. Aku tersenyum, mungkin rasa laparku muncul karena aku merasa lega. lega mengetahui bae soo masih hidup dan aku masih bisa bertemu dengannya. Aku mengingat kejadian beberapa menit sebelumnya.. aku sendiri heran mengapa aku menangis seperti orang gila, aku berusaha mengontrolnya tapi... semua air mata dan kata-kata marah keluar dari mulutku yang lebih terdengar seperti teriakan khawatir cukup membuat diriku sendiri terkejut. aku tidak pernah begini, tidak sampai hari ini.. aku lebih merasa seperti manusia sekarang.
“Kau mau makan apa yoora~ah?”
“Ramyun..”
“kau harus makan nasi..”
“Oke...”
Bae soo masih memegang tangannku menyeberang jalan menuju sebuah kedai bibimbap. aku masih dengan kerepotan mengikuti langkahnya dibelakangnya, memandang punggung bidangnya dari belakang. kami masuk ke kedai, duduk di sebuah meja kemudian memesan dua porsi bibimbap dan dua porsi milkshake. kombinasi makanan dan minuman yang buruk untuk cuaca seoul saat ini.
“Apa rencanamu setelah ini?” aku memasang wajah serius
“aku tak tahu.. ada ide?” jawabnya sambil memasukkan sedotan milkshake ke mulutnya
“kau tidak mau jadi aktor lagi?”
“percayalah.. aku masih mau.. jika aku masih diterima.. hahahaha..” dia tertawa terbahak-bahak..
“kau sudah coba melamar ke home production?”
“sudah...”
“dan..?”
“hasilnya nol.”
“alasannya?”
“mereka tidak mau mengambil resiko rugi dramanya tidak laku akibat aku bermain di dalamnya..hahahaha..”
Aku menghela nafas berat. “oke.. aku akan membantu mencari pekerjaan untukmu..”
“hei, kenchana.. aku baik-baik saja..” dia tersenyum mengusap poniku
“kita harus segera mencari perusahaan yang mau menerimamu..”
“ya.. aku pikir begitu.. lagipula uangku sudah habis untuk pergi ke Canada kemarin..”
Kami berdua melamun sambil menikmati minuman kami.
Aku melotot ke arahnya, “sekarang? kau tinggal dimana?”
“aku sedang dalam usaha memikirnya.” dia tertawa ringan
“hei.. ini serius! kau belum punya tempat tinggal?”
“ya dari kemarin aku tidur di sauna umum.” dia meringis
“aigoo.. kau sedang dalam masalah berat..”
“biarkan aku menginap di rumahmu.”
aku tersedak, melongo.
“Hei.. aku tidak akan melakukan hal itu lagi padamu... seperti yang di jeju..” dia mengedipkan mata kirinya jahil.
Aku menyedot milkshake ku dengan gugup.
“ayolah.. hanya sampai aku mendapat pekerjaan..”
Aku memandangnya kasihan, ini juga karena kesalahanku.. oke..
“oke, mana barang-barangmu?”
“ini..” bae soo mengangkat tas kecilnya yang terbuat dari kulit asli. kupikir hanya itulah satu-satu barang mahal yang dimilikinya saat ini.
Aku menghela nafas.. “oke..”
dan sudah kusadari, dia menciumku.. APA???!! DIA MENCIUMKU!! TEPAT DI BIBIRKU!!!!
Aku tercengang. mengumpulkan nyawa, aku melihatnya tersenyum
“kau..kau.. men..ciumku..” kataku gugup
“itu ciuman terima kasih.. orang amerika biasa melakukannya.”
“yaaa bae soo~aaah!!! kau pikir aku bodohhhh???!!” aku berteriak
“hahahahaha.. aku jujur yoora~ah.. jangan-jangan kau menganggapnya beda?” dia tertawa terbahak-bahak
Aku berdiri berjalan cepat keluar kedai, wajahku memanas. aku bisa mendengar bae soo berteriak memanggilku sambil mengejarku. sekali lagi aku dibuat tak berdaya dengan perlakuan ajaibnya.. tapi aku..menyukainya.. aku tersenyum tersipu-sipu.
ost: teen top-angel
***
“oppa.. bisakah kau memperkerjakan bae soo lagi?”
“bae soo~ah? dia hidup?” oppa terlihat kaget
“iya.. berita itu salah.. dia masih hidup..”
“syukurlah..” oppa kembali memasang wajah tenang
“oppa... maafkanlah dia.. aku mohon..” aku membungkuk 90 derajat memohon
“yoora~ah.. tidak seharusnya kau berbuat sejauh ini untuknya..”
“Oppa.. aku hanya merasa bersalah.. aku ingin menebus kesalahanku.. hanya itu.”
“hanya itu?”
Aku memandang oppa. aku tidak mungkin bilang padanya aku mencintai bae soo. oppa tidak akan mau menerima bae soo lagi.”
“kau tidak mencintainya?”
Aku menunduk, “aniyo..” jawabku pelan
“oke, kalau begitu, aku akan memikirkannya lagi. nanti akan kukabari lagi keputusanku.”
Aku mendongak menatap oppa. “gomawo oppa!!”
“Aku belum bilang mau menerimanya lagi.”
“aniyo.. gomawo sudah mau memikirkannya lagi.. aku merasa sedikit tenang..”
Oppa tersenyum datar.
***
“Bae soo oppa masih hiduppp???!!!!” mata minkyung bersinar menatapku
“jangan berlebihan..”
“kupikir kau juga berlebihan ketika mengetahui bahwa dia masih hidup..” minkyung mengerutkan bibirnya.
Aku tersedak. apakah aku berlebihan? menangis dan bilang bahwa... hmm.. tidak.. aku tidak berlebihan! aku masih dalam batas kewajaran.. ya.. benar!
“hei yoora~ah.. hati-hati, kau bisa mati gara-gara tersedak.”
“diamlah minkyung, kau...” kata-kataku terputus ketika aku melihat bae soo sedang duduk di dalam sebuah café.. dengan oppa..
“weyoo yoora~ah? hahh..?? bae soo oppa? dan woobin oppa? sedang apa mereka disini?”
“andai aku tahu minkyung~ah..” jawabku pelan sambil berjalan mengendap-endap masuk ke dalam café,
“bagaimana kabarmu?”
“aku baik, hyung..”
“kau tinggal dimana sekarang?”
“rumah temanku..”
“...”
“hyung, aku minta maaf sudah membuatmu kesal dengan semua perbuatan bodohku..”
“hmm... kau menyukai yoora~ah?”
Aku bisa melihat bae soo terkejut dengan pertanyaan oppa. begitu pula denganku.. pikiranku sudah mulai berpikir kemana-mana.. jangan sampai bae soo menjawab.. em.. tapi apakah bae soo menyukaiku? aku mengerutkan dahiku.. kupikir tidak..
“Ya Yoora~ah.. menurutmu, bae soo akan menjawab apa?” minkyung berbisik padaku
Aku berjalan keluar dari tempat persembunyianku, aku mendengar minkyung memanggilku dengan suara berbisik. aku harus menghentikan sebelum bae soo melakukan hal bodoh lagi.
“hai oppa.. baesoo~ah.. kebetulan sekali kita bertemu disini..bolehkah aku duduk disini? terlalu menyedihkan ketika tidak mempunyai teman duduk di tempat umum seperti ini..” aku terus berbicara sambil duduk di kursi samping bae soo.
mereka berdua terlihat kaget dengan kedatanganku.
“kalian sedang membicarakan apa?”
“tidak..” bae soo menjawab gugup
“aku bertanya padanya apakah dia menyukaimu.” oppa menatap tajam bae soo.
bae soo tercengang, tidak menyangka oppa akan mengatakannya di depanku
“lalu kau jawab apa bae soo~ah?”
“Aku belum menjawabnya..”
“yaaa.. kau bodoh sekali.. jawablah tidak! kita memang tidak ada apa-apa kan?? hahahahahahaha...” aku mengayunkan tanganku ke kepalanya sambil tertawa meringis.
Bae soo menatapku tajam, “apa?”
“apanya?” aku memberi kode lewat mataku agar tidak memprotes kata-kataku lagi di depan oppa.
Dia menangkap kode, raut wajahnya berubah tenang. “ya hyung.. kami tidak ada apa-apa..”
“hmm.. oke...” oppa berdiri dari kursinya, “mulai besok kembalilah bekerja.” kemudian berbalik meninggalkan meja kami
Aku tercengang, “gomawo oppaa!!!!” aku tersenyum lebar
“kau tidak perlu melakukan ini padaku..”
“hei... yang penting kan kau sudah dapat pekerjaan sekarang..”
“agar aku bisa keluar dari rumahmu? baru kemarin aku pindah ke rumahmu.. kau kejam sekali..” dia meminum kopinya tanpa memandangku
“hah?” aku tertegun. “hahaha.. tidak baik kalau wanita dan laki-laki tanpa hubungan apa-apa hidup seatap..” jawabku sambil maih tertawa
“Dan memaksaku agar mengaku kita tidak ada apa-apa?” bae soo berdiri, berjalan meninggalkanku
Aku tertegun, otakku sedang berusaha mencerna kata-kata bae soo barusan.. aku merasa ada yang salah dengan otakku saat ini, karena sekarang aku tidak bisa mendapat jawabannya...
***
ost: teen top-no more perfume on you
“Kupikir bae soo menyukaimu. apakah kau juga menyukainya?” minkyung memasukkan pai nya ke mulutnya
“jawaban itu tidak akan berguna sekarang..”
“yah.. kupikir begitu.. bae soo sudah mulai bekerja di perusahaan oppa.. dan kau sudah berjanji kepada oppa.. akan menjauhi bae soo..”
“yah..begitulah..”
“kau nyaman dengan kondisi begini?”
“aku harus beradaptasi.”
“dan sejauh ini?”
“Aku masih bisa. demi bae soo.”
“hutangmu sudah lunas?”
“hutang?” aku memandang minkyung heran.
“Kau bilang kau harus menebus kesalahanmu pada bae soo. sekarang sudah impas?”
Aku menunduk lemas. “ya.. kami impas..”
“kau terlihat tertekan yoora~ah..”
Dengan rakus aku menyuapkan potongan pai besar ke mulutku.
“Kupikir sebentar lagi kau akan tersedak”
“uhukk.. uhukk...” aku terbatuk dengan posisi mulut penuh, minkyung menyerahkan segelas air putihnya kepadaku sambil menggeleng-geleng kasihan.
***
17
“annyeong.. ada apa yoora~ah?”
“MINKYUNG~AHHH!!! OPPA MENGAJAKKU BERTUNANGAN!!! APA YANG HARUS KULAKUKAN???!!!”
“APAAAA?????”
“OTTOKEEE?????!!!!! AKU PIKIR AKU GILA SEKARANG...!!”
“tenang-tenang.. kau dimana sekarang?”
“Aku di toilet perusahaan oppa. aku tidak bisa bergerak saking shock nya..”
“oke.. tunggu aku disana..”
“cepatlah atau kau akan menemukanku menjadi mayat.”
“jangan mati dulu!!” minkyung berteriak panik
ceklek. tut tut
***
“tarik nafas.. ceritakan.. asal mula oppa melamarmu..”
“tunangan minkyung~ah.. bukan menikah..”
“Ya.. itu maksudku.. lagipula apa bedanya? tunangan juga akan menikah pada akhirnya kan?”
“jangan memperburuk suasana hatiku.. aku sedang terpuruk saat ini..”
“oke..oke mianhe.. sekarang ceritakan..”
“malam itu oppa meneleponku mengajakku bertemu di sebuah restoran perancis..”
“hmm..” minkyung menyimak dengan serius
“ketika kami sampai disana, kami duduk di sebuah meja, ada lilin di atasnya.. kami menunggu makanan kami.. sampai ketika seorang pelayan datang membawa sebuah nampan dengan tutup, kupikir makanan kami sudah datang..”
“hmm.. lanjutkan..”
“Ketika tutup dibuka, bukan makanan yang Nampak, tapi sebuket mawar merah, dan sebuah kotak kecil biru tua berbahan beludru..”
“dan..” minkyung terlihat ikut tegang
“Aku tidak melamarmu..aku hanya mengajakmu bertunangan..untuk saat ini..” maukah kau..? itu kata-kata oppa sambil membuka kotak kecil mengerikan itu..”
“oh Tuhan...” minkyung menahan nafas
“semua orang di situ bertepuk tangan.. dan aku tidak tau harus menjawab apa.. aku tidak ingin menolak oppa di depan banyak orang seperti itu. pukulan telak yang sangat akan memalukan dan menghina oppa..”
“Aku mengangguk..”
“OH TUHAN!!! KAU GILA!!”
“ya.. aku memang sudah gila.. sekarang aku butuh rehabilitasi..”
“YOORA~AH!!!”
“Jangan membentakku.. aku sudah cukup terpukul dengan kebodohanku sendiri..”
“oke.. mianhe.. sekarang.. apa yang akan kau lakukan?”
“aku tidak tahu..”
“apa..bae soo tahu hal ini?”
“belum.. sebentar lagi mungkin... ottoke...?”
“belum terlambat membatalkannya.. katakan malam ini juga pada oppa!!”
“aku akan menyakitinya..”
“mau tak mau kau akan menyakitinya.. lebih baik menyakitinya sekarang dibanding nanti ketika kalian menikah? apakah kau akan tega menunggu menyakitinya ketika saat itu tiba?”
“aniyo...”
“sekarang hubungi oppa, temuilah dia, kau harus memutuskannya sekarang sebelum semuanya tahu...”
“ya..”
***
Aku berjalan menuju ruangan oppa. aku masuk ke dalamnya, oppa sedang duduk di mejanya,
“oppa..”
“ah yoora~ah.. ada apa? kau rindu padaku?” oppa berdiri menghampiriku
Aku semakin gugup dan ketakutan, ”aku..”
tok tok terdengar suara pintu diketuk
“masuklah..”
“ah hyung.. aku ingin berbicara..” bae soo terlihat terkejut melihatku
“ada apa? duduklah bae soo~ah.. oh ya.. aku ingin memberitahumu..”
tidak..oppa.. jangan.. jangan sekarang... suaraku tercekat
Bae soo masuk menghampiri kami, “apa hyung?” dia terlihat bingung
“aku dan yoora~ah telah bertunangan. aku ingin membuat pestanya.. bisakah kau mengaturnya?”
dan kurasakan detak jantungku berhenti.
Raut muka bae soo terkejut, sangat terkejut.
“kenapa bae soo~ah? kau tidak mengiranya? hhahaha..” oppa tertawa merangkul pundakku yang terasa beku
Bae soo mengubah ekspresi mukanya kembali terkontrol. dia menghampiri kami, mengulurkan tangannya pada oppa, tersenyum
“chukae hyung.. kau akan segera menikah..aku ikut senang..” oppa menyambutnya dengan senyuman lebar
Aku tersentak.
Kemudian bae soo mengalihkan pandangannya padaku, menghampiriku, mengulurkan tangannya padaku, memandangku tajam, dan tersenyum sinis
“chukae yoora~ah.. kau akan segera menjadi kakak iparku.”
Aku terhenyak dengan perkataan bae soo dan ekspresinya yang seperti menusukku. kenapa bae soo harus datang pada saat yang tidak tepat? aku merasa ingin mengubur diri sekarang..
***
ost: ost my lovely kim sam soon-she is
Bae soo pasti membencinya sekarang, menganggapnya hina. Setelah tangisanku saat bertemu dengannya yang menandakan aku begitu peduli padanya, aku sekarang bertunangan dengan orang lain. tapi.. apakah dia mencintaiku? apa maksud perkataannya padaku saat itu?
“Dan memaksaku agar mengaku kita tidak ada apa-apa?”
Aku masih belum mendapatkan jawaban dari perkataan misterius bae soo itu.. minkyung pun juga masih belum bisa memberi pendapatnya atas perkataan itu. bagi minkyung, perkataan bae soo masih bias.. fifty-fifty antara dia menyukaiku atau tidak.
“lagipula pernahkah kalian saling mengakui bahwa kalian saling mencintai?”
“tidak..”
“kalau begitu, buntu..”
Aku menghela nafas. besok pesta pertunanganku dan oppa dilaksanakan. hari ini kami akan melakukan gladi resik acara besok. andai bisa aku ingin kabur. tapi itu akan mengorbankan kehormatan oppa. Aku masih belum memiliki keberanian sekejam itu sampai saat ini. mengurung diri di kamar beberapa hari membuatku berpikir sudut pandang berbeda. mungkin bae soo tidak mencintaiku. lagipula dia bukan laki-laki yang baik. aku mengingat-ingat lagi, oppa tidak pernah menyakitiku seperti bae soo menyakitiku sejak dulu.
“tidak semua yang kita pikir baik akan pasti baik bagi kita..”
Aku ingat perkataan umma sebelum umma jatuh sakit dan meninggal. mungkin jika umma masih hidup, dia akan lebih menyukai oppa dibanding bae soo untuk menjadi menantunya. oppa lelaki matang, mapan, baik, dan... yah.. mungkin aku bisa bahagia bersamanya, masalah perasaan, aku akan belajar mencintainya dan melupakan bae soo. ya.. inilah keputusanku!! aku mengumpulkan semangatku..
Handphoneku berbunyi..
“Annyeong..”
“yoora~ah.. aku di depan rumahmu sekarang..”
‘ye oppa, aku keluar..”
***
ost: bigbang-blue
Aku menguap, tak kusangka gladi resik pesta pertunangan bisa membosankan seperti ini.. tak bisa kubayangkan besok pasti akan lebih membosankan dibanding sekarang.
“kemudian dipersilahkan agar lee woobin~ssi dan Jung Yoora~ssi diikuti para tamu undangan meminum teh sebagai tanda berakhirnya resepsi pertunangan ini.”
Apa tujuan kami harus minum teh bersama-sama? useless.. aku mengerutkan bibirku. tiba-tiba secangkir teh diletakkan di depanku dan sebuah kalung di tatakannya. aku mengambil kalung itu mengamatinya, sebuah simbol yang kukenal.. simbol hakuna matata.. sebuah simbol yang dipakai bangsa suku Swahili daerah pedalaman afrika yang berarti everything is gonna be okay, don’t worry..
aku tersenyum aku pernah melihat simbol ini di berbagai film, the lion king yang kutonton waktu kecil dan film two hundred pounds beauty.. sebuah film korea. pasti kalung dari oppa.. aku menengok ke arah oppa. oppa terlihat tenang meminum tehnya,
“oppa..”
Oppa memandangku, “ya kenapa yoora~ah?”
“Kau memberiku sebuah kalung?”
“ya, dreamcatcher.. oh apakah kau ingin kalung lain? yang lebih serius? hahahaha..” oppa tertawa
aku terhenyak, jadi ini bukan dari oppa.. lalu dari siapa? aku mengedarkan pandanganku ke segala arah mencari pelakunya. pandanganku berhenti pada bae soo. aku menangkapnya sedang menatapku tajam, memegang sebuah cangkir teh sambil tersenyum penuh arti. apakah.. kalung ini dari dia? aku menunjukkan raut heran, mengangkat sedikit tinggi kalung itu menunjukkan padanya, bae soo tersenyum sambil mengangguk.
Nafasku tercekat. apa maksudnya?
***
“Mungkin itu untuk hadiah pertunanganmu dengan woobin oppa..” minkyung terdengar tertawa di telepon
“tidak lucu.. harusnya dia memberiku perabot memasak saja agar aku tidak salah paham seperti ini...” jawabku setengah mabuk
“hahahaha.. sudahlah besok kau akan bertunangan.. pulanglah istirahat.. jangan berkeliaran berpesta lajang sendirian.. hahahahahahaha...”
ceklek. aku menutup teleponnya kesal.
“ahjumma... berikan aku 1 botol soju lagi.....” aku berteriak limbung. nada suaraku mulai tak karuan, kepalaku pusing, mataku memburam tapi aku masih memaksakan diri memesan sebotol soju lagi setelah menghabiskan 3 botol soju... aku meneguk langsun dari botolnya kemudian aku berhalusinasi.. melihat bae soo di depanku sedang memandangku tersenyum. sial... dia ada dimana-mana...
***
Mataku terbuka karena aku merasakan silau, aku membuka mataku pelan-pelan, berkedip-kedip mengumpulkan nyawa dan memori. ini dimana? aku melihat sekitarku sebuah ruangan bercat krem dengan tata ruang aneh. aku beranjak duduk sampai kusadari.. tak ada sehelai pun benang di tubuhku. aku terlonjak kaget, kepalaku terserang pusing luar biasa.
“kau sudah bangun?” sebuah suara laki-laki terdengar
dengan refleks aku menutupi tubuhku dengan selimut yang tadi kulemparkan sambil mencari sumber suara. aku melihat bae soo sedang memakai kaos dan celana jeans menghampiriku sambil membawa senampan sandwich dan susu. APAA????
“kau..apa yang kau lakukan disini?” tanyaku gugup
“aku? kau di apartemenku.” jawabnya tenang sambil tersenyum
“kita? ehm.. maksudku.. apa yang terjadi semalam?” aku bersiap mendengar hal terburuk
“kita?” dia tersenyum jahil
“ANIYOOO!!! TIDAAAKKK!!!!” aku berteriak keras
“tenang..”
“Sekarang jawablah!!! APA YANG TERJADI PADA KITA SEMALAM???!!!”
“kau yang memintanya..” dia menyodorkan sandwich kepadaku
Aku terserang kepanikan luar biasa seketika.
“APA MAKSUDMU???!!!”
“semalam aku melihatmu sedang mabuk. kau mengoceh..”
“apa yang ku katakan?!!”
“kau bilang aku bodoh, aku tidak peduli pada perasaanmu..”
Aku tercengang
“Kau bilang kau mencintaiku. kau marah ketika aku memberi ucapan selamat padamu atas pertunanganmu..” bae soo mengatakannya dengan tenang sambil menggigit sandwich yang seharusnya menjadi makan pagiku.
“kau bohong...”
“buat apa aku bohong?” bae soo mendekatkan wajahnya padaku menatapku tajam.
“dan semalam... kita melakukan apa?”
“kupikir kita sama-sama tahu jawabannya..” dia tersenyum lebar
Aku menunduk shock.. aku tidak pernah melakukannya.. aku masih virgin.. tidak!!! dia pasti bohong!!! aku tidak merasakan apapun.. jika itu terjadi.. kenapa aku tidka menyadarinya? jiwaku terguncang keras.
“kau tidak bersiap-siap ke acara pertunanganmu?”
Aku mendongak kaget
“sekarang jam 10 pagi. kupikir pestanya akan mulai dua jam lagi..”
Aku tercengang.. hari ini pertunanganku!!
“dimana bajuku?”
“bajumu terkena muntahanmu semalam, jadi aku melepaskannya dari tubuhmu dan memasukkannya ke mesin cuci, lalu kita....”
“STOPPP!!! AKU TIDAK MAU MENDENGARNYA!!!” aku menutup kedua telinga dengan kedua tanganku.
“hahahaha.. oke.. kau pakailah pakaianku. kaos dan jeans. mau tidak mau hanya itulah yang ada..”
Aku berdiri memunggunginya membelit tubuhku dengan selimut, benar-benar kesal dan marah. aku tidak tahu aku harus melakukan apa sekarang.. aku berbalik dan melihatnya sedang memandangku sambil tersenyum. aku mendengus kesal. berjalan menuju lemarinya.
“di laci nomor 3 dari atas.” dia berteriak dengan masih duduk di atas ranjang sambil meminum susu yang juga seharusnya jadi makan pagiku.
Aku mengambilnya dengan gusar. kemudian pergi ke kamar mandi dan segera memakai baju. aku memeriksa organ vitalku. aku tidak merasakan ada yang aneh dengannya. tidak terasa sakit atau terasa aneh apapun.. aku tersadar aku harus segera pulang ke rumah sebelum oppa mengetahui aku tidak pulang semalam dan menginap di sini bersama laki-laki itu!!! Aku keluar kamar mandi, mencari sepatuku.
“yoora~ah..” jaga baik-baik kalung itu.”
Aku menengok ke arahnya, memandangnya heran
“hakuna matata. no problem, semuanya akan baik-baik saja..” dia tersenyum
“kupikir semuanya tidak akan menjadi baik-baik saja setelah apa yang terjadi semalam...”
“kau masih bisa berubah pikiran..”
“apa maksudmu?”
“jangan datang ke pesta pertunangan itu..”
Aku memandangnya kaget
“jangan pergi..” bae soo memandangku dengan tatapan aneh.
ost: teen top-to you (slow ver)
***
18
Inilah akhirnya... seharusnya saat ini aku duduk di samping oppa di hadapan para tamu undangan.. tapi apa yang kulakukan? kurasa aku sudah menderita kerusakan otak kronis. aku dalam mobil bersama bae soo...
“Kau ingin kita kemana?” tanyanya sambil mengemudi
“ketempat jauh.. dimana tidak ada yang akan menemukan kita.. aku terlalu takut dan malu untuk bertemu oppa lagi..”
Bae soo tersenyum, “maaf aku merebutmu dari hyung.”
Aku menghela nafas, “kukira disini bukan hanya kau yang bersalah.. aku seharusnya lebih dulu membatalkan pertunangan itu sebelum kau datang saat itu di ruangan oppa.”
Bae soo memandangku heran. “maksudmu dari awal kau memang tak ingin bertunangan dengan hyung?”
“Menurutmu?”
“hahaha.. aku tau.. kau hanya mencintaiku..”
Aku memandangnya terkejut, “sejak kapan kau tau?”
“sejak kau menangis di depanku.”
Aku menghela nafas panjang, “dan sekarang kau pasti akan menertawakanku.”
“tidak, aku kan juga sudah menunjukkannya padamu..”
“hah? tentang apa?”
“kalau aku mencintaimu.” bae soo tidak menatapku, dia menatap lurus jalan
Aku memandangnya, “kau mencintaiku?”
“kau bukan tipe orang yang peka yoora~ah.. kau berbeda dengan gadis-gadis pada umumnya..hahahaha..”
“Aku hanya tidak ingin berharap.”
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak ingin terluka.”
tiba-tiba bae soo membelokkan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan.
“Kenapa bae soo~ah? kenapa kita berhenti disini?”
Bae soo memandangku, “aku tidak pernah berusaha melukaimu.”
Aku menatapnya heran, “tapi kau.. dulu..”
“Maaf. aku menyakitimu dulu. tapi sejak aku melihatmu menangis begitu parahnya, aku merasa tertampar.. dan sejak saat itu aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi.”
Aku menatapnya sedih, air mataku meleleh.
“percayalah padaku mulai saat ini..”
Aku mengangguk pelan, bae soo menangkupkan tangannya ke wajahku dan menciumku.. saat itu aku hanya merasa tubuhku lebih ringan dari sebelumnya.
***
“apa hyung menghubungimu?” bae soo menatapku
“aku mematikan handphone ku. cukup menyakitkan melihat oppa terus-menerus menghubungiku.” aku memandang langit pantai sore itu
“apakah kau mau menjelaskan padanya?”
“jangan sekarang.. menurutku oppa tidak akan membiarkan kita hidup-hidup jika kita menemuinya sekarang.” jawabku datar
“apa kau baik-baik saja?”
“kau sendiri?’
“aku merasa sedang menjadi buronan... hahahaha” bae soo tertawa terbahak-bahak
“menyenangkan...” aku tersenyum
Bae soo memandangku bingung
“Menyenangkan menjadi buronan bersamamu.”
“hahahahahaha... menurutmu apakah hyung pasti tau kalau kau kabur denganku?”
“aku pikir ya.. dia tau.”
“berarti untuk sementara waktu kita bersembunyi dulu, anggap saja kita sedang menjalani long vacation..”
“hah?”
“kau tak mau? berarti anggap saja kita sedang honeymoon..”
“hah??? bukankah kita sudah mengambil malam pertamaku..” aku menunduk lemas
“kau benar-benar mengira aku telah mengambilnya?”
Aku menengok seketika, “kau tidak mengambilnya?”
“aku buka pria macam itu..”
“tapi kau melakukannya dengan soo eun..”
“itu...”
“lupakan...” aku menunduk sedih..”
“kau kecewa?”
“ya..”
“haruskah kita melakukannya?”
Aku melototinya, bae soo sedang tersenyum jahil
“yoora~ah.. sebenarnya saat itu aku dan soo eun tidak melakukannya. kami hanya.. ehm.. yah.. semacam itu tapi kami tidak sampai melakukannya..”
Aku menatapnya tidak percaya
“apa kau melihat rekaman video itu sampai akhir?”
“aniyo..”
“kenapa?”
“aku jijik..”
“kau cemburu.”
“apa?? aku jijik melihat kalian berdua bergerumul tanpa pakaian..dan..”
“aku masih memakai celana jeans ku! kutekankan itu..”
“ah.. sama saja bagiku.. kalian.. pasangan tolol yang dengan ceroboh merekam perbuatan bodoh kalian dan lalu tersebar..” aku menyeringai
“kau cemburu.. aku bisa merasakannya..”
“kau terlalu percaya diri..”
“terimakasih..”
“kau mau aku kembali ke oppa sekarang??” aku mulai kesal dengan perdebatan tidak penting ini..
“silahkan.. biasanya taksi jarang lewat sini, jadi kau harus jalan..”
“oke!!!” aku berdiri berjalan dengan kesal
“hati-hati.. biasanya banyak penjahat berkeliaran mencari mangsa wanita yang sedang sendirian.. kau bisa dirampok, diperkosa, atau dibunuh...”
“STOPPP!!! KAU MENYEBALKAN SEKALI!!!” aku berteriak sambil mempercepat langkahku.
Aku menyusuri jalan sendirian, hari mulai gelap. karena ini pantai, jarang sekali mobil lewat, aku mulai menggigil kedinginan. sial.. aku harus berseteru dengan bae soo. dan dia... baru beberapa jam yang lalu dia menciumku membuatku percaya padanya, sekarang membiarkanku terlantar seperti ini... laki-laki memang...
“hai cantik.. sedang butuh tumpangan?”
Aku menengok ke arah suara, seorang laki-laki mengendarai sebuah mobil
“ya..”
“bolehkah aku mengantarmu?”
“gomawo..” aku masuk ke dalam mobilnya
Mungkin aku bodoh menerima ajakan laki-laki asing, tapi lebih baik daripada aku terus berjalan berkilo-kilometer sampai aku menemukan taksi.
“kau darimana nona? mengapa sendirian?”
“mobilku mogok, jadi aku harus berjalan mencari bengkel.”
“oh... kau ingin kemana?”
“seoul.”
“seoul jauh dari sini nona..terlalu larut jika melakukan perjalanan sekarang. aku punya penginapan murah. menginaplah di sana, besok baru kuantar ke seoul. aku tidak menjawab. kemudian mobil kami segera berjalan, lelaki itu berumuran sekitar 30an tahun, memakai kaos dan jeans belel, bercambang seperti tak pernah merawat penampilan. aku mulai khawatir..
“ahjussi, kita dimana?”
“kan sudah kubilang penginapan..”
“itu bukan penginapan.. itu.. rumah..pelacuran..”
TIDAK...
“di dalamnya penginapan nona.. ayo keluarlah..” lelaki itu mencengkeram lenganku
“tidak!! kau menipuku lelaki sialan!!!” aku meronta-ronta namun sia-sia, kekuatan lelaki itu berkali-kali lipat lebih besar dibanding kekuatanku. aku benar-benar ketakutan,
“500 ribu won..”
“terlalu murah.. lihatlah gadis ini.. terawat dan liar hahahaha...”
aku tercengang.. aku dijual seharga 500 ribu won.. sial
“oke, 600 ribu won..”
“hahahaha.. deal..”
“lepaskan!!! aku bukan pelacur!!!”
Seorang lelaki berbadan kekar mencengkeram lenganku dan menarikku memasuki sebuah ruangan.
“Kau tunggu pelangganmu disini!!” suara menggelegar keluar dari mulut lelaki mengerikan itu.
Aku menangis. aku ketakutan. dimana bae soo.. apakah dia benar-benar tidak peduli padaku sekarang??
Beberapa menit kemudian, seorang wanita gemuk berdandanan menor yang kuketahui pemilik tempat pelacuran sialan ini masuk ke ruanganku,
“Ada yang menginginkanmu. keluarlah temani dia!!”
“TIDAKKK!!!”
tangan gempal wanita itu menncengkeram lenganku dengan kasar, menarikku keluar ruangan..
“tuan, ini yang anda mau? 300 ribu won semalam..”
“aku akan memberimu 500 ribu won..”
Aku masih menunduk ketakutan, aku ditawar 500 ribu won? ini adalah pengalaman terburuk yang pernah kualami... aku ingin menangis.
Wanita sialan itu melepaskan cengkeramannya kemudian kurasakan sebuah lengan merangkul pinggangku, aku terkesiap kemudian meronta-ronta.
“Bisakah kau berpura-pura tertarik padaku sekarang?”
Aku mendongak dengan kesal, aku tercengang. bae soo sedang menatapku tersenyum penuh kemenangan.
“bae soo?”
“sstt.. anggaplah kita sedang bermain drama.. lebih baik kita keluar dari sini..”
aku menutup mulutku, menurut dengan posisi lengan bae soo di pundakku. kemudian kami keluar dari tempat terkutuk itu dan segera memasuki mobil, kemudian bae soo segera menyalakan mobil dan memacu cepat meninggalkan area itu.
“kupikir nasibku akan tamat sampai disini..” aku menghela nafas
“sudah kubilang berbahaya wanita sendirian berjalan...”
“ingat.. kau yang menyuruhku pergi kan?”
“kau yang bilang akan kembali ke hyung.. aku tidak suka..”
“kau yang memulainya..”
“jangan sekali-kali kau melakukan itu lagi!!”
aku menengok bae soo. dalam keremangan aku melihat wajah bae soo terlihat marah.
“mianhe..” aku menunduk
“...”
Selama perjalanan kami terjebak dalam keheningan.
***
19
Aku membuka mataku, aku sudah berada di tempat berbeda lagi. terakhir kali aku hanya ingat aku masih di dalam mobil perjalanan ke seoul. bae soo benar-benar marah sehingga tidak ada yang keluar dari mulutnya selama perjalanan itu. sedangkan aku saking takutnya melihat bae soo seperti itu hanya bisa ikut diam juga. aku berada di ranjang, kali ini dengan pakaian lengkap. aku di apartement bae soo. aku mencari bae soo, kemudian kutemukan dia sedang tidur di sofa seberang ranjang. aku bangkit mendekatinya, duduk di karpetnya memandangnya lekat-lekat. Memandang bulu matanya yang lentik, terlalu lentik untuk ukuran laki-laki, mengamati hidungnya, kemudian bibirnya. aku tersenyum.. dia begitu mempesona sejak dulu masih SMA bahkan sampai sekarang.
Dia membuka matanya
Aku terlonjak, refleks berbalik duduk memunggunginya.
“apa yang ada di dalam pikiranmu?”
“apa maksudmu?”
“hahaha... biarkan aku menebaknya..” tangan bae soo sudah merangkulku dari belakang
Jantungku berdegup cepat. “bae soo..”
“panggil aku oppa..” aku bisa merasakan bisikan di telingaku menimbulkan sensasi aneh yang seketika membuat jantungku semakin tidak beraturan
“hah?”
“aku lebih tua darimu..”
“aku tidak mau..”
“kenapa?”
“sejak kau membuatku benci padamu aku berjanji tidak akan memanggilmu oppa.”
“saat ini kau masih membenciku?”
“ehm.. tidak..”
“kalau begitu panggil aku oppa..”
“...”
“yoora~ah..” aku bisa merasakan bibir bae soo menyentuh daun telingaku. wajahku semakin panas mendapat perlakuan provokatif itu
“katakan sayang..”
Aku merasakan bibir bae soo menyentuh leherku, “bae soo.. oppa..” akhirnya pertahananku runtuh juga
“ya?” bae soo masih menempelkan bibirnya di leherku
“aku....aku..”
“ya?” bibirnya masih menelusuri leherku
“aku ingin ke kamar kecil..”
kurasakan bibirnya sudah tidak menyentuh leherku lagi.
“hahahaha... pergilah.. jangan sampai kau mengompol disini..”
Aku segera bangun dengan gugup, kemudian berlari ke kamar kecilnya. aku termasuk sangat pemula dalam hal seperti ini. aku benar-benar tidak berdaya. aku mengunci diri di dalam kamar kecil selama beberapa menit
“yoora~ah.. apakah kau konstipasi?”
“aniyo..”
“keluarlah..”
“tunggu sebentar lagi..”
“aku tidak akan melakukannya lagi.. keluarlah..”
ceklek
Aku membuka pintu dengan gugup. di depan pintu bae soo sudah berdiri bersandar di tembok sambil tersenyum jahil
“kau cute sekali ketika gugup yoora~ah..”
“Yaaa bae soo~ahh!!”
Tiba-tiba bae soo mendorongku ke tembok
“Aku sudah bilang, panggil aku oppa..”
“Aku.. tidak terbiasa..”
“kalau kau masih memanggilku tanpa panggilan oppa.. kujamin.. seluruh permukaan kulitmu akan merasakan sentuhan bibirku.” bae soo mendekatkan bibirnya ke telingaku berbisik pelan
Aku hanya bisa mematung, lemas. “ye.. oppa..”
“bagus...” bae soo mencium lembut pipi kiriku
ost: teen top-crazy
ting tong
Kami berdua terkesiap, dalam waktu yang bersamaan memandang ke arah pintu.
“siapa itu?”
“kita akan segera mengetahuinya..” bae soo menghampiri pintu. kali ini apartement nya tidak meiliki cctv seperti halnya apartement lamanya.
ceklek
“annyeong, anda kim bae soo?”
“ye..” aku mengintip dari sela-sela punggung bae soo.
“anda ditangkap dengan tuduhan membawa pergi seorang wanita tanpa hak..”
“maaf.. apa?”
Aku dan bae soo sama-sama terkejut
“ini surat penangkapannya, pelapor adalah tuan lee woo bin. sekarang silahkan anda ikut saya ke kantor, anda bisa memberi keterangan di sana..”
bae soo menengokku, wajahnya terlihat datar, kemudian tersenyum.
“aku akan segera kembali..” katanya sambil berjalan pergi
“apa yang kau katakan bae soo~ah!!” aku marah melihatnya menyerahkan diri tanpa melawan seperti itu
“kau sudah berjanji akan memanggilku oppa.. kau tahu hukumannya..”
“aku tidak peduli!!” aku mengejar bae soo yang sekarang diapit oleh dua orang lelaki tegap yang kami sama-sama tau adalah polisi.
Aku menangis terus mengejarnya walaupun aku tau itu tidak akan berguna.
***
“Oppa..”
“Aku tidak akan mencabut laporanku”
“aku mencintainya!!!” aku berteriak
Oppa memandangku kaget, “mengapa kau menerima lamaranku?”
“Karena saat itu aku takut oppa akan memecat bae soo jika aku mengatakan hal yang sebenarnya.”
“kau tahu seberapa besar aku menanggung malu akibat perbuatan kalian?”
“maaf oppa...” aku menangis tersedu-sedu.
“pergilah..”
“oppa...”
Oppa menatapku tajam beberapa menit, memandangku menangis.
“aku akan menawarkan kesepakatan terakhir.”
Aku mendongak menatap oppa masih dengan mata sembab
“aku akan mencabut laporanku, menganggap semua tidak pernah terjadi, jika kau...”
Aku menunggu lanjutan kata-kata oppa
“mau menikah denganku.”
Aku terbelalak. “Oppa akan menyesal menawarkan hal ini padaku..”
“mengapa?”
“Oppa tahu aku mencintai bae soo, tapi oppa masih ingin memaksakan hal ini padaku. pada akhirnya oppa akan menyesali hal ini.”
Tiba-tiba oppa menghampiriku dan mencengkeram lenganku, wajahnya terlihat mengerikan
“Aku tidak akan menyerahkanmu padanya.” suaranya terdengar rendah namun mengerikan.
Aku menangis, aku baru menyadari bahwa oppa ternyata begitu mengerikan.
***
ost: Leessang ftTOP
20
“Minkyung~ah.. apa yang harus kulakukan? aku benar-benar ingin mati rasanya..”
“yoora~ah...” minkyung menatapku kasihan
“bae soo oppa masih ditahan?”
“ya..”
“kupikir kau harus tegas segera mengambil langkah!”
Aku menatap bingung
“cari pengacara...!!”
“aku tak punya uang..”
“serahkan padaku...!!”
Aku masih menatap heran ke minkyung. Apa yang sahabatku ini rencanakan?
***
“hei minkyung~aahh!! jangan bercanda!! sejak kapan kau menjadi pengacara???!!!”
“sejak aku lulus ujian sertifikasi lawyer.. hehehe..”
“kau pasti bercanda!!”
“ini...” dia menyodorkan kartu lisensinya, dia tidak bercanda!!
“kapan kau ikut ujian? mengapa aku tak tahu?”
“kau terlalu sibuk mengurusi kisah cintamu..”
“tunggu bukannya kau kerja jadi sekretaris di sebuah firma hukum?”
“membosankan.. aku ingin sesuatu yang lebih menantang.. hahahahaha..”
“oke... kuserahkan semuanya padamu.. jika kau gagal.. akan kubunuh kau dengan tanganku sendiri...”
“hahahahahahahaha... siaappp!!!”
***
Bae soo terlihat kaget ketika siang itu aku bersama mikyung, sebagai pengacaranya yang tidak diduga datang mengunjunginya di sel.
“kau pengacaraku?” bae soo terlihat takjub kemudian tersenyum
“percayalah aku juga tidak percaya..” aku mendengus
“terserah jika kalian tidak percaya padaku, kita lihat saja nanti..”
Bae soo tersenyum memandangku. “apa kau makan banyak?”
“iya, aku makan daun pintu dan ranjangmu.” aku memberengut
“kau kesepian tanpaku?” bae soo tersenyum jahil, cukup terlihat bahagia untuk seorang tahanan.. aku mengerutkan bibirku lagi
“mengapa kau tidak terlihat khawatir bae soo oppa?” minkyung menatapnya heran
“mengapa harus? aku merasa itu tidak perlu dilakukan disini.. disini tidak terlalu buruk.”
“Bae soo~aahh!!” aku berteriak
“sudah dua kali kau melanggar janjimu. saat aku keluar nanti kau akan mendapat hukuman yang setimpal yoora~ah..”
Bulu kudukku berdiri mendengar ancaman bae soo yang lebih terdengar seperti tantangan sensual.
“Apa yang kalian bicarakan?” minkyung memandang kami heran
Bae soo hanya tersenyum jahil, sementara wajahku memerah.
***
Persidangan pertama, jaksa mendakwa bae soo dengan hukuman 3 tahun penjara. minkyung yang berdiri di pihak bae soo membacakan surat pembelaannya dengan penuh percaya diri, sangat sulit dipercaya minkyung benar-benar berkompeten menjadi seorang pengacara. aku tak berhenti-berhentinya menatap takjub ke arahnya selama dia beraksi di persidangan.
Persidangan kedua, jaksa dan minkyung mendatangkan saksi-saksi. aku tahu kubu kami sedikit terlalu lemah karena saksi-saksi yang kami ajukan tidak terlalu mendukung pembelaan kami. aku hanya bisa menghela nafas berat..
“Bae soo~ahh.. bagaimana kalau kau masih harus dipenjara?”
“maka aku akan menjalaninya..”
“tapi... aku..”
“bertahanlah sampai aku bebas nanti yoora~ah..”
Aku menangis. “mengapa ini harus terjadi pada kita...?”
“suatu saat kita akan mengetahui jawabannya.. anggaplah ini sebuah long vacation.. ingat? oh ya.. dan kalung itu.. hakuna matata..” dia tersenyum
Aku memeluknya sambil masih menangis
***
Persidangan selesai. bae soo dihukum penjara 5 bulan atau membayar kompensasi 100 juta won. putusan hakim memang lebih rendah jauh dari tuntutan jaksa yang menuntut bae soo dengan tuntutan 3 tahun penjara. kami tidak memiliki uang 100 juta won, maka kami tidak punya pilihan lain selain menjalani masa 5 bulan penjara bae soo. aku melepas bae soo dengan tangisan.
“long vacation.. ingat?”
“oppa.. bae soo oppa...!!”
Dia terkesiap mendengarku memanggilnya oppa. kemudian tersenyum memelukku mengecup dahiku lembut. dan dia pergi..
“mianhee yoora~ah.. aku sudah berusaha sekuat tenaga..”
Sambil terisak-isak aku memeluk minkyung. “kenchana minkyung~ah.. gomawo.. kau sudah membantu kami sampai akhir..”
Kudengar Minkyung ikut menangis bersamaku.
ost: kim tae woo-off rain
***
Seminggu sudah bae soo oppa menjalani masa tahanannya. setiap hari aku mengunjunginya, membawakannya makanan dan mengobrol beberapa menit dengannya. berita bae soo oppa dipenjara sudah menyebar seperti sekumpulan lebah.
“kau masih tinggal di apartement nya?”
“iya..”
“kapan terakhir kali kau mengunjunginya?”
“kemarin..” aku menjawab pelan
“hmm... kau rindu padanya?”
Aku mengangguk pelan..”
“bagaimana kalau tiba-tiba dia pulang ke apartementnya dan menemuimu?
“Aku akan menukar separuh hidupku untuknya.”
“hahahahaha.. kau pasti gila... sangat berlebihan..”
“kau tidak akan tau betapa seriusnya aku saat ini.” aku memandang kesal minkyung
“untuk orang yang sedang jatuh cinta? hmm.. kupikir kau serius.. hahahaha..”
Aku mendengus
“yoora~ah.. aku mau ke toilet sebentar..”
“okay..” jawabku sambil mengaduk makananku memainkan sendoknya
“nanti ketika kau pulang, aku akan selamanya memanggilmu oppa seperti permintaanmu...” aku berbicara sendiri sambil terus mengaduk
“oh ya?”
Secara refleks aku menengok ke arah suara yang sudah sangat kukenali itu.
“BAE SOO OPPA!!!” teriakku panik
“Bolehkah aku duduk bersamamu? sangat menyedihkan ketika orang melihatku duduk sendirian di tempat umum seperti ini..”
Aku masih tercengang menatapnya, “kau nyata kan?”
“Kau boleh menyentuhku jika kau mau..”
Aku berdiri menghampirinya, mengamatinya, “oppa..”
Aku berdiri menghampirinya, mengamatinya, “oppa..”
Matanya terlihat memerah, setetes air mata mengalir di pipi
lembutnya, aku segera memeluknya,
“Oppa... aku merindukanmu..”
Tak ada suara yang keluar dari mulutnya, aku bisa mendengar
hembusan nafasnya yang menunjukkan betapa kerasnya dia menahan air matanya.
Kami tidak peduli lagi dimana kami, aku masih memeluknya erat,
seakan tak ingin dia lepas lagi.
ost: teen top-missing you
***
“tapi kenapa bisa begitu?” tanyaku sambil masih di posisi duduk di atas motornya begitu sampai depan apartemennya.
“minkyung datang padaku kemarin setelah kau pulang mengunjungiku. katanya dia mendapat kabar dari jaksa yang menangani perkaraku. katanya woobin hyung membayar kompensasiku.. 100 juta won..”
Aku terbelalak. “oppa? tapi kenapa..?”
“sudah kubilang kalung yang kuberikan padamu benar-benar ampuh..”
“hakuna matata...” aku menggumam pelan..
“dan semuanya memang baik-baik saja...”
“ye, Bae soo oppa..”
Dia memandangku tersenyum. “kau menepati janjimu..”
“iya..” aku tersenyum lebar
“Sekarang aku ingin kau melanggar janjimu..”
“hah?”
“tidak.. sekarang aku siap menerima hukumanku..”
“tidak.. kau harus melanggarnya dulu..”
“aniyoo...” aku masih keras kepala
Bukannya segera masuk ke dalam apartemennya, kami malah berdebat di atas motor.
“lupakanlah..” bae soo mendengus, tanda bahwa dia sedang merajuk padaku. aku tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakannya
Aku meraih wajahnya kemudian menciumnya. dia terlihat kaget, kemudian aku menciumnya lagi. wajahnya masih terlihat bingung.
“jika kau menyukainya, tersenyumlah!” kataku sambil menyentuh hidungnya.
Dia tersenyum kemudian meraih wajahku dan menciumku malam itu...
***
ost: 4minute-creating love








.jpg)
.jpg)




a.jpg)
.jpg)























No comments:
Post a Comment